GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 51. Selamat Pagi Cantik


__ADS_3

Rico berjalan dengan langkah pelan. Sampai di luar gedung, pria itu mengusap wajahnya kasar.


Rasanya Rico tidak percaya dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Selama ini dia hanya mengetahui jika Arion adalah Papi kandungnya.


Rasa bersalah tetap dia rasakan saat melakukan hubungan terlarang dengan Karen selama ini. Namun, Rico merasa sedikit lega karena dia bukan darah daging Arion.


Tangan Rico bergerak kembali untuk mengusap wajahnya, sambil menarik napas panjang. Mencoba menenangkan diri dalam setiap helaan dan hembusan napas, mencoba untuk menenangkan diri.


Rico mendekati mobilnya. Masuk dan menjalankan perlahan menuju rumah sakit. Hari ini dia kembali telat datang ke rumah sakit karena harus bertemu Papi Arion.


Saat ini Rico telah meminta seseorang untuk mengawasi Karen. Satu orang anak buahnya di tempati di rumah sakit.


Rico memberikan sebungkus makanan yang dia beli untuk Andi yang kali ini berjaga. Dia. dan Antoni yang di minta bergantian untuk mengawasi kamar Karen.


"Terima kasih, Pak," ucap Andi.


Rico menjawab dengan tersenyum sambil memukul bahu Andi pelan. Dia segera masuk ke kamar. Sudah tidak sabar ingin bertemu Karen dan berbagi cerita.

__ADS_1


Namun, keinginan Rico untuk berbincang dengan wanita itu sirna saat melihatnya telah terlelap di alam mimpi. Pria itu hanya mengecup dahi Karen sejenak, takut mengganggu tidurnya.


Setelah membersihkan tubuhnya, Rico naik ke sofa dan juga ikut memejamkan matanya. Dia ingin melupakan sejenak apa yang terjadi di hari ini.


***


Hari sudah terang dan sinar matahari telah menggulirkan cahayanya yang menembus kaca jendela besar rumah sakit ini. Rico membuka tirai yang menutupi kaca. Pria itu melihat ke arah tempat tidur Karen, tidak ada reaksi apapun pada wanita itu.


Rico mendekati ranjang dan naik ke atas. Dia memeluk tubuh wanita itu erat. Sengaja mengganggu tidur Karen, agar terjaga dari tidurnya yang sangat lelap. Rico makin mengeratkan pelukannya, dan itu mampu menembus alam mimpi Karen. Sejenak wanita itu menggeliat. Mencoba membuka mata. Tersenyum menyadari Rico yang memeluk tubuhnya.


Berbeda dengan dirinya yang masih kusut karena baru bangun, Karen melihat Rico yang telah mandi dan segar. Pria itu masih mengenakan jubah mandinya. Rambutnya masih basah dan permukaan kulit yang masih terasa lembab. Bau wangi aroma dari sabun mandi memenuhi indra penciumannya.


"Selamat pagi, Ganteng. Jangan cium, aku malu. Masih bau pasti tubuhku," ucap Karen cemberut.


"Bagiku, tubuhmu wangi terus."


"Pagi-pagi sudah gombal aja," ucap Karen kembali cemberut.

__ADS_1


Rico mencubit hidung wanita yang dia cintai itu. Pasti Karen bisa tidur dengan nyenyak karena tahu ada seseorang yang menjaganya di luar sana.


"Mau mandi sekarang?" tanya Rico.


"Aku sudah bisa mandi sendiri. Kamu ganti dulu pakaiannya. Sebentar lagi perawat pasti masuk membawakan sarapan."


"Kenapa kalau perawat melihat aku masih memakai piyama? Kamu cemburu, ya," ucap Rico mencoba menggoda wanita itu.


"Terserah kamu aja. Kalau maunya pecicilan menggoda para perawat, pakai aja piyama. Kalau perlu nggak usah ditutupi piyama," ucap Karen dengan ketus.


Semenjak kehamilannya, emosi Karen memang sering naik turun tak menentu. Kadang di saat tertawa, tiba-tiba terlihat sedih.


"Jangan marah, Sayang. Seluruh tubuhku ini hanya milikmu, terutama hati ini. Aku nggak akan berpaling," ucap Rico merayu Karen.


"Gombalan receh," ucap Karen sambil menahan tawa.


Rico kembali memeluk erat tubuh Karen dan mengecup pipinya. Tiba-tiba terdengar bunyi pintu di buka. Rico langsung turun dari tempat tidur berlari menuju kamar mandi. Karen tidak bisa menahan tawanya. Apa lagi setelah melihat yang masuk ternyata bukan perawat, tapi Andi bawahan Rico.

__ADS_1


...****************...


"


__ADS_2