
Dua bulan Kemudian.
Kehamilan Karen telah memasuki bulan kelima. Perutnya sudah makin membesar. Saat ini mereka telah menempati rumah baru. Tidak tinggal di apartemen lagi.
Sejak awal Karen hamil, Rico yang lebih mengalami ngidam. Dia sering merasa mual dan muntah. Rico juga lebih suka makanan pedas dan asam.
"Mas, seminggu ini sepertinya keadaan Mas udah mulai membaik. Aku nggak ada melihat Mas mual dan muntah lagi," ucap Karen melihat suaminya yang lebih cerah.
"Kamu tahu kenapa?" tanya Rico dengan senyum mencurigakan.
"Mana aku tahu! Yang merasakan mual dan pusing Mas Rico. Berarti hanya Mas yang tahu kenapa saat ini tidak lagi merasakan itu," jawab Karen.
"Itu semua karena aku sudah mendapat jatah malam dari kamu," ucap Rico sambil berbisik.
Karen langsung mencubit lengan Rico begitu mendengar ucapan suaminya itu. Karen masih saja malu jika bicara mengenai hubungan suami istri. Itulah makanya Rico selalu menggoda.
"Mas itu pikirannya mesum aja," ucap Karen cemberut.
"Namanya juga pria normal, Sayang. Dari pada suamimu ini tidak ada gairah dan hanya diam tanpa semangat. Nanti kamu kalau pengin gimana?" Pertanyaan Rico makin membuat wajah Karen memerah.
"Udah, ah. Pagi-pagi ngomong itu!" ujarnya dengan wajah memerah.
"Kamu jadi pengin ya? Ayo kita olah raga pagi!" ajak Rico makin menggoda istrinya itu.
"Mas ...!" teriak Karen. Rico hanya tersenyum melihat Karen yang kesal.
***
Saat ini kandungan Karen sudah memasuki bulan kelima. Rico berencana akan mengadakan syukuran atas kehamilan istrinya itu. Sekaligus untuk syukuran atas rumah baru mereka.
Rico yang sejak awal ingin tinggal di rumah saja, mengingat kandungan Karen yang makin membesar.
__ADS_1
Hubungan Karen dan Papi Arion sudah makin membaik. Begitu juga dengan hubungan antara Arion dan Rusdi.
Rico akan mengundang semua rekan kerjanya, untuk mengenalkan Karen sebagai istrinya. Teman-teman Karen juga tidak lupa masuk daftar undangan.
Pagi hari seperti biasanya Karen di dapur membuatkan sarapan buat Rico. Walau ada dua orang yang membantu tapi buat sarapan dan makan malam suaminya, Karen berusaha masak sendiri, tidak ingin prmbantu yang melakukan.
Karen juga ingin melayani suaminya, bukan hanya di tempat tidur saja. Arion terkadang juga makan malam di rumah. Atas permintaan Rico agar Papinya itu makin akrab dengan Karen putrinya.
Rico bangun dan langsung menuju dapur. Mencium bau wangi yang berasal dari sana. Rico melihat istrinya Karen sedang memasak di dapur.
"Sayang, kamu masak apa," ucap Rico memeluk pinggang istrinya dan mengecup pipinya.
"Aku buat nasi lemak," ucap Karen dengan senyuman. .
"Itu kamu masak apa?" ucap Rico menunjuk dengan mulutnya ke arah kuali.
"Oseng tempe dan teri. Buat lauknya," jawab Karen.
Mendengar suaminya yang bertanya terus, Karen membalikkan badannya dan menghadap suaminya itu. Wanita itu mengecup bibir Rico. Sejak mereka menikah Karen merasa sangat bahagia.
Rico setiap hari selalu menunjukan rasa cintanya. Karen merasa wanita yang sangat beruntung. Apa lagi hubungannya dengan ayah biologisnya sudah agak membaik. Ini tidak lepas dari bujukan Rusdi. Pria paruh baya itu merasa ikut andil dalam kesalah pahaman ini. Karena dia menutupi jati diri Karen dari wanita itu lahir.
