
Karen sedang memasak untuk sarapan. Walau ada pembantu, wanita itu lebih suka memasaknya sendiri. Bisa menyesuaikan dengan selera. Semua dilakukan Karen sekalian untuk menyalurkan hobi memasaknya.
Rico yang telah bangun melihat Karen yang sedang memasak, berjalan mengendap menuju wanita itu. Dia ingin mengagetkan ibu tirinya itu.
Tanpa rasa takut, Rico memeluk pinggang wanita itu. Karen tampak kaget, tapi akhirnya dia mencoba bersikap biasa karena berpikir yang melakukan itu suaminya Arion.
Jika dia melepaskan pelukan ditubuhnya, pasti suaminya itu yang akan kaget nantinya. Pasti Arion akan berpikir jelek dan mulai mencurigai dirinya.
Rico makin merapatkan tubuhnya dan mengecup pipi Karen. Wanita itu mencium aroma parfum yang tidak asing baginy. Lalu Karen membalikan tubuhnya. Alangkah kagetnya dia melihat siapa yang telah melakukan semua itu padanya.
"Rico ...!"
"Kenapa kaget begitu, Sayang? Memang kamu pikir siapa yang melakukannya?" tanya Rico.
Karen hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Rico. Dia juga tidak mungkin mengatakan jika yang ada dalam pikirannya adalah Arion, memeluknya.
__ADS_1
"Jangan bilang tadi kamu berpikir jika Papi yang memeluk?" tanya Rico lagi.
Melihat Karen hanya diam, Rico makin yakin dengan dugaannya. Dia mengukung Karen hingga wanita itu memegang tepian wastafel sebagai pegangan.
"Karen, aku sudah cukup cemburu saat Papi mengajak kamu bulan madu. Membayangkan kamu berada dalam pelukan Papi saja dadaku sesak, apa lagi jika sampai aku melihat semua itu. Aku tidak terima jika kamu berada dalam pelukan pria lain sekalipun itu Papiku sendiri."
Rico mendekatkan wajahnya. Deru napas pria itu dapat Karen rasakan. Walau sebesar apapun dia berusaha menolak, tapi pesona Rico tetap menawan hatinya.
"Karen, harus bagaimana lagi aku mengatakan padamu, jika aku sangat mencintaimu. Aku tidak rela jika kamu menjadi milik orang lain. Kamu itu milikku."
Karen menghela napas dalam. Tersenyum manis dengan pria itu.
"Aku mau kamu menjaga cinta kita." Karen menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Karen kembali melanjutkan memasak buat sarapan. Dengan Rico membantunya. Mereka berdua tampak sangat bahagia.
__ADS_1
Arion yang telah berpakaian rapi keluar dari kamar. Lalu berjalan menuju dapur. Dia sedikit kaget melihat Rico yang tertawa lepas dengan Karen. Tampak sangat akrab.
"Hhhhmmmm ..." Dehem Arion. Deheman itu mampu membuat keduanya menghentikan kegiatan mereka.
Rico tersenyum dengan Arion, papinya untuk menghilangkan kegugupan. Pria paruh baya itu tidak boleh tahu hubungannya dengan Karen. Belum waktunya. Dia masih ingin menyusun rencana.
"Papi, aku kira masih tidur," ucap Rico. Pertanyaan yang dilontarkan Rico hanya untuk mengalihkan perhatian Arion.
Karen menyiapkan dan menata menu sarapan pagi itu ke meja. Rico ikut membantu, tidak peduli pandangan tajam Papi Arion yang tertuju padanya.
Rico mangambilkan sarapan buat Karen. Wanita itu tampak canggung saat mata Arion terus menatapnya.
"Papi mau aku ambilkan juga?" tanya Rico mencairkan suasana yang tegang.
"Nggak perlu, Papi bisa mangambil sendiri. Papi hanya heran, ditinggal 3 hari kerja ke luar kota, kamu dan Karen tampak akrab seperti teman lama," ucapnya dengan wajah panasaran.
__ADS_1
"Kenapa Papi jadi heran? Bukankah Papi yang menitipkan Mami denganku? Jangan heran jika aku bisa cepat akrab dengan mami. Ini karena aku dan mami seusia. Jadi kami seperti berteman," ucap Rico.
...****************...