
Untuk mengisi waktu luangnya, Karen menanam bunga di taman belakang rumah itu. Hari ini Karen hanya tinggal seorang diri. Rico dan Arion telah pergi bekerja.
Tubuh wanita itu penuh dengan keringat. Karen duduk di taman ketika merasa tubuhnya lelah.
Karen meneguk jus jeruk yang tadi dibuatkan bibi. Tadi ayahnya menghubungi wanita itu, mengatakan jika dia akan pindah ke kampung. Karen ingin sekali bertemu sebelum ayahnya berangkat.
"Sedang mikirin apa, sih?" tanya seseorang mengagetkan lamunan Karen.
"Rico! Kamu sudah pulang?"
"Iya, Sayang. Kenapa melamun? Bosan di rumah sendirian?" tanya Rico. Pria itu lalu duduk di samping Karen.
"Aku ingin bertemu ayah. Dia akan berangkat hari ini ke kampung," ucap Karen.
"Aku antar?"
"Aku takut minta izin dengan papimu."
"Jika Papi tidak mengizinkan, aku yang akan bicara. Masa bertemu orang tua sendiri tidak diizinkan."
Karen memandangi wajah Rico sendu. Pria itu sepertinya tidak mengenal siapa Papinya. Ayah Karen saja hampir dipenjarakan karena belum membayar hutang. Padahal menurut ayah Karen, mereka dulunya bersahabat.
Rico mengambil ponsel dari saku celananya. Mencoba menghubungi Papinya.
__ADS_1
"Aku mau antar mami Karen pulang ke rumah siang ini. Hanya sebentar karena ayahnya ingin pindah ke desa," ucap Rico, begitu teleponnya tersambung.
"Baiklah. Tapi jangan lama," ucap Papi di seberang sana.
"Terima kasih, Pi."
Rico lalu mematikan sambungan teleponnya. Dia tersenyum dengan Karen.
"Sekarang kamu ganti bajumu. Aku tunggu di mobil."
"Terima kasih, Rico," ucap Karen pelan. Menahan air matanya. Dia terharu karena menyadari jika perhatian Rico dengannya tidak berubah. Pria itu selalu saja berusaha mengabulkan semua yang diinginkannya.
Setengah jam kemudian, mereka telah berada dijalanan. Pandangan mata Karen selalu tertuju kejalanan, berbeda dengan Rico. Matanya terus saja menatap wanita itu.
Setelah dua jam perjalanan akhirnya Karen dan Rico sampai ke rumah kontrakan wanita itu. Rumah yang sangat sederhana. Ayah Karen hanyalah seorang pekerja buruh pabrik. Dan akhirnya memilih untuk pulang kampung mengerjakan ladang warisan keluarganya.
"Kamu mau ikut masuk?" tanya Karen melihat Rico hanya diam saja.
"Tentu saja," ujar Rico.
Berjalan mengikuti Karen yang melangkah menuju rumah kontrakannya. Karen mengetuk pintu rumahnya. Beberapa kali mengetuk tetap tak ada sahutan.
Karen mengitari rumah kontrakan. Tampak telah sunyi, tidak ada penghuni.
__ADS_1
"Apa ayah udah berangkat ya?"
"Kamu coba hubungi lagi ponsel ayah," ucap Rico.
Karen mencoba menghubungi nomor ponsel ayahnya. Namun, tidak aktif. Wanita itu lalu berjalan menuju rumah tetangga. Kebetulan salah seorang dari mereka sedang berada di luar.
"Ibu Maya," sapa Karen.
"Karen ... kemana aja. Dah seminggu nggak kelihatan."
"Aku tinggal di kota sekarang," ucap Karen.
Memang tidak ada satupun tetangga yang mengetahui jika Karen telah menikah. Ayahnya sengaja menyembunyikan semua itu.
"Apa Ibu tahu dimana Ayah?" tanya Karen. Rico yang berdiri di belakang tubuh Karen hanya diam, mendengar wanita itu bicara dengan tetangganya.
"Ayah kamu baru satu jam yang lalu pamit. Katanya mau pulang ke kampung halamannya. Memangnya ayah kamu tidak mengatakannya?" tanya Ibu Maya.
"Ayah tidak mengatakan kapan dia akan berangkat, Bu. Kalau begitu aku pamit dulu. Terima kasih, Bu," jawab Karen dengan pelan.
Tubuh Karen terasa lemah. Dia tidak tahu pasti di mana kampung ayahnya. Yang dirinya tahu hanya nama daerahnya saja. Selama ini ayah dan ibunya belum pernah membawa Karen pulang ke kampung ayah, dia hanya pernah ke kampung ibunya.
...****************...
__ADS_1