
Rico melepaskan genggaman tangannya pada Karen. Dia berusaha tersenyum sewajar mungkin.
"Dari mana kalian?" tanya Papi dengan suara datar.
Rico menarik napas dalam. Dia yakin Papi-nya saat ini hanya berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Pria itu mengikuti permainan Arion. Jika Papi bisa berpura-pura, begitupun dirinya.
Karen hanya diam terpaku tidak bisa berkata apapun. Untuk melangkahkan kakinya saja terasa sangat berat. Karen tahu semua ini memang salahnya. Sebagai seorang istri sah Arion, dia bermain api dengan putra tirinya.
"Apa kalian sudah makan? Kalau Papi belum. Papi lapar, ada yang mau menemani," ucap Papi dengan suara masih tenang.
Diakui Rico, jika Papinya pintar sekali mengendalikan emosi. Jika orang baru mengenalnya pasti tertipu dengan sikap ramahnya. Rico tahu ayahnya memiliki sifat emosi, dilihat dari sering Papinya memarahi mami.
Rico memandangi wajah Karen yang tampak tegang. Dia tersenyum pada wanita itu, seolah ingin mengatakan, jangan takut ada aku di sini. Rico tahu pasti jika Karen pastilah sangat ketakutan.
Dengan langkah pasti Rico mengikuti Arion yang telah berjalan menuju meja makan. Karen terpaksa juga mengikuti.
Arion dengan paksa menarik kursi meja makan. Telah mulai tampak kemarahan di dirinya.
"Kenapa hanya diam? Makanlah. Kenapa kalian jadi membisu begini. Terutama kamu Karen. Apa ada yang sedang kamu pikirkan sehingga membuat kamu mengisi?" tanya Arion, masih dengan suara datar.
__ADS_1
Karen tampak menghela napas dalam. Dia harus berani menghadapi Arion. Bukankah kesalahan emang dia lakukan. Wajar jika pria paruh baya itu marah.
"Maafkan aku, Pi," ucap Karen.
"Maaf untuk apa? Apa kamu melakukan kesalahan?" tanya Arion masih dengan kepura-puraannya.
"Aku pergi tanpa izin Papi," ucap Karen pelan.
"Oh itu. Mungkin kamu sering melakukan semua ini sehingga bagimu ini hal biasa. Apakah ayahnya tidak mengajari cara berpamitan dengan suami? Atau ibumu dulu sering melakukan ini dengan ayahmu?" tanya Arion, kembali dengan suara datar. Seolah semua hanya biasa saja.
Padahal ucapannya sangat menyakitkan bagi Karen. Dia bisa menerima hinaan apa saja dari orang, tapi dia tidak akan tinggal diam jika kedua orang tuanya yang di hina.
Kembali Karen menarik napas panjang. Semua dia lakukan untuk meredakan emosinya.
"Semua yang aku lakukan tidak ada hubungan dengan kedua orang tuaku, Pi. Mereka telah banyak menasehatiku serta mengajarkan aku tentang tata krama, juga bagaimana cara menghormati suami. Jika aku salah itu murni dari diriku bukan ajaran dari kedua orang tuaku," ucap Karen.
Tampak senyum miring yang diberikan Arion. Apa pun nanti yamg akan suaminya itu lakukan, Karen akan menerimanya dengan ikhlas. Anggap itu sebagai hukuman karena dia yang mengkhianati pernikahannya.
Papi tampak menyantap hidangan dengan lahapnya seperti tidak terjadi apapun. Rico menjadi kuatir melihat sikap Papinya. Pasti pria itu telah merencanakan sesuatu sehingga dia bisa begitu tenang.
__ADS_1
Rico dan Karen juga mencoba bersikap tenang dengan melahap makanan yang telah dihidangkan.
"Dasar se*tan, beraninya tulang ikan ini melukaiku. Apa kau tidak tahu, aku paling benci dikhianati apa lagi dilukai hingga berdarah begini. Akan aku balas dengan sesuatu yang jauh lebih kejam," ucap Arion.
Pria itu melempar ikan ke lantai dan menginjaknya hingga halus. Karen tampak kembali gugup. Dia tahu semua yang dilakukan pria itu hanya untuk menarik perhatian darinya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Arion ketika menyadari Karen menatapnya.
"Tidak ada, Pi."
Tiba-tiba Arion memukul meja keras. Hingga makanan yang tertata pada berantakan.
"Sudah cukup sandiwara yang kita mainkan. Aku bosan. Aku ingin tahu, kemana kalian pergi hingga harus menginap?" tanya Arion akhirnya.
Saat Karen ingin menjawab, Rico menggelengkan kepalanya cepat. Beruntung wanita itu mengerti maksud Rico, sehingga memilih diam kembali.
"Aku dan Karen pergi menemui ayahnya. Karen sangat merindukan orang tuanya itu. . Jika menunggu Papi, takut kelamaan. Terkadang perjalanan bisnis Papi melebihi waktu yang ditentukan," ucap Rico.
Arion tampak tidak menyukai jawaban dari putranya itu. Yang diharapkan Arion, istrinya Karen yang bicara.
__ADS_1
...****************...