GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 82. Di Apartemen


__ADS_3

Telah satu minggu berlalu semenjak Papi Arion berterus terang tentang siapa dia sebenarnya. Hari ini Arion datang berkunjung ke apartemen milik putra angkatnya itu. Arion ingin mendekatkan diri dengan putrinya Karen. Sekaligus untuk menghilangkan rasa trauma pada diri Karen.


Dengan membawa asinan Bogor kesukaan Karen, Arion datang ke sana. Melangkah pasti keluar dari lift menuju unit apartemen Rico.


Arion menekan bel, dan masuk setelah Rico membuka pintu mempersilakan dirinya masuk. Pria paruh baya itu tersenyum melihat Karen. Di balas dengan senyuman simpul.


Kebetulan Karen baru saja selesai masak. Rico mengajak Arion untuk ikut sarapan.


Karen hanya diam tanpa suara. Sementara itu Arion dan Rico asyik mengobrol. Dalam diam Arion mencuri pandang pada anaknya itu.


"Karen, Papi nggak tahu harus melakukan apa untuk mengobati luka dan kecewa dihatimu selain ucapan maaf. Semua telah terjadi, menyesali juga tidak akan membuat semua kembali. Sekali lagi, maafkan Papi. Apa yang harus papi lakukan agar kamu dan ibumu bisa memaafkan kesalahan Papi?" tanya Arion dengan suara pelan.


Melihat Karen yang hanya diam membisu membuat Arion buka suara. Dia ingin lebih dekat dengan putrinya itu.


Air mata Karen tidak bisa dibendung lagi. Teringat pada ibunya. Hingga menutup mata, ayah kandungnya ini tidak atau belum pernah minta maaf.


"Percuma, aku rasa sampai kapanpun ibu tidak akan pernah atau belum bisa memaafkan semua kesalahan, Papi," ucap Dea sambil mengusap air matanya.


"Papi tahu, Karen. Pasti tidak mudah bagi ibumu untuk dapat memaafkan semua kesalahan Papi yang begitu besar. Jika saja dia masih hidup, Papi pasti akan datang memohon maaf hingga ibumu bisa memaafkan aku."


"Percuma saja penyesalan Papi, karena semua tidak akan dapat terulang kembali."


Karen menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya. Melihat itu Rico memeluk tubuh istrinya itu.


Arion meraih tangan Karen yang berada di atas meja. Dia menggenggam tangan putrinya itu. Rasanya ingin memeluk tubuh Karen.

__ADS_1


"Karen, mungkin semua telah terlambat untuk aku meminta maaf dan menebus kesalahanku pada ibumu, tapi untukmu aku rasa belum terlambat. Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku," ucap Arion.


Rico memandangi wajah Arion ayah angkatnya dan Karen putrinya. Dia tidak tahu apa yang keduanya pikirkan.


"Apa benar Papi mau melakukan apa pun untuk menebus kesalahan?" tanya Karen dengan terbata.


Arion merasa dadanya sesak, karena Karen putrinya masih saja meragukan dirinya, walau dia telah mengatakan kebenarannya .


Arion menganggukkan kepala tanda setuju. Dia memang telah berniat akan melakukan apa saja untuk dapat memperbaiki hubungan dengan Karen.


"Tapi Papi juga ada satu permintaan," ujar Arion.


Karen memandangi wajah Rico . Wanita itu takut jika permintaan pria yang merupakan ayah kandungnya sesuatu yang sulit untuk dia penuhi.


"Jika itu tidak memberatkan, akan aku kabulkan," ucap Karen dengan suara pelan.


Sebagai kesediaannya melakukan apa yang diminta Karen, pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya.


"Papi ingin disayangi dan dicintai, seperti kamu mencintai Ayah Rusdi," ucap Arion. Dia mengucapkan satu permintaannya.


Karen menatap ayah biologisnya itu tanpa kedip. Memang permintaannya tampak tidak sulit. Namun, dirinya masih kaku


untuk memperlakukan Arion superti Rusdi yang memang sangat disayangi.


Di tambah rasa sakit karena pria itu yang telah membuat ibunya cukup menderita hingga akhir hayatnya.

__ADS_1


Karen sadar jika apa yang dilakukannya adalah salah. Sebagai anak tidaklah pantas memperlakukan ayah kandungnya seperti ini. Hanya memanggil menyayangi dia, memang tampak tidak begitu sulit. Namun, begitu sukar untuk dilakukan.


Karen menarik napasnya. Apakah dia sanggup melakukan semua itu. Akhirnya Dea mengatakan, "Baiklah, akan aku coba. Tapi tidak bisa menjanjikan apa-apa."


Mendengar jawaban Karen, Arion begitu bahagia. Padahal dia belum tahu apa yang akan di minta anaknya.


"Sekarang saatnya Papi dengar permintaan kamu, Nak," ucap Arion tersenyum.


"Aku hanya ingin Papi menjauhi dunia malam dan kupu-kupu malam," ucap Karen pelan, takut hal itu akan membuat ayah kandungnya itu marah.


Arion menatap wajah anaknya tanpa kedip. Tidak percaya dengan permintaan Karen. Awalnya Rico berpikir Karen akan minta sesuatu yang sulit.


"Aku juga ingin Papi berkata jujur. Apakah benar Papi menikahi aku dulu hanya karena dendam dengan ayah dan ibuku?" tanya Karen.


Arion menarik napas. Dadanya sesak mendengar pertanyaan putrinya. Dari mana dia tahu kebenaran ini. Pria itu juga merasa bersalah karena dendamnya hingga ingin menghancurkan hidup Karen yang ternyata anak kandungnya.


Arion menyandarkan tubuhnya. Manarik napas panjang. Mungkin inilah saatnya dia berkata jujur. Apapun resiko yang akan dia terima setelah mengatakan kebenaran, akan dijalani. Sudah saatnya dia melihat kebahagiaan untuk kedua anaknya.


"Dari mana kamu mengetahui semua ini. Siapa yang mengatakan?" tanya Arion


Arion tidak pernah mengatakan pada siapapun kebenaran ini. Dari mana Karen mengetahui semua ini.


"Dari mana aku tahu, aku rasa papi tidak perlu mengetahuinya. Yang aku butuhkan hanya jawaban dari Papi. Apa benar semua yang aku dengar itu?" tanya Karen.


Arion tidak dapat bekata apapun. Lidahnya terasa kelu. Hanya anggukan kepala sebagai jawaban atas pertanyaannya Karen.

__ADS_1


****************


__ADS_2