
Arion datang berkunjung ke rumah sakit. Dia belum mendengar kabar tentang sadarnya Karen dari koma. Setelah mendapatkan izin dari perawat, Arion masuk ke ruang rawat inap Karen.
Rico memang meminta perawat membatasi orang-orang yang mengunjungi Karen. Jika namanya tidak terdapat dalam list daftar yang diberikan Rico, maka perawat tidak akan mengizinkan masuk.
Dengan langkah pasti, pria paruh baya itu masuk. Dia melihat Rico yang duduk di samping Karen sambil tersenyum. Itu membuat Arion sedikit keheranan.
Saat ini Karen memang telah sadar dari koma, tetapi masih belum bisa menggerakkan tubuhnya. Dia baru bisa merespon dengan membuka mata dan menggerakkan jarinya sedikit.
Namun, semua perkembangan kesehatan Karen ini sudah cukup menyenangkan bagi Rico. Apa lagi tadi dokter mengatakan jika janin yang dikandung wanita yang dicintainya itu masih dalam keadaan normal.
Rico tidak berhenti mengucapkan syukur atas semua keajaiban yang diberikan Tuhan untuknya, terutama untuk Karen.
Rico menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat. Pria itu cukup kaget melihat siapa yang datang. Dia berpikir jika yang datang adalah perawat atau dokter.
__ADS_1
"Selamat sore, Putraku Rico," sapa Arion.
Rico tersenyum dengan sinis. Jika dia tetap mengizinkan Arion mengunjungi Karen itu hanya lah semata karena Rico sadar kalau Karen masih berstatus istrinya.
"Kamu tampak sangat betah menjaga Karen. Sebagai suaminya Karen, saya mengucapkan terima kasih karena kamu mau menggantikan saya untuk merawat dan menjaga dirinya," ucap Arion datar.
Rico menarik napas. Menghadapi Arion butuh kesabaran ekstra dan butuh menstabilkan emosinya. Diakui pria itu dia mudah terbawa suasana sehingga susah untuk mengendalikan emosi.
Arion tampak tersenyum getir. Pandangannya tidak berkedip saat melihat Karen membuka mata. Rico lalu mendekati Karen dan berbisik ