
Tak terasa telah dua bulan usia putri cantik Karen dan Rico saat ini. Ayah Rusdi telah kembali ke kampung. Papi Arion yang hampir setiap hari datang
Hubungan antara Karen dan Arion sudah makin membaik, walau kadang ada sedikit rasa canggung di diri Karen jika bertemu Arion.
Sikap dan kelakuan Arion juga makin berubah. Tidak pernah jajan lagi dan lebih bisa mengontrol emosi.
...----------------...
"Daddy?"
Karen melirik seisi kamarnya saat tidak menemukan Rico suaminya, di ranjang. "Daddy kemana,ya?" tanya Karen dengan diri sendiri.
Karen melirik ke ranjang bayi mereka, Tiara. Kini usia putri kecil mereka sudah berjalan dua bulan dan kehadiran putri mereka semakin mempererat hubungan rumah tangga antara Karen dan Rico.
Karen menurunkan kakinya dari ranjang kemudian berjalan keluar dari kamar untuk mencari suaminya, tujuan pertamanya adalah ruang tamu, jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua malam, dan Rico tidak ada disana.
"Daddy ... kamu di mana?" panggil Karen pelan.
Karen takut mengagetkan pembantu. Bisa-bisa semua terjaga di tengah malam begini.
Lagi-lagi Karen memanggil, namun tidak ada jawaban dari Rico. Sampai wanita itu memilih untuk mencari suaminya itu di dapur.
"Sayang?" panggil seseorang.
Karen membalikkan badannya dan mendapati Rico yang masih menggunakan piyama tidur sama seperti yang dirinya pakai, sedang berjalan menghampirinya.
"Kamu mau kemana?" tanya Rico, yang berhasil membuat dahi Karen berkedut.
"Aku yang seharusnya bertanya, kamu dari mana?" tanya Karen.
Rico tampak cengengesan mendapat pertanyaan seperti ini, yang membuat dia bingung sendiri untuk menjawab. Padahal pria itu sebenarnya baru saja dari kamar mandi melakukan ritual senam lima jari. Sebagai pria normal dia juga butuh penyaluran.
__ADS_1
"Ehm-"
"Hayo jujur! Dari mana kamu?" tanya Karen lagi makin menyudutkan suaminya itu.
"Tidur yuk, Sayang," ajak Rico mengalihkan pertanyaan istrinya.
Karen tidak bergerak, dia langsung melebur ke pelukan Rico dan memeluk kencang tubuh suaminya itu. "Daddy, kalau mau bilang aja. Mommy nggak akan nolak. Saat ini usia Tiara telah memasuki bulan kedua. Mommy telah boleh kok melakukan itu," bisik Karen dengan manja.
Rico mengerjap sejenak, rupanya istrinya itu sudah tahu apa yang dia lakukan. Dia bisa menebak isi hati seseorang dari ekspresinya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu 'kan juga baru melahirkan," jawab Rico gugup karena ketahuan.
"Kalau mau, ayok!" ajak Karen manja.
"Nggak usah. Tunggu aja dulu," ucap Rico dengan mengacak rambut istrinya itu.
"Yakin?" tanya Karen dengan suara genit.
Tangan Karen yang sudah lama tidak bergerak itu menelusuk masuk ke dalam celana piyama suaminya dan benar saja Rico tidak memakai pakaian dalam disana. Sehingga mudah bagi wanita itu menggapai benda panjang milik suaminya.
Rico mendesis akibat sentuhan itu. Mau bagaimana lagi dia hanya pria normal biasa yang akan tergoda dengan rangsangan. Terlebih itu dari istrinya sendiri yang sangat dia rindukan sentuhannya.
"Kamu yakin?" tanya Rico. Pria itu mengangkat tubuh Karen dan menggendongnya ala koala.
Karen mengalungkan tangannya di leher Rico. Kemudian menatap pria itu dalam sebelum mencium bibir suaminya. Rico membuka mulutnya membiarkan lidahnya dan lidah istrinya saling bertemu dalam ciuman itu.
"Kurang meyakinkan?" tanya Karen balik.
Rico tersenyum lebar, dia membawa istrinya itu masuk ke dalam kamar. Sesampainya di dalam kamar istrinya itu dan menidurkan Karen di ranjang. Kemudian melucuti piyama Karen satu persatu, sehingga istrinya itu kini dalam kondisi polos.
Rico melirik ke arah tempat tidur bayi cantiknya. Untuk memastikan anaknya itu tidur. Agar tidak melihat adegan kedua orang tuanya setelah di rasa cukup aman, pria itu melorotkan celananya. Rico juga melepas bajunya sehingga kini ia dan istrinya sama-sama dalam kondisi tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh.
__ADS_1
Rico tidak langsung ke intinya dia memilih menciumi wajah istrinya, turun ke leher kemudian memberi bekas merah di bagian dadanya.
"Siap?" tanya Rico lagi.
Dengan pelan Rico memasukkan adik keculnya ke dalam sarangnya. Pria itubmenundukkan badannya agar bisa menggapai wajah istrinya.
"Aku mencintaimu, Sayang," ucap Rico.
"Aku juga!" ucap Karen.
Akhirnya Rico bisa berbuka puasa setelah dua bulan lebih menahan hasrat karena cinta dan mengingat kondisi Karen, setelah melahirkan putri mereka.
Kehidupan Karen sepertinya telah bahagia. Memiliki suami yang sangat mencintainya dan juga dua orang ayah yang sangat menyayangi dia.
...Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
– Sapardi Djoko Damono
End
...****************...
Selamat Pagi. Akhirnya sampai juga di penghujung cerita. Terima kasih atas dukungan dari semua pembaca tercinta. 💓💓.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel terbaru mama yang berjudul TAK SEINDAH SURGA. Rilis hari ini jam 11 siang.