GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 72. Berusaha Menerima


__ADS_3

Karen meletakan minum dan makanan yang dia bawa ke atas meja yang ada dihadapan Arion. Dia duduk dihadapan Arion.


"Karen, apa kedatangan Papi mengganggu," ucap Papi Arion.


"Tidak, Pi," ucap Karen sedikit gemetar. Dia tidak menyangka jika mantan suaminya itu dstang berkunjung.


Karen menatap ke arah pria paruh baya itu, yang juga melihat ke arahnya dengan tatapan menyesal. Tidak pernah terlintas dalam benak Karen, kalau Arion akan memberikan tatapan yang seperti sekarang ini. Entahlah, Karen juga tidak bisa mendeskripsikan dengan jelas bagaimana tatapan mereka tapi wanita itu tahu, ini tatapan yang belum pernah dia dapatkan dari pria itu sejak dia mengenalnya.


"Papi minta maaf karena selama ini Papi sudah jahat dan banyak salah ke kamu, Karen. Maafkan atas semua kata-kata kasar yang keluar dari mulut Papi," kata Arion tulus dari hati. Ucapannya yang tiba-tiba itu membuat Karen sedikit kaget.


Mendengar Arion meminta maaf kembali kepadanya, membuat Karen tentu saja kaget. Bahkan Karen berulang kali mencubit lengannya sendiri secara diam-diam hanya untuk memastikan bahwa apa yang dia dengar barusan memang terucap dari mulut papi Arion.


Senja menarik napas dalam, sesungguhnya sulit baginya mempercayai semua. Namun, dia juga tidak mungkin menyimpan dendam selamanya.


"Aku sudah memaafkan Papi." Hanya itu yang terucap dari mulutnya. Dalam hatinya, Karen belum begitu bisa menerima semua ini.


"Tapi kamu beneran 'kan? Sudah memaafkan Papi?" tanya Papi kepada putrinya itu.


"Sudah kok," jawab Karen seraya menganggukkan kepalanya.


Arion senang mendengarnya, dia bersyukur karena Karen ternyata perempuan yang sangat baik.

__ADS_1


"Kalau kamu sudah memaafkan Papi, Papi harap jangan ada rasa takut dan canggung lagi. Biar lebih terasa kalau kamu memang sudah membuka hati untuk papi," pinta Arion kepada Karen.


Karen pun menganggukkan kepalanya. Karen berjanji akan berusaha menghilangkan trauma jika memang terbukti Arion berubah. Bukannya Karen dendam, tapi rasa takut dan trauma itu tidak mudah hilang begitu saja, apa lagi jika mereka duduk berdua begini.


Saat ini saja, Karen merasa detak jantungnya berpacu cepat. Tangannya gemetar dan dingin.


"Iya, Papi," ucap Karen masih belajar untuk bisa menerima Arion.


Arion senang mendengarnya. Lega sudah rasanya karena Karen benar-benar meyakinkan mereka bahwa semua perseteruan mereka telah berlalu.


"Mulai sekarang, kamu tidak perlu sungkan lagi sama Papi. Sama halnya Papi memperlakukan Rico seorang putra, maka Papi akan menganggap kamu bagaikan putri Papi sendiri." Arion berkata dengan penuh ketulusan dari hati, membuat Karen merasa kalau dia seolah-olah mendapatkan energi baru yang sudah lama hilang dari tubuhnya.


Entah perasaan apa ini? Keren tiba-tiba merasa ada sesuatu antara dia dan Arion. Tapi dia tidak bisa menjabarkan.


"Oh ya, apa kalian sudah membeli barang-barang untuk calon bayi kalian kalau lahir nanti?" tanya Arion kepada Karen.


"Sebagian sudah ada yang kami beli, Pi," jawab Karen masih canggung.


"Kalau persiapan pernikahan, apa sudah matang?" tanya Arion lagi.


"Kami rencananya hanya menikah tanpa mengadakan pesta. Itu setelah surat pembatalan nikah keluar."

__ADS_1


"Kenapa tidak mengadakan pesta. Biar Papi yang mengurus semuanya. Surat pembatalan pernikahan, besok juga keluar. Jadi pernikahan kalian bisa berlangsung minggu depan," ucap Papi dengan semangat.


"Nggak usah repot, Pi. Biar saja hanya nikah saja. Orang-orang akan heran jika melihat aku dan Rico akhirnya menikah," ucap Karen.


"Justru itu harus diadakan pesta. Sekalian Papi akan mengumumkan pembatalan pernikahan Papi dan kamu," ujar Papi lagi.


Karen hanya tersenyum. Dia tidak bisa memutuskan semua tanpa bicara terlebih dahulu dengan Rico.


"Nanti aku bicarakan dulu dengan Rico, Pi."


"Pokoknya nanti kalau semisal kalian butuh apa-apa, tinggal kontak Papi saja. Pasti akan Papi bantu, tidak usah takut tentang ini dan itu." Arion mewanti-wanti Karen agar bisa mengandalkan dirinya sebagai orang tua.


Arion ingin menjadi orang tua yang lebih berguna untuk Karen guna menebus kesalahannya yang sudah lalu. Walaupun Arion juga tidak yakin, apakah yang akan dia lakukan nanti bisa menebus kesalahannya atau tidak. Namun, yang namanya masa lalu akan tetap menjadi masa lalu, dan seseorang hidup untuk masa depan.


Bukan untuk terpaku di masa lalu. Walaupun sulit, antara Arion, Karen dan Rico tentu saja akan berusaha mengikhlaskan segala yang pernah terjadi karena waktu tidak akan pernah bisa diulang kembali. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi.


"Sebelumnya, aku mau bilang terima kasih sama Papi karena sudah mau membatalkan pernikahan sebelumnya," ucap Karen akhirnya.


Arion pun tersenyum kepada Karen. Aura kebapakan dalam diri Arion seketika terlihat di mata Karen, dan ini membuat sedikit rasa takut di diri Karen berkurang saat berhadapan dengan Arion. Berbeda dengan kemarin, Karen pasti akan gemetar hebat setiap kali bertatap muka dengan Arion.


"Tidak perlu bilang begitu, lagi pula kalau harus ada yang bilang terima kasih di sini, Papi adalah orangnya. Karena kamu mau menerima dan memaafkan Papi yang banyak salah ini," ucap Papi tulus.

__ADS_1


Memang tidak mudah bagi Karen memaafkan orang lain yang statusnya sebagai mantan suaminya dan orang itu pula yang dulu sudah pernah berkata-kata tidak mengenakkan kepadanya dan melakukan tindakan kejam padanya.


...****************...


__ADS_2