
Rico menggendong tubuh mungil Karen ke kamar mandi. Sejak kemarin, pria itu yang ingin membersihkan tubuh wanitanya.
Sampai saat ini, Rico belum mengatakan tentang kehamilan Karen. Dia menunggu kesehatan Karen stabil dulu.
"Biar aku coba bersihkan sendiri saja," ucap Karen pelan. Kakinya masih terasa lemah untuk berdiri.
"Biar aku saja. Katanya kamu malu kalau perawat yang harus memandikan," ucap Rico dengan tersenyum.
Kemarin Karen memang mengatakan dengan Rico, jika dia malu dimandikan perawat. Dia ingin melakukan sendiri.
Bagaimana mungkin Karen bisa melakukan seorang diri. Tubuhnya saja masih lemah. Untuk berdiri saja dia belum sanggup.
Akhirnya Rico memutuskan untuk memandikan Karen. Tetapi Karen masih saja malu.
"Sayang, aku tidak akan melakukan hal lebih. Jika kamu malu karena seluruh tubuhmu dapat aku lihat, tidak perlu kuatir. Aku sudah pernah melihatnya, walaupun kamu tutup," ucap Rico sambil bercanda.
__ADS_1
"Tetap saja aku malu," ucap Karen dengan wajah memerah.
"Kamu mau aku yang mandiin atau Perawat?" tanya Rico akhirnya.
"Kamu aja. Seperti katamu, tubuhku juga telah kamu lihat."
Satu persatu pakaian di tubuh Karen dilepaskan. Hingga tersisa pakaian dalam Karen. Wajahnya tampak memerah menahan malu. Rico mulai memandikan Karen dengan teliti dan penuh kasih sayang seperti memandikan adiknya saja.
Karen melihat keringat dingin mengucur ditubuh Rico. Pria itu juga tampak sesekali menarik napas dalam ketika memberi sabun di tubuh Karen terutama bagian-bagian yang tertutup.
"Udara emang nggak panas, Karen. Suhu tubuhku yang panas. Aku harus menahan hasratku padamu. Apa kamu tau ini sangat menyiksa? Aku yang udah pernah melakukan denganmu, selama ini sudah berusaha menahannya. Aku pria normal, pasti sekali mencoba, ingin mengulangnya lagi. Tapi aku sudah janji denganmu, akan melakukan semua setelah kamu menjadi milikku seutuhnya," ujar Rico dengan suara gemetar menahan gejolak dalam. tubuhnya.
"Maaf, aku nggak tau. Kalau gitu biar aku mandi sendiri. Kamu keluar aja," ucap Karen dengan mimik menyesal.
"Mana mungkin aku membiarkan kamu mandi sendiri. Aku bisa menahannya selama ini'kan, tentu saja aku akan tetap berusaha menahannya lagi," ujar Rico.
__ADS_1
Rico berjongkok dihadapan Karen, sehingga wanita itu langsung merapatkan bagian inti tubuhnya yang tepat berada di depan wajah pria itu. Karen tidak ingin Rico akan bertambah tersiksa ketika melihat inti tubuhnya. Melihat tingkah kekasihnya itu, Rico tidak bisa menahan tawanya. Rico sudah tidak bisa menahannya, dibenamkan kepalanya ke dada Karen yang dalam keadaan polos. Rico memeluk tubuh Karen erat.
"Setelah kamu sembuh, aku ingin kamu mengajukan cerai dengan Papiku. Aku memiliki banyak bukti yang akan membuat kamu bisa mengajukan perceraian," ujar Rico.
Karen memandangi wajah Rico yang ada dalam dekapan dadanya. Bukannya dia tidak mau cerai, tapi takut Arion akan mempersulit.
Rico juga menatap wajah kekasihnya. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran wanita itu.
"Kamu jangan takut. Aku akan bantu kamu. Papi tidak akan mempersulit proses perceraian ini. Lagi pula tidak ada alasan Papi untuk mempertahankan kamu lagi. Dia telah mengetahui segalanya."
"Apa yang Papi ketahui?" tanya Karen keheranan.
"Semuanya. Tentang hubungan terlarang kita yang telah menumbuhkan buah cinta kita di perut kamu saat ini," ucap Rico dengan mengecup perut Karen.
"Benih cinta kita?" tanya Karen dengan dahi berkerut.
__ADS_1
...****************...