
Setelah makan malam, Karen langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya. Baru saja dia menghempaskan tubuh di atas ranjang, ponselnya berdering.
Karen melihat nama Arion yang tertera di layar penselnya. Dengan segera dia menekan tombol terima.
Arion mengabarkan jika dia baru bisa kembali lagi ke rumah setelah dua hari ke depan. Banyak yang harus diurus hingga dia harus memperpanjang kerjanya di luar kota. Karen meletakkan ponselnya kembali.
Sementara itu di tempat lain, tampak Arion yang sedang duduk ditemani seorang wanita di dalam ciub malam. Gadis itu memeluk Arion erat.
"Om, aku sudah capek. Kita kembali ke hotel lagi, ya?" ajak seorang wanita yang usianya mungkin di atas Karen.
"Sudah capek atau sudah tak sabar main kuda-kudaan?" Bukannya menjawab pertanyaan wanita itu, Arion bahkan bertanya balik.
"Dua-duanya. Sudah satu bulan jerry tidak masuk ke sarangkan?" tanya wanita itu. Dia adalah wanita yang menemani Arion, dibawanya dari awal ke luar kota.
Arion lalu mengecup bibir wanita yang berada dalam pelukannya itu. Dia lalu berdiri dan membawa wanita itu menuju lantai atas, dimana hotel tempatnya menginap berada.
Arion mungkin lupa jika dia telah memiliki seorang istri. Dia lalu melakukan hubungan badan dengan wanita itu.
__ADS_1
***
Rico mencoba membuka pintu kamar ibu tirinya itu. Beberapa kali mencoba tidak juga bisa membuka, Rico kembali ke kamar. Mengambil kunci dari laci nakas.
Dengan kunci ditangannya pria itu mencoba membuka pintu kamar itu lagi. Kali ini Rico berhasil. Pintu kamar itu terbuka.
Rico melihat Karen yang sedang berbaring di ranjang. Dia mendekatinya. Duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah wanita yang sangat dia cintai itu.
Dengan perlahan, Rico mengecup bibirnya. Ciuman yang awalnya lembut, lama-lama mulai menuntut. Karen yang merasakan bibirnya dilum*t seseorang membuka matanya.
Rico juga melepaskan kukungannya di tubuh Karen. Wanita itu lalu bangun dan langsung menampar pipi pria itu.
"Apa yang kamu lakukan, Rico? Kamu sadar tidak, aku ini telah menjadi ibu tirimu!" ucap Karen dengan nada penuh emosi.
"Jangan munafik Karen. Kamu juga menginginkan ini, bukan?" Rico memandangi Karen dengan mata menyala. Baru Karen sadari ada yang beda dengan pria itu.
"Apa kamu lupa jika kita pernah melakukan hubungan badan. Jika kamu terus menolakku, aku akan mengatakan semuanya pada Papi," ancam Rico.
__ADS_1
Mata Rico tampak bersinar merah. Pasti saat ini dia sedang dibawah pengaruh minuman keras. Kurang kesadaran.
"Pergilah, Rico! Takut ada yang melihat kamu masuk ke kamar ini. Bisa terjadi salah paham."
"Karen, kenapa kamu mengusirku. Apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi. Bagaimana mungkin kita saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak bersama. Mungkin hanya aku yang merindukanmu, meneteskan air mata, dan berharap sedangkan kamu tidak. Memang lebih sulit rasanya bila ditinggalkan daripada menjadi yang meninggalkan," ucap Rico dengan terbata karena air matanya yang mulai turun membasahi pipi.
"Karen, aku akan menunggumu sampai datang hari di mana aku bisa melupakanmu atau sampai datang hari di mana kamu sadar kamu tak bisa melupakanku dan kita kembali bersama. Ya Tuhan, jika harus aku bersabar dan bertahan, apakah akan ada akhir yang indah untukku dan dia. Apakah aku dan Karen akan bersama lagi," ucap Rico.
Setelah mengucapkan itu, Rico terjatuh ke lantai. Mungkin dia telah mabuk berat sehingga kehilangan kesadarannya.
Karen mencoba mengangkat tubuh Rico ke ranjang. Menutup pintu kamar, takut ada asisten rumah tangga melihat. Wanita itu membelai wajah pria itu. Air mata jatuh membasahi pipi Karen.
Bagaimanapun Karen mencoba menepis rasa cinta itu, dia tidak bisa melupakan begitu saja jalinan cinta di antara mereka.
"Maafkan aku, Rico. Aku minta maaf atas kesalahan besar yang telah aku buat. Aku mencintaimu lebih dari apapun dan berharap kamu bisa memaafkanku. Aku benar-benar menyesal telah menyakiti perasaanmu. Kamu sangat penting bagiku dan aku tidak ingin kehilanganmu. Sadarlah, Sayang. Percayalah, walau ragaku tak lagi milikmu, tapi hati ini hanya untukmu," ucap Karen sambil terus mengusap wajah Rico.
...****************...
__ADS_1