
Karen langsung berlari saat melihat Arion ingin keluar. Namun, dia kalah cepat dari pria itu. Arion menguncinya di kamar.
Karen mengedor pintu dengan kuat sambil berteriak. Suara teriakan gadis itu terdengar hingga ke luar.
"Buka pintunya ... aku tidak gila. Kenapa kau mengurungku?" tanya Karen sambil berteriak dan mengedor pintu keras. Suaranya sangat menyayat hati.
Capek berteriak, Karen lalu terduduk di lantai. Dia menangis histeris.
"Aku mau keluar! Ayah, ibu, tolong aku," ucap Karen sambil menangis.
Wanita itu menarik rambutnya frustrasi. Dia merasa stres. Entah apa penyebabnya, emosi Karen sering turun naik. Terkadang dia dapat mengontrolnya dan di lain waktu dia merasa tertekan.
Apa lagi tiga hari belakangan ini, Keren merasa tubuhnya lemas. Mual dan pusing sering dia rasakan. Kembali terdengar suara teriakan Karen sambil mengedor pintu bahkan menendangnya keras.
__ADS_1
"Buka pintunya! Aku mau keluar!" teriak Karen seperti orang kesurupan.
Dua orang suruhan Rico mendengar suara Karen menjerit. Mereka menjauh sedikit dari rumah itu.
"Bagaimana jika kamu pergi mencari sinyal. Kabari bos Rico tempat ini. Jika itu benar wanita yang bos cari, kasihan dia. Kamu lihat sendiri jika dia dikurung dan berteriak. Sebelum terjadi sesuatu sebaiknya bos tahu keberadaannya," ucap Antoni, nama salah seorang dari mereka.
"Satu atau jam dari sini aku rasa ada sinyal. Apakah kamu yakin untuk tinggal sendiri di sini, atau ikut denganku?" tanya Andi.
"Sebaiknya aku di sini. Takutnya terjadi sesuatu atau wanita itu kembali di bawa pergi lagi. Aku bisa mengawasi dari sini."
Andi lalu mengendap keluar dari semak belukar itu. Mobil mereka letakan cukup jauh. Sekitar lima ratus meter dari tempat mereka bersembunyi.
Arion mondar mandir di depan kamar yang Karen tempati. Dia tampak bingung untuk melakukan apa pada gadis itu.
__ADS_1
"Jika dia terus berteriak, ada kemungkinan warga yang kebetulan lewat bisa mendengarnya. Kita bisa dicurigai nanti, Pak," ucap salah seorang anak buah Arion.
"Siapa yang bisa melarang aku menyembunyikan istri sah ku. Aku katakan saja pada mereka jika dia gila," ujar Arion.
"Bapak harus meninggalkan foto copy surat nikah bapak jika seseorang bertanya, kami bisa perlihatkan bukti jika dia istri bapak."
Arion menarik napas dalam. Entah mengapa, setiap habis menampar atau menyakiti Karen, hatinya merasa bersalah. Seperti seorang ayah yang menyakiti putri kandungnya.Sejak melihat Karen pertama kali, ada perasaan berbeda didiri Arion.
Arion saat itu sengaja meminjamkan uang pada Ayah Karen setelah mengetahui dari seseorang jika pria itu butuh uang. Niat awal Arion meminjamkan uang pada Rusdi hanya untuk membuktikan pada Novi, jika bantuannya saja yang bisa mengobati penyakit wanita itu.
Setelah Novi meninggal, Arion ingin melupakan dendamnya dengan merelakan semua hutang itu, tapi semuanya berubah lagi sejak dia melihat Karen.
Wajah Karen yang sangat mirip Novi, membuat dia ingat kembali untuk membalas dendam. Dia ingin memiliki Karen ,hanya untuk menyakiti gadis itu. Arion merasa puas jika Karen sakit hati. Dendamnya pada Novi bisa terbayar.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak bisa membencinya? Jelas-jelas dia lahir dari pria yang telah merampas kebahagiaanku. Merampas Novi dari sisiku! Aku benci kau Rusdi! Akan ku buat kau menyesal karena telah mengambil Novi dari sisiku. Aku ingin kau sakit hati melihat putrimu menderita," gumam Rusdi pada dirinya sendiri.
...****************...