
Arion mengerjapkan mata dan mengerutkan keningnya ketika cahaya matahari dari ventilasi jendela yang terbuka mengirimkan sinyal terang yang menggelitik pupil matanya dan memaksanya bangun dari tidur lelap.
Setengah terpejam, Arion mencoba menggerakkan tubuh, dan ingin menggeliatkan ototnya yang terasa kaku. Kepalanya terasa sangat berat dan pusing.
Arion mencoba mengingat apa yang terjadi hingga akhirnya dia tertidur di lantai kamar. Pria paruh baya itu bangun dan duduk bersandar ranjang.
Ketika ingatannya mulai pulih, Arion berdecih. Teringat saat sidang mediasi yang gagal karena Karen yang ngotot ingin berpisah. Wanita itu bahkan memberikan banyak bukti tentang ketidak cocokan mereka sebagai sepasang suami istri.
Arion melihat foto yang berserakan di lantai. Banyak yang tidak berbentuk lagi.
"Si*l*n, ini semua karena Rico dan pria itu. Rusdi, kau harus membayar mahal atas perbuatan putrimu!" gumam Arion dengan diri nya sendiri.
Pria itu mencoba berdiri walau kepalanya masih terasa pusing. Berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah berpakaian rapi, Arion turun ke lantai bawah rumahnya menuju meja makan. Semua pembantu tampak ketakutan. Arion tidak peduli semua itu. Dia langsung saja menyantap hidangan di meja makan dan setelah itu pergi tanpa rasa bersalah.
"Aku harus meminta seseorang menyelidiki siapa sebenarnyanya Karen. Apa dia anak kandung Rusdi atau bukan? Kenapa banyak yang mengatakan dia mirip denganku? Tapi jika aku melihat, dia itu sangat mirip dengan ibunya Novi. Kepalaku jadi makin pusing mikirin semua ini," gumam Arion pada dirinya sendiri.
Sementara itu di kampung, Rusdi kaget dengan kedatangan putrinya Karen dan Rico. Karen membawa banyak makanan untuk ayah yang sangat dia sayangi itu.
"Ayah ...," teriak Karen. Ayahnya yang sedang berkebun langsung meninggalkan semua dan berjalan dengan cepat menuju putrinya.
__ADS_1
"Ayah, aku kangen," ucap Karen memeluk ayahnya.
Karen tidak peduli dengan tubuh Rusdi yang bermandikan keringat. Dipeluknya erat tubuh yang makin terlihat kurus itu.
"Baju ayah kotor dan bau. Jangan peluk!" ujar Rusdi.
"Aku nggak peduli. Aku kangen," ucap Karen lagi.
"Masuklah, ayah mandi dulu. Kamu buatkan saja minum buat nak Rico sementara ayah mandi."
"Iya, Yah."
Rusdi membuka kunci rumah. Setelah Rico. bersalaman pria paruh baya itu langsung masuk dan menuju kamar mandi.
***
Setelah semua selesai, Karen dan Rico membawa ke ruang tamu. Di rumahnya, ayah Karen tidak memiliki meja makan atau sofa. Semua menu diletakkan di lantai saja. Mereka makan dengan duduk di lantai beralaskan tikar bambu.
"Ayah, aku telah menggugat cerai Arion, aku mohon doa ayah agar semua dilancarkan," ucap Karen membuka obrolan setelah mereka menyantap makan malam.
Ayah menarik napas dalam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Meamaksakan Karen untuk mempertahankan semuanya juga tidak mungkin.
__ADS_1
"Ayah akan mendukung apapun keputusan yang kamu ambil. Cuma ayah ingatkan, jaga dirimu. Arion tidak akan mungkin menerima semuanya begitu saja," ucap Ayah mengingatkan.
"Aku juga ingin mengatakan pada Ayah, jika setelah Karen resmi bercerai dengan Papiku, kami akan menikah. Aku mohon restu dari ayah," ucap Rico.
"Ayah akan merestui kalian. Semoga pernikahan kali ini akan membuat Karen lebih bahagia. Ayah sudah tua, tak akan bisa mendampingi Karen selamanya. Ayah titipkan Karen denganmu. Jaga dia. Jangan biarkan dia menderita."
Ayah mengucapkan semua dengan menahan air matanya. Karen memeluk tubuh ayahnya. Lelaki pertama yang dia cintai.
***
Keesokan harinya, Karen dan Rico berpamitan. Tampak Ayah melepaskan dengan perasaan sedikit cemas.
"Sekali lagi, ayah mohon padamu, jaga Karen. Jangan sakiti dia. Jika Karen melakukan kesalahan, mohon jangan marahi dia. Bicarakan semua baik-baik. Ayah lihat tubuhnya makin kurus sejak menikah dengan Arion. Semoga denganmu dia makin bahagia," ucap Ayah sambil menahan air mata.
Karen dan Rico tidak mengatakan tentang dirinya yang baru sembuh dari koma. Takut semua itu membuat ayahnya menjadi makin kuatir.
"Ayah juga jaga kesehatan. Jika ada apa-apa cepat hubungi aku," ucap Karen sambil memeluk tubuh ayahnya.
Setelah berpamitan, keduanya meninggalkan halaman rumah itu dengan perlahan. Mata Karen memandangi tubuh ayahnya tanpa kedip hingga hilang dari pandangannya. Begitu juga ayah Rusdi. Dia masuk kembali ke rumah setelah mobil yang dikendarai Rico hilang dari pandangan matanya.
"Semoga pernikahanmu dengan Rico adalah pernikahan terakhir. Ayah sebenarnya ingin mengatakan semua kebenaran tentang kamu. Tapi ayah takut kamu jadi membenci ayah. Karena saat ini hanya kamu yang ayah miliki. Biarlah semua ini menjadi rahasia dulu, hingga ayah siap mengatakan semuanya," gumam Rusdi dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
...****************...