
Karen berjalan perlahan menaiki tangga menuju kamarnya. Dia takut nanti bertemu lagi dengan Rico. Bagaimanapun dia mencintai pria itu, semua harus dia kubur karena tidak pantas seorang istri masih menyimpan perasaan pada pria lain, apa lagi itu putra dari suaminya.
Saat Karen akan membuka pintu kamar, matanya tertuju pada pintu kamar Rico yang sedikit terbuka. Saat Karen akan masuk, dia mendengar suara pecahan kaca dari kamar pria itu.
Karen mengurungkan niatnya untuk masuk. Kakinya melangkah menuju kamar putra tirinya itu. Dia mengintip ke kamar, tampak pecahan kaca botol minuman di lantai. Ada juga foto mereka berdua saat liburan ke pantai.
Rasa penasaran membuat Karen mendorong sedikit pintu agar bisa melihat apa yang Rico lakukan. Ternyata pria yang masih sangat dia cintai itu terduduk di lantai sambil menangis.
Karen menjadi iba melihat kekasih hatinya itu. Ingin rasanya dia membawa Rico ke dalam pelukannya. Namun, itu tidak mungkin. Saat ini hubungan di antara mereka telah terlarang.
Ditutupnya kembali pintu kamar Rico. Berjalan menuju kamarnya. Tangis Karen tidak bisa dibendung lagi. Teringat kisah cinta nya yang manis bersama dengan Rico.
"Aku tak pernah menyesali perkenalan kita, namun yang aku sesalkan kenapa terlalu awal untuk mengenal kata berpisah. Padahal hujan belum sempat menyambangi bumi, namun rintiknya telah membasahi pipi, hingga menusuk dalam relung hati. Ibarat bulan yang tak pernah meninggalkan bumi, bintang pun tak pernah meninggalkan langit, begitu juga diriku yang tidak akan perhah meninggalkan kenanganmu. Kamu akan selalu menempati. ruang dihatiku ini," ucap Karen dalam hatinya.
Satu jam berlalu, Karen akhirnya tertidur. Dia tidak tahu jika Arion suaminya keluar rumah dan pulang hingga larut malam.
Jam tiga dini hari barulah Arion pulang. Rico yang duduk di ruang keluarga memandangi kedatangan ayahnya dengan mata tajam.
__ADS_1
"Dari mana, Papi. Pagi baru pulang?" tanya Rico dengan penuh penekanan.
Ini yang membuat Rico memilih tinggal di apartemen setelah ibunya meninggal. Papinya selalu pulang pagi dan pernah juga membawa wanita ke rumah. Rico benci dengan semua itu.
"Papi ada rapat."
"Rapat hingga pagi?"
"Kamu bukan anak kecil lagi, dan saat ini telah mulai terjun di dunia bisnis. Pasti kamu tahu apa yang dilakukan para pebisnis setelah rapat."
"Sudahlah, Papi capek."
Arion berjalan meninggalkan Rico tanpa menoleh lagi. Dia terus berjalan menuju kamar. Tampak Karen yang masih terlelap di dalam mimpinya.
***
Karen menyiapkan sarapan yang telah di masak bibi ke atas meja makan. Setelah semua siap dihidangkan Karen meminta tolong bibi untuk memanggil suaminya Arion dan putranya untuk sarapan pagi.
__ADS_1
Arion yang baru saja selesai mandi dan berpakaian rapi langsung turun menuju meja makan. Begitu juga dengan putranya Rico.
"Aku akan dinas keluar kota. Mungkin selama satu minggu. Kamu tidak apa-apa aku tinggalkan?" tanya Arion.
"Tidak apa, Pi."
"Rico, selama Papi diluar kota, papi harap kamu jangan kemana-mana. Menginap di sini saja. Papi titipkan Mami kamu."
Rico mengangkat alisnya tanda setuju. Siapa yang tidak senang ditinggalkan berdua dengan kekasih tercinta.
"Papi jangan kuatir. Aku akan menjaga Mami dengan segenap jiwa ragaku. Tidak akan aku biarkan terluka sedikitpun."
"Baiklah. Jika begini, Papi akan lebih tenang perginya," ucap Arion.
Setelah sarapan Arion langsung pamit. Dia pergi berdua dengan supir.
...****************...
__ADS_1