
"Karen, Papi minta maaf jika selama ini menyakiti kamu. Papi benar-benar menyesal penah melakukan semua itu," ucap Arion.
Lagi-lagi Karen memandangi Rico, memohon penjelasan dari pria itu. Karen merasa bingung atas apa yang dia dengar. Rasanya tidak percaya atas apa yang dia lihat dan dia dengar saat ini.
"Papi tahu, tidak akan mudah bagimu untuk memaafkan semua kesalahan yang pernah Papi lakukan. Tapi Papi ingin kamu percaya, jika papi menyesal pernah melakukan semua itu."
Karen terdiam mendengar ucapan Arion. Dia dan Rico hanya mendengar tanpa ingin mengucapkan satu katapun.
Arion kembali menarik napas dalam. Rasanya pria paruh baya itu tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Selama ini dia berpikir jika Novi telah mengkhianati dirinya.
Rasa bersalah dia rasakan karena pernah melakukan hubungan terlarang dengan Novi, ibunya Karen saat itu. Namun, Arion merasa sedikit lega dan bahagia karena tahu ada darah dagingnya yang telah tumbuh dewasa.
Tangan Arion bergerak kembali untuk mengusap wajahnya, sambil menarik napas panjang. Mencoba menenangkan diri dalam setiap helaan dan hembusan napasnya.
__ADS_1
Penyesalan itu mulai menghantui dirinya. Melihat Karen yang ketakutan dengannya, Arion menjadi sedih. Sudut hatinya merasa nyeri mendapatkan kenyataan ini.
"Sebagai bukti rasa penyesalan dari Papi, besok Papi akan ke pengadilan agama untuk membatalkan pernikahan kita. Selanjutmya kamu dan Rico bisa secepatnya menikah, agar bayi dalam kandunganmu itu memiliki keluarga yang utuh," ucap Papi pelan. Namun, semua dapat di dengar Rico dan Karen.
Karen mengerjapkan matanya beberapa kali, semua dilakukan untuk meyakini diri jika semua ini nyata adanya. Semua seperti mimpi.
"Maksudnya, Papi akan membatalkan pernikahan Papi. Itu berarti aku dan Karen bisa menikah segera tanpa menunggu keputusan perceraian?" tanya Rico antusias.
Karen menggenggam tangan Rico. Sepertinya wanita itu masih belum percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
"Jika kamu berkenan, Papi juga ingin terlibat dalam persiapan pernikahan kalian berdua," ucap Arion.
Karen dan Rico saling bertatapan. Mereka masih tidak percaya. Takutnya semua hanya jebakan Arion.
__ADS_1
Melihat wajah Karen dan Rico yang tampak kebingungan, Arion bisa menebak apa yang ada dalam pikiran kedua anaknya itu. Jika dia berada di posisi mereka, mungkin Arion juga tidak akan begitu mudahnya percaya.
"Papi tahu, pasti kalian berdua tidak yakin dengan apa yang Papi ucapkan. Papi tidak menyalahkan pikiran kalian berdua. Tapi kali ini Papi mohon kamu percayalah. Akan Papi buktikan dengan menyerahkan surat pembatalan pernikahan secepatnya," ucap Arion dengan lirih.
Kembali pria itu menarik napas. Dia mengambil air dan meneguknya. Tenggorokan Arion terasa kering. Dia juga merasa ada yang mengganjal sehingga sulit baginya untuk bernapas.
"Jika apa yang Papi katakan itu benar, boleh aku tahu apa alasannya Papi berubah pikiran. Seperti yang Papi katakan, memang sulit dipercaya seorang Arion berubah pikiran secepat ini. Apa tidak ada sesuatu yang Papi sembunyikan?" tanya Rico.
Dari pengalaman selama ini, dia harus tetap tenang menghadapi Papinya. Dia tidak boleh ceroboh dan langsung percaya dengan semua yang Papinya katakan. Bisa saja semua ini adalah jebakan untuknya dan Karen.
"Untuk saat ini Papi belum bisa mengatakan apapun. Percayalah jika ini Papi lakukan dari hati yang terdalam. Papi mohon kamu bisa memaklumi. Kamu bisa ikut pengacara Papi saat dia mendaftarkan pembatalan pernikahan besok," ujar Papi.
...****************...
__ADS_1