GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 61. Melamar


__ADS_3

Malam ini, Rico sudah siap dengan setelan jasnya. Pemuda itu terlihat sangat rapi dari biasanya, wajahnya juga terlihat penuh semangat. Setelah siap, dia berenacana untuk memanggil Karen tapi urung karena wanita itu juga baru saja keluar dari kamar.


"Aku baru saja akan memanggilmu," ucap Rico sambil menatap lekat Karen.


Saat ini Karen terlihat sangat cantik dengan balutan dres hitam yang tadi siang dibelikan oleh Rico. Awalnya Karen berusaha untuk menolak dibelikan baju karena menurutnya dia masih bisa memakai pakaian yang ada, tapi Rico terus memaksa dan akhirnya Karen menurut saja.


Rico tidak menyangka kalau dres hitam itu sangat cocok dibadan Karen, dia sampai tidak bisa berhenti melihat kecantikan Karen malam ini.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang salah dengan riasanku?" tanya Karen penasaran. Wanita itu berusaha melihat pantulan wajahnya dari layar ponselnya, tapi tidak bisa menemukan apa yang salah.


Rico sendiri hanya menanggapinya dengan gelengan.


"Lalu kenapa? Apa bajunya tidak cocok? Kalau begitu akan ganti sebentar."


"Jangan, jangan," cegah Rico.


"Terus kenapa kamu natap aku kayak gitu?"


"Karena kamu malam ini sangat cantik. Sungguh, aku tidak berbohong," jawab Rico sambil berjalan mendekat pada Karen.


Mendengar pujian itu membuat Karen merasa malu, pipi wanita itu menjadi semu merah. Karen juga menundukkan sedikit kepalanya untuk menyembunyikan rona dipipinya.


"Kamu terlalu berlebihan," elak Karen.


"Tidak. Aku tidak berlebihan, aku mengatakan yang sebenarnya. Dres, make-up, gaya rambut, semuanya ... sempurna," puji Rico dengan mengacungkan kedua jari jempolnya.


Karen semakin dibuat malu dengan pujian itu, tapi dia juga merasa senang karena mendapatkan pujian. Dia memang sengaja berdandan lebih daripada sebelumny, karena dia penasaran ke mana Rico akan mengajaknya. Dia tidak ingin membuat pemuda itu malu dengan dandanannya jika biasa saja.


"Ah, sudahlah. Kamu akan mengajakku berangkat atau akan terus di sini dan memujiku?"


Rico menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Iya, maaf, maaf. Kecantikanmu malam ini membuatku lupa. Ayo kita berangat sekarang," ajak Rico.


Karen tersenyum, lalu mengangguk. Dia juga menggandeng tangan Rico, mereka pun berjalan keluar bersama. Saat sudah berada di luar, Rico membukakan pintu untuk Karen, hal itu membuat Karen merasa sangat tersentuh.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Karen, kemudian masuk ke dalam mobil.


"Sama-sama Tuan putriku."


Setelah itu, Rico menutup pintu dan berlari ke pintu sebelah untuk masuk ke dalam mobil. Kemudian dia mulai melajukan mobilnya ke tempat yang sudah ia janjikan kepada Karen.


"Aku masih penasaran, sebenarnya kamu akan mengajakku ke mana? Apalagi kamu juga terlihat sangat rapi," tanya Karen penasaran. Sejak pulang dari rumah sakit tadi pagi, Rico enggan membocorkan rencana malam ini.


"Tunggu sebentar lagi, kamu akan tahu sendiri. Tidak akan seru jika aku memberitahu kamu sekarang," jawab Rico dengan senyum-senyum.


"Aku benar-benar penasaran."


Rico tidak menanggapi lagi, pemuda itu lebih memilih untuk fokus menyetir. Dia sangat tidak sabar untuk mengejutkan Karen dengan rencananya malam ini.


Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil yang dikendari Rico sampai disalah satu kawasan restoran mewah. Karen yang menyadari hal itu hanya bisa melongo dan menatap Rico, jadi dia mengajaknya untuk makan malam di restoran yang terkenal sangat mewah itu.


