GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 15. Obat Tidur


__ADS_3

Arion yang ingin menarik kursi untuk dia duduk mengurungkan niatnya karena ponselnya yang berdering. Pria paruh baya itu berjalan sedikit menjauh, sepertinya tidak ingin pembicaraannya di dengar orang.


Kesempatan itu digunakan Rico untuk melakukan aksinya. Dia merogoh koceknya dan menuangkan sesuatu ke minum Arion. Karen yang menyaksikan itu menjadi heran dan kaget.


"Rico, kamu memasukan apa ke dalam minuman Papi?" tanya Karen.


"Aku memberi obat tidur untuk Papi," ujar Rico.


"Apa itu tidak berbahaya?" tanya Karen lagi.


Dia takut Rico menambahkan obat seperti saat pesta pernikahannya kemarin. Keinginan untuk melakukan hubungan badan begitu besarnya sehingga dia akhirnya terjebak dengan Rico.


"Hanya saja jika dosisnya terlalu tinggi  dapat membuat orang yang meminumnya merasa lupa, merasa pusing, bingung, dan sulit untuk berpikir keesokan harinya."


Karen menarik napas lega mendangar ucapan Rico. Dia sangat takut jika memiliki efek samping yang berbahaya.


Setelah puas mengobrol, Arion kembali ke meja makan dan menarik kursi untuk duduknya. Makan malam dilewati tanpa suara.


"Karen, mungkin bulan madu kita di tunda dulu. Besok aku harus keluar kota lagi. Tapi kali ini hanya sebentar, cuma dua atau tiga hari aku pergi," ucapnya.


Tanpa Arion sadar, ucapannya itu membuat Rico tersenyum. Akan dia lakukan apa pun untuk dapat menjalin hubungan kembali dengan Karen.

__ADS_1


"Nggak apa, Pi. Memang sebaiknya Papi selesaikan dulu semua pekerjaan baru kita bulan madu."


"Aku janji secepatnya kita akan pergi. Besok kamu mau ikut denganku atau tinggal saja?" tanya Arion dengan Karen.


"Aku tinggal saja, Pi. Nanti jika ikut, bisa mengganggu pekerjaan. Akan membuat lama selesainya," ujar Karen.


"Kalau memang begitu, Papi titip Mami Karen lagi denganmu. Jangan bawa ke luar kota!" perintah Papi.


Rico menganggukkan kepalanya dengan cepat. Tersenyum penuh arti.


"Karen, aku mengantuk," ucap Papi sambil menguap.


Arion berdiri dan berjalan menuju tangga diikuti Karen. Rico hanya melihat hingga keduanya masuk ke kamar.


"Aku mengantuk banget. Aku tidur dulu," ucap Arion terbata. Setelah itu dia terlelap dalam alam mimpi.


Karen memandangi wajah Arion dengan intens. Yakin semua ini karena perbuatan Rico.


"Maafkan aku, Pi. Aku tidak bisa mengendali kan perasaan ini. Aku masih mencintai Rico. Aku tahu ini tak pantas. Hubungan kami sangat terlarang." ucap Karen sambil matanya terus memandangi wajah pria yang berstatus sebagai suaminya itu.


Karen lalu berdiri dan membasuh wajahnya. Setelah itu dia kembali ke ranjang setelah mengganti baju tidurnya.

__ADS_1


***


Pagi telah menjelang. Setelah mandi, Karen segera turun dari lantai dua menuju dapur seperti biasanya.


Saat sedang memasak, Rico muncul dengan senyum semringah. Dia yakin usahanya untuk menggagalkan Papinya melakukan hubungan badan dengan Karen, berhasil.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Karen penasaran.


"Aku senang karena milikku tidak ada yang menyentuhnya."


"Kamu harus ingat Rico, tidak mungkin kamu memberikan obat tidur pada makanan Papi setiap hari, karena itu akan membuat dia curiga."


"Aku tahu, Karen. Aku akan mencari cara lain untuk semua itu. Kamu itu milik Rico, tidak boleh ada orang lain menyentuhnya."


Rico lalu mendekati Karen, memeluk tubuhnya dan mengecup pipi Karen. Wanita itu melototkan matanya kaget.


"Lepaskan pelukan kamu, Rico. Nanti ada yang melihat!" ucap Karen pelan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya takut ada yang melihat. Namun, Rico tak jua melepaskan pelukannya.


Arion berjalan perlahan menuju meja makan. Kepalanya masih terasa pusing. Pandangan matanya tertuju ke arah kedua orang yang sedang kasmaran itu. Tampak Rico dan Karen belum menyadari kehadiran Papi di dapur.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2