
Sambil menunggu makan malam, Afran mengajak Dokter Hisyam ke kamarnya. Ruang kamar yang tertata rapi dan bernuansa putih itu menambah kesan mewah pada kamar tersebut.
Hisyam melihat sebuah foto besar yang terpampang di atas meja belajar. Foto pernikahan Bundanya dengan papinya Afran.
"ini kamar Afran papi dokter.... Di sini tempatnya kak Ara... Dan di situ tempat Afran..." ucap Afran masih berada di gendongan Hisyam.
Hisyam menurunkan Afran dan berjalan menyentuh beberapa benda benda di situ.
"Nyaman... Seperti berada di rumah sendiri..." ucapnya lirih.
Ia mengamati semua benda dan ruangan kamar tersebut. Entahlah di hatinya merasa sudah mengenal tempat itu jauh sebelum dia datang ke sini. Ia melirik laci kecil yang terselip di meja belajar itu.
" seperti tempat tersembunyi" pikir Hisyam.
Ia pun mulai membuka laci tersebut. Namun nyatanya, laci tersebut tidak dapat di buka dengan mudah karena ada password di depannya.
"Ah..! Berhasil..!" teriak dokter Hisyam kegirangan setelah berhasil membuka kode laci tersebut.
"Hah...! Papi dokter bisa buka laci itu...!" hebaaat...! Afran aja nggak bisa..! " kata Afran senang.
"Afran...! Ayo sudah di tunggu bunda makan...!" kata Ara mengejutkan dokter Hisyam.
"Hei..! Apa yang anda lakukan..!" teriak Ara mendorong Dokter Hisyam dan menutup laci itu kembali.
"Anda di sini hanya tamu..! Jangan lancang membuka sesuatu yang bukan milik anda..!" ancam Ara dengan raut muka yang marah.
Dokter Hisyam yang kaget pun, mencoba menenangkan keadaan.
"Maaf... Tadi hanya penasaran, kenapa ada laci kecil di situ... Om dokter nggak berniat melihat isinya ataupun mengambil apapun... Hanya tertarik saja dengan ide kreatifnya.." jelas Dokter Hisyam.
" saya peringatkan ke anda.. Bukan karena saya lunak pada anda, Anda kira saya juga menyukai anda..! Anda salah besar..! Lebih baik anda segera pergi dari kamar ini..! " ucap Ara kesal.
" Kakak...! Kakak kasar sekali..! Afran tidak suka..!" kata Afran marah.
" Afran..! " bentak Ara.
" Sudah... Sudah... Ini salah om dokter.. Maaf ya Ara... Om dokter salah...! Kalau begitu om dokter permisi dulu... " kata dokter Hisyam.
Dokter Hisyam pun meraih Afran dan menggendongnya menuruni anak tangga.
Di lantai bawah semua sudah berkumpul di meja makan besar.
" kak Ara tadi kenapa teriak teriak?" tanya Oma Shinta.
__ADS_1
Belum sempat Afran menjawab, dokter Hisyam menimpalinya.
"mungkin tante yang salah denger... Ara hanya meminta kami untuk turun..." ucap Hisyam.
"owh... Tante kira dia tantrum lagi...!" jawab Oma.
"ayo duduk... Makan dulu..." kata Bu Shinta.
"iya tante..." jawab hisyam.
Dokter Hisyam pun bingung mau duduk dimana. Pasalnya yang tersisa hanya berada di samping kanan dan kiri dari ibu kedua anak itu. Akhirnya mau tidak mau ia pun duduk di sebelah kanan Sheena sambil memangku Afran.
"Afran, bisa duduk sendiri kan?" tanya Sheena.
"Afran mau makan sama papi dokter...bolehkan pi? Afran makannya gak cemang cemong kok... Janji deh.." rayu afran.
"Boleh..." jawab Afran.
Sheena hendak berkata lagi namun Bu shinta menatapnya tajam dan akhirnya ia urungkan niatnya.
Tak selang berapa lama Ara pun turun. Ada gurat aneh di wajah Ara sambil menatap intens Dokter Hisyam. Ia pun duduk di sebelah Kiri Sheena.
"Emily sudah lulus kuliahnya?" tanya Pak Atmaja membuka omongan di meja makan.
"Em.. Kamu itu lho kok sukanya merubah rubah panggilan.. Kadang pakai mas kadang pakai Kak yang konsisten dong..!" gerutu Hisyam.
"Ish... Kak Hisyam ini... Protes saja...! Masih untung ada embel embel kak atau mas... Daripada Nama doang..!" elak Emily.
"Anak ini...! Nggak di rumah sendiri nggak di rumah orang lain berantem terus... Bisa nggak sih kalian itu berdamai barang sejam..!" omel Bu andita.