"Jadi ... kita akan menghabiskan waktu di sini?" tanya Karen.


"Hm. Kita akan makan malam di sini."


"Ayo kita masuk," ajak Rico.


Kemudian mereka berdua turun dari mobil, saat sudah turun, Rico menggandeng tangan Karen dengan mesra. Mereka berdua langsung mendapat sambutan hangat dari pelayan, lalu mereka di arahkan ke tempat pesanan Rico.


Rico sengaja memesan tempat di lantai atas, dia sengaja melakukan itu karena pemandangan di sana sangat bagus saat malam hari. Suguhan pemandangan gemerlap cahaya lampu malam sangat bagus saat dilihat dari atas, Rico sangat yakin kalau Karen akan menyukainya.


"Silahkan," ucap pelayan restoran dengan sangat ramah saat sudah sampai di meja pesanan Rico.


Karen sagat terpukau melihat pemandangan malam dari lantai atas, wanita itu sampai tidak berhenti menganga melihatnya. Padahal seharusnya yang lebih penting adalah hidangan yabg sudah tersaji di hadapannya.


"Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" tanya Rico.


Karen menoleh ke Rico, kemudian mengangguk dengan cepat. "Sangat. Aku sudah lama ingin datang ke sini, dan sekarang keinginanku itu terkabul. Terima kasih banyak," jawab Karen dengan antusias.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu suka." Rico tersenyum.


"Semua yang ada di sini terlihat sangat bagus, aku sampai tidak bisa berkata-kata, Rico."


"Nikmati semua ini. Aku sudah menyiapkan khusus untuk kamu, ini malam yang sangat spesial."


Tidak lama setelah Rico mengatakan kalimat itu, suara alunan biola terdengar mengalun indah. Karen sampai terkejut, dia pun menoleh ke kanan dan dia baru menyadari kalau di sana ada dua pemain biola.


"Kamu juga menyiapkan itu?" tanya Karen.


"Tentu. Rasanya akan kurang jika tidak ada alunan biola yang menemani makam malam kita, kamu suka, kan?"


"Aku benar-benar meleleh malam ini karena sikap romantismu." Mata Karen berkaca-kaca saat mengatakan hal itu. Dia tidak menyangka kalau Rico menyiapkan semua ini untuk dirinya.


"Ini belum apa-apa. Setelah kita makan, ada sesuatu lagi yang ingin aku tunjukkan kepadamu."


"Apa?"


"Kita makan dulu."


"Ah, aku benar-benar sangat penasaran. Tidak bisakah kamu memberitahu sekarang saja?"


Rico hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Ayo, makan dulu."


Pada akhirnya Karen menurut dan mulai memakan makanan yang tersedia, meskipun dia sangat penasaran dengan rencana lanjutan Rico. Entah apa lagi yang akan dilakukan pemuda itu.


Mereka berdua telah selesai makan, kini hidangan penutup datang. Tapi bukan hanya makanan penutup yang datang, tapi pelayan itu juga membawa sebuket bunga yang ukurannya lumayan besar, hal itu membuat Karen heran.


Pelayan itu memberikan buket itu pada Karen, lalu tersenyum dan pergi. Sedangkan Rico juga mulai berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat ke Karen, bersamaan dengan itu lampu-lampu juga menyala dengan terang hanya ke meja mereka, begitupun dengan pemain biola yang lebih mengencangkan aluanannya.


Rico tiba-tiba berlutut di hadapan Karen, kemudian tangannya membuka sebuah kotak kecil yang saat dibuka ada sebuah cincin permata. "Karen, malam ini aku ingin melamarmu. Apakah kamu mau menikah denganku?


Pertanyaan itu membuat jantung Karen berdetak lebih cepat. Ini benar-benar tidak terduga, dia tidak menyangka kalau Rico akan melamarnya.

__ADS_1


"Rico. Semua ini ...."


"Iya. Aku sungguh-sungguh, aku ingin kamu menjadi istriku. Apakah kamu bersedia?"


__ADS_2