
"Silakan masuk, Pi," ucap Rico akhirnya. Bagaimanapun jahatnya Arion, dia tetap orang yang berjasa membesarkan dirinya.
Rico membuka pintu apartemen dengan lebar. Arion masuk perlahan. Ketika sampai di ruang keluarga, Arion memandangi Karen yang terlelap tanpa kedip.
Rico yang berdiri di belakang Arion kembali menjadi curiga. Dalam pikirannya, Arion ingin membawa Karen pergi. Pria itu langsung berjalan mendekat ke sofa ,tempat dimana Karen tertidur.
Arion yang menyadari itu hanya bisa menarik napas. Dia sadar semua ini karena ulahnya juga. Tidak salah jika dia di benci.
Rico duduk di samping Karen yang tertidur dengan lelapnya. Diusapnya rambut wanita yang dia cintai itu.
"Aku yakin Papi datang bukan hanya ingin melihat keadaanku saja. Pasti ada yang ingin dikatakan."
"Papi nggak tahu harus memulai dari mana. Yang pasti Papi datang untuk menjalin kembali siraturahmi. Sebelumnya Papi ingin meminta maaf atas apa yang pernah Papi lakukan. Papi menyesal telah menyakiti kamu, dan Karen," ucap Papi terbata.
Rico menatap Papi dengan intens, tak percaya dengan apa yang dia dengar. Seorang Arion meminta maaf dengan sendu. Rico mengusap wajahnya, takut semua ini hanya mimpi.
"Maaf, Pi. Aku tinggal sebentar. Aku buatkan air minum dulu."
__ADS_1
Rico berjalan menuju dapur dan membuatkan dua gelas kopi, untuknya dan Papi Arion. Sementara itu, Arion mendekati Karen. Memandanginya dengan wajah sendu. Dia teringat saat melakukan penyiksaan. Hampir saja dia membunuh anak dan cucunya yang sedang Karen kandung.
Tanpa disadari Arion, air matanya jatuh membasahi pipi. Pria paruh baya itu segera menghapusnya. Takut Rico melihat. Namun, tanpa dia sadari putra angkatnya itu telah melihat semua itu.
Rico terpaku di tempat dia berdiri. Hampir tak percaya melihat Papinya menangis. Yang menjadi pertanyaan pria itu, kenapa Papinya menangis sambil menatap Karen.
Rico meneruskan langkahnya. Tiba dihadapan Papi, pria itu meletakan dua gelas kopi di meja. Satu piring kue.
"Minumlah, Pi. Hanya ada ini. Papi mau aku pesankan sarapan?" tanya Rico.
"Biar Papi aja yang minta dibelikan dengan Joko. Kamu dan Karen biasanya sarapan apa. Papi pesankan sekalian. Sudah lama Papi dan kamu tidak sarapan bareng," ucap Papi.
"Selamat Pagi," ucap Arion.
Sapaan itu langsung terdengar ketika Karen membuka mata. Pandangannya langsung bertemu dengan Arion. Wanita itu mengucek matanya. Berpikir semua hanya mimpi.
Rico langsung mengusap rambut wanita yang sangat dia cintai itu. Karen melihatnya, dan langsung duduk.
__ADS_1
Karen spontan memeluk lengan Rico. Wajahnya tampak ketakutan. Hati Arion rasa dipukul palu. Terasa nyeri. Putrinya sendiri, takut padanya. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan kebenaran jika putrinya begitu ketakutan melihat wajahnya.
"Rico, aku takut," bisik Karen. Rico mengusap tangan wanita itu untuk memberikan kenyamanan. Seolah dia berkata, "jangan takut, ada aku disini."
"Apa kabar Karen?" tanya Arion dengan senyuman. Namun, tetap membuat wanita itu ketakutan.
"Karen, Papi datang untuk meminta maaf," ujar Rico.
Karen memandangi wajah Rico, memohon penjelasan. Rasanya tidak percaya jika mantan suaminya itu datang hanya untuk meminta maaf.
Karen masih ingat, bagaimana perlakuan Arion padanya saat di desa waktu itu. Dia merasa seperti tahanan.
"Karen, Papi minta maaf jika selama ini menyakiti kamu. Papi benar-benar menyesal penah melakukan semua itu," ucap Arion.
Lagi-lagi Karen memandangi Rico, memohon penjelasan dari pria itu. Karen merasa bingung atas apa yang dia dengar. Rasanya tidak percaya atas apa yang dia lihat dan dia dengar saat ini.
...****************...
__ADS_1