GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 22. Kemarahan Arion


__ADS_3

Arion berdiri dari mejanya dan menjatuhkan semua makanan ke lantai. Karen yang melihat itu menjadi ketakutan. Tubuhnya tampak gemetar.


Rico yang melihat itu lalu memeluk Karen. Dia sudah tidak peduli dengan kemarahan Papinya. Tangisan Karen pecah di dalam. pelukan Rico.


"Kenapa Papi marah? Apa salah seorang anak menemui orang tuanya? Karen melakukan itu karena dia sangat kangen dengan ayahnya," ucap Rico lagi.


Arion berdiri tepat dihadapan Rico dan Karen. Matanya merah menahan amarah yang bergejolak di dada. Arion menginjak kaca yang berserakan di lantai dengan sepatunya hingga kaca hancur luluh.


Para pembantu hanya berani mengintip apa yang terjadi. Telah lama mereka tidak melihat kemarahan Arion. Sejak istrinya meninggal Arion tidak pernah emosi dan marah lagi.


Dulu dia sering berdebat dengan istri dan Rico. Semenjak ibunya meninggal, putranya itu lebih memilih tinggal di apartemen. Sehingga tidak ada yang namanya pertengkaran antara anak dan Papinya itu.


Arion menarik paksa Karen dari pelukan Rico sehingga wanita itu terjatuh ke lantai dan kakinya mengenai kaca hingga berdarah.

__ADS_1


Melihat darah yang mengucur dari kaki Karen, tentu saja Rico menjadi marah. Dia lalu membantu Karen berdiri.


"Apa yang Papi lakukan? Jika ada yang perlu disalahkan itu adalah aku. Aku yang mengajak Karen untuk menemui ayahnya tanpa izin Papi. Karena menunggu Papi juga belum tentu diizinkan!" ucap Rico akhirnya.


Arion bertepuk tangan mendengar ucapan Rico. Pada akhirnya Rico berterus terang. Arion telah mengetahui semua mengenai hubungan kedua manusia yang sedang kasmaran itu. Dia merasa di tipu dan dikhianati anaknya sendiri.


"Kenapa kamu begitu membela Karen? Ada hubungan apa antara kamu dan Karen?" tanya Arion dengan penuh emosi.


Rico tersenyum sinis dengan Papinya itu. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Tidak ingin bersembunyi lagi, Rico akan berterus terang tentang hubungannya.


"Katakan cepat! Ada hubungan apa antara kamu dan j*lang ini," teriak Arion.


Darah Rico terasa naik ke ubun-ubun mendengar Papinya menyebut Karen j*lang. Pria itu tidak bisa terima wanita yang dia cintai di hina.

__ADS_1


Rico berdiri, menantang Papinya. Dia tidak takut lagi akan kemarahan pria paruh baya itu.


"Siapa yang Papi katakan j*lang? Apa Papi lupa, semua itu pantas disematkan buat wanita-wanita yang menemani Papi selama ini. Jangan samakan Karen dengan mereka. Apa Papi pernah melihat Karen menjual diri. Melayani Papi yang jelas-jelas sah sebagai suaminya saja dia tidak mau, karena tidak ada rasa cinta!" ucap Rico dengan penuh emosi.


"Jadi harus aku katakan apa wanita yang telah beristri tapi masih mau menjalin hubungan dengan pria lain. Yang lebih parahnya pria itu anak tirinya!" ucap Arion tak kalah emosi dengan Rico.


"Aku dan Karen telah lama berhubungan, jauh sebelum Papi memaksa dia untuk menikah dengan Papi," ucap Rico dengan teriakan.


"Coba kau tanyakan pada wanita itu. Apa aku pernah memaksa dia menikah denganku. Dia saja yang menginginkan itu!" ucap Papi dengan suara yang lebih keras.


Karen yang melihat kedua orang itu saling emosi, akhirnya berdiri. Mendekati keduanya.


"Sudahlah Rico. Semua memang salahku. Tidak seharusnya aku tetap menjalin hubungan denganmu, karena aku telah menikah dengan Papimu," ucap Karen akhirnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2