
Arion memandangi putranya dengan sinis. Bagaimanapun dia memohon, tidak akan pernah Arion mengatakan kebenarannya.
"Bukan begitu, Pi. Permintaan maaf dan juga pertanyaanku tentang keberadaan Karen adalah dua hal yang berbeda, Pi. Kenapa harus saling menghubungkannya?" Rico mencoba untuk tetap tenang. Dia tidak boleh membiarkan Arion mencurigainya, meskipun apa yang dikatakan oleh Papi itu memanglah tujuannya.
Arion tersenyum meremehkan, pria paruh baya itu bangkit dari kursinya dan berjalan mendekat pada Rico. "Mungkin bagimu itu dua hal yang berbeda, tapi menurut penafsiranku itu saling berkaitan satu sama lain," jelas Arion, "Kedatanganmu secara tiba-tiba saja sudah bisa tertebak. Jadi tidak perlu menyembunyikan tujuan aslimu."
Rico yang mendengar itu sedikit menegang, pemuda itu tidak percaya kalau Arion sudah bisa menebak secara jelas maksud kedatangannya. Diam-diam satu tangan Rico mengepal kuat, dia menahan diri untuk tidak menonjok wajah Papi-nya.
"Kalau begitu baguslah, aku tidak akan berpura-pura lagi sekarang." Rico menatap Arion dengan sedikit angkuh. Sebenarnya dia sudah tidak tahan berhadapan dengan Arion. "Tolong katakan di mana Karen sekarang? Di mana Papi menyembunyikannya?" tanya Rico menggebu.
Arion yang melihat bagaimana cara bertanya putranya hanya bisa menepuk pundak Rico pelan. "Tenanglah, tidak perlu seperti itu. Dia baik-baik saja, Mamimu di tempat yang aman," jawab Arion dengan sangat tenang. Bahkan dia sengaja menekan nada bicaranya di akhir kalimat.
__ADS_1
"Aku bisa melaporkan Papi dengan kasus penculikan," ancam Rico.
Kembali ucapan Rico itu membuat Arion tersenyum sinis. Dia kembali mendekati putranya.
"Apa kamu lupa jika dia istri sahku? Kemanapun aku bawa pergi tidak ada yang bisa melarangnya!" ucap Arion dengan penuh penekanan.
Rico sedikit tidak terima dengan kalimat Mamimu dan istri sah itu, tapi untuk saat ini dia tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Jika dia membantah, maka akan terjadi perdebatan yang mungkin saja membuat Arion semakin marah dan tidak akan mengatakan apa pun mengenai keberadaan Karen.
"Kenapa kamu sangat penasaran dengan keberadaan Mamimu, hm? Kamu mengkhawatirkan sebagai mami atau kekasih?" tanya Arion dengan tersenyum sinis.
"Karena aku mengkhawatirkannya. Sebagai putra sambungnya aku juga mengkhawatirkannya, karena aku sudah lama tidak melihatnya. Jadi tolong katakan kepadaku di mana Mami sekarang?" Rico semakin menekankan suaranya. Dia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.
__ADS_1
"Jika sebagai kekasih, tentu aku lebih mengkhawatirkan. Tapi aku sadar sekarang jika itu terlarang," ucap Rico lagi.
"Aku tidak akan memberitahukan padamu. Maaf." Setelah mengatakan itu Arion langsung pergi dari hadapan Rico, tapi dengan sigap pemuda itu menahan lengan Papi-nya.
"Tolong, Pi. Katakan di mana Karen, aku berjanji setelah ini aku akan menjauhinya asalkan Papi memberitahu di mana dia. Aku hanya ingin memastikan apakah dia baik-baik saja atau tidak," pinta Rico dengan tulus.
"Sekeras apa pun kamu memohon, aku tidak akan mengatakan di mana Karen berada," tegas Arion, kemudian dia melepas tangan Rico dan pergi begitu saja.
Rico menatap kepergian Papinya dengan menahan amarah. "Jika secara baik-baik tidak bisa, mungkin aku harus melakukan secara licik agar tahu keberadaan Karen," ucap Rico dalam hatinya.
...****************...
__ADS_1