"Kak Hisyam kan bu.... Yang duluan bikin emosi...!" sahut Emily.
"eh... Memutar balikkan fakta anak kecil ini...! Siapa yang duluan mancing emosi...!" balas Hisyam tak mau kalah.
"Sudah... Sudah...! Kalau gini mending kalian segera sana Nikah...! Biar nggak berantem terus..! Pusing ibu..!" kata Bu Andita.
"Eh Kak.. Maaf tadi kita belum kenalan ya kak... Namanya.." ucap emily kepada Sheena.
"Sheena.." jawab Sheena.
"owh... Kak Sheena... Namanya bagus..!" balas Emily.
"kakak mau nggak jadi istrinya kak Hisyam... Dia ini nih... Jomblo akut tau...! Mau ya..? Biar Emily bisa menikmati kedamaian di rumah yang Hakiki..!" kata Emily tanpa basa basi.
__ADS_1
"uhuk uhuk..!" Sheena dan Hisyam pun kaget dan tersedak.
Hisyam memelototkan matanya ke arah Emily.
"Santaaaaiii bos...! Jangan Marah...! Sebagai adik yang baik, aku itu membantu kakakku tercinta lho... Biar cepat dapat pasangan... Bener nggak?" kata Emily sabvil mengedipkan sebelah matanya.
"Em...!" kata hisyam terhenti ketika ibunya memegang tangan Hisyam pertanda tidak boleh ada keributan.
"Maaf ya Shinta... Memang beginilah keluarga kami kalau sedang berkumpul... Ramenya minta ampun... Pusing saya..!" lanjut Bu Andita.
"Nggak papa Ta.. malah rumah terasa ramai...!" kata Bu Shinta tersenyum.
Mereka pun melanjutkan makan malam tersebut.
Selesai makan malam, semua keluarga berkumpul di ruang keluarga. Semua asyik berbincang bincang. Namun, Sheena memberikan kode kepada dokter Hisyam untuk keluar bicara berdua. Dengan hati hati mereka pun pergi ke gazebo di belakang halaman rumah.
"Apa sebenarnya maksud dan tujuan mu datang ke rumah ku? Aku yakin bukan sekedar makan malam kan?" kata Sheena langsung pada intinya ketika dokter Hisyam baru saja datang menemuinya.
"hei... Calm...! Jangan menuduh sembarangan... Aku juga tidak tahu ada apa sebenarnya... Hanya di minta untuk makan malam sama keluarga temen Ayah... Itu saja...!" jawab dokter Hisyam.
"cih..! Kau pikir aku percaya...! Awas saja kalau sampai yang diomongkan adikmu itu benar...!" bentak sheena.
Melihat kemarahan Sheena, entah mengapa Dokter Hisyam semakin ingin menggodanya.
"ooo tentang perjodohan...! Ya kalau beneran sih nggak papa... Untung di aku dong... Dapat emaknya bonusnya dua bocil lucu lucu...!" goda Dokter Hisyam.
" jaga bicaramu..! Aku tak sudi menerima perjodohan ini..!" kata Sheena dengan tangannya mengepal menahan emoai.
"Bagaimana kalau aku Afran benar benar bergantung padaku...! Kau tidak akan bisa menolaknya kan..!" Balas Dokter Hisyam.
"dasar pecundang..! Dari awal niatmu memang sudah busuk..!" umpat sheena hendak menampar Dokter Hisyam Namun dapat di cegah oleh dokter Hisyam.
"Hati hati menggunakan tanganmu Nyonya... Kalau kau jadi istriku, kau sama sekali tidak boleh melakukan itu pada suamimu...!" ucap Hisyam tak kalah emosi karena ucapan Sheena yang begitu menusuk hatinya.
"dasar bajingan..! Sampai kapanpun aku tidak akan mau menikah denganmu...! Camkan itu..!" kata Sheena Kasar.
Hisyam pun menarik tubuh sheena dan mengunci tubuhnya di dinding.
"Kalau aku menginginkanmu... Apa yang akan kau lakukan..! Tega kau melukai mertuamu..! Tega kau melukai Afran..!" tanya Hisyam mendekati Sheena.
"Kau bilang aku bajingan kan.. Lihat apa yang bajingan ini lakukan...!" kata Hisyam marah. Ia pun mendekatkan bibirnya ke arah Sheena dan mengecup bibir tersebut. Sheena memelototkan matanya. Ia benar benar tidak menyangka dokter tersebut melakukan hal yang di luar nalarnya.
" jangan pernah menyulut emosi orang lain nyonya... Atau aku akan bertindak lebih kejam..!" kata Dokter Hisyam dingin dan berlalu mrninggalkan Sheena.
__ADS_1