
Rico tampak bahagia melihat Karen yang selalu tersenyum sepanjang perjalanan pulang. Dua jam perjalanan yang ditempuh terasa sangat singkat.
Kebahagiaan terpancar dari wajah sepasang kekasih itu. Tanpa mereka sadar di rumah, Papi Arion menunggu kehadiran mereka dengan penuh emosi.
Arion yang telah curiga dengan hubungan Rico dan Karen sengaja pulang dari perjalanan bisnisnya lebih cepat dari yang dia katakan.
Kecurigaan Arion bukan hanya karena pernah melihat mereka berpelukan tapi juga didasari sikap Karen yang sedikit aneh. Telah hampir dua minggu pernikahan mereka tapi Karen masih saja datang bulan. Dan sudah dua malam dia merasa kantuk yang sangat berat. Arion telah curiga jika seseorang memberinya obat tidur.
"Jika kamu suka jalan-jalan ke pantai, aku akan bawa setiap ada waktu luang. Biar kamu bisa terus tersenyum. Senyummu itu merubah duniaku," ucap Rico becanda.
"Gombalnya receh banget," ujar Karen dengan tawa renyahnya.
Melihat ombak dan berlarian di tepi pantai tadi, membuat Karen melupakan sejenak kata-kata ayahnya. Peringatan ayahnya mengenai kekejaman Arion terlupakan.
Arion telah mendapatkan informasi yang dia inginkan. Masuk ke ruang kerja, pria paruh baya itu melampiaskan kemarahannya.
__ADS_1
Diambilnya vas bunga yang berada di atas meja dekat sofa, lalu melempar ke dinding. Wajahnya memerah menahan emosi dan marah.
Vas bunga hancur berkeping. Namun, Arion tampak masih kurang puas. Dia lalu mendekati meja kerja dan menjatuhkan semua yang ada di atas meja ke lantai.
Ruang kerjanya Arion tampak sudah sangat berantakan. Kaca dan berkas berserakan di lantai.
"Kalian mau coba bermain api denganku rupanya. Baiklah! Aku akan membakar kalian. Akan aku buat kalian menyesal karena telah mengkhianati aku," ucap Arion dengan penuh penekanan.
Rico dan Kenan yang belum menyadari bahaya ada di depan mata, masih tampak tertawa bahagia.
"Kamu bicara apa, Karen? tanya Rico. Dia tdiak suka wanitanya bicara sesuatu yang tidak pasti.
"Aku hanya ingin mengingatkan kamu, jangan pernah untuk berputus asa ketika menghadapi ujian karena setiap tetes air hujan yang jernih berasal dari awan yang gelap. Perjalananmu masih panjang, jadi berhentilah untuk berhenti karena yang kau nanti masih jauh ditepi. Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu," ucap Karen.
"Karen, jangan bicara begitu lagi. Aku nanti ikutan parno. Tadi aku telah bahagia melihat senyummu, jangan rusak semua karena ucapanmu," ujar Rico.
__ADS_1
Dia kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah kediaman Papi Arion. Saat ini kendaraan itu telah memasuki halaman rumah mewah milik Arion.
Rico dan Karen masuk dengan bergandengan tangan. Mereka masih berpikir jika Arion akan kembali besok.
Baru beberapa langkah masuk ke rumah, Keduanya dikagetkan dengan sapaan seseorang. Suaranya begitu jelas di telinga.
Karen menghentikan langkah kakinya. Keringat dingin mengucur membasahi pakaiannya.
"Selamat sore istriku Karen," sapa ayah dengan senyum smirk-nya.
Baik Karen maupun Rico sangat terkejut mendengar suara sapaan dari Papinya. Rico bisa menyadari jika Papinya pasti telah mencurigai hubungan mereka. Rico menarik napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang bertalu nyaring.
"Selamat sore, Papi," ucap Rico membalas ucapan Papinya. Dia berusaha menjawab dengan tenang.
...****************...
__ADS_1