Karen juga setiap hari berusaha merebut hati suaminya itu dengan memberikan semua perhatian, dan membuat semua makanan kesukaan suaminya itu. Dia ingin pernikahan ini yang terakhir baginya.
"Aku udah masak balado telur, dan ayam bumbu. Mas Rico jangan takut. Perut ini akan aku buat penuh terisi setiap hari, biar nggak jajan di luar lagi," ucap Karen sambil memegang perut sauminya itu.
"Terima kasih, Sayang. Percayalah, aku nggak akan mencari jajan di luar lagi, kalau di rumah semuanya udah tersedia," ucap Rico dengan mengecup pipi wanita itu.
Rico dan Karen duduk di meja makan. Istrinya itu mengambilkan nasi lemak beserta semua lauk yang dibuatnya ke piring, untuk suaminya tercinta.
"Enak banget keliatannya," ucap Rico. Pria itu langsung melahap dengan semangat. Karen tersenyum melihat suaminya yang dengan lahap menghabiskan satu piring nasi dengan cepat.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru makannya, Mas. Tidak ada yang mau merebutnya. Lagi pula masih banyak kok aku buatnya."
"Habis enak banget. Kalau setiap hari kamu masak enak begini, bulan depan aku yakin perutku juga ikut membuncit karena gemuk. Kalau kamu buncitnya karena ada bayi, dan aku karena terisi makanan terus."
"Mas Rico bisa imbangi dengan berolah raga. Jangan tidur aja. Setiap malam usahakan olah raga setengah jam, Mas. Alat-alat olah raga lengkap, tapi tidak digunakan."
"Kamu'kan tahu, Sayang. Bulan-bulan kemarin badanku lemas, kepala pusing. Katanya aku yang ngidam."
"Kata dokter kemarin itu Mas Rico mengalami kehamilan simpatik. Kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom Couvade terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung," ucap Karen menjelaskan.
"Berarti itu semua karena aku simpati dan sangat sayang denganmu," ujar Rico. Karen tersenyum menanggapi ucapan Rico.
"Mas, apa nggak berlebihan kalau kita ngadain syukuran kehamilanku di rumah ini dengan mengundang banyak tamu. Acaranya juga dari pagi hingga malam hari!" ucap Karen.
Rico berencana mengundang seribu tamu undangan, acara di mulai dari pagi hingga malam harinya. Dia ingin sekalian berbagi kebahagiaan karena memenangkan tender besar.
"Aku belum pernah adain syukuran kehamilanmu 'kan? Rekan kerja belum banyak yang tau jika aku telah menikah. Jadi saat syukuran kehamilan nanti, aku akan mengundang semua rekan kerja, sekalian mengumumkan tentang pernikahan kita. Biar semua tau, jika kamu istriku."
"Tapi aku malu. Perutku udah membesar," ucap Karen.
Rico merubah duduknya menghadap Karen. Dipegangnya perut istrinya itu dan mengecupnya.
"Kamu itu tambah cantik dan seksi sejak hamil. Apa lagi dengan perut yang makin membuncit. Aku mau kerja. Mulai hari ini aku pulang makan siang. Atau sesekali kamu yang antar ke kantor. Kamu nggak keberatan, Sayang?" tanya Rico.
"Nggak, Mas. Aku akan antar kapan aja Mas Rico mau dan inginkan makanan dariku. Bosan juga kalau di rumah terus," ucap Karen semangat.
"Kalau gitu, kamu ikut aku saja ke kantor setiap hari," saran Rico.
"Malu, Mas. Sesekali aja," ucap Karen.
"Tapi ingat, kalau ke kantor harus di antar supir. Aku mandi dulu." Rico mengecup pucuk kepala istrinya sebelum berdiri dari duduknya.
__ADS_1
...****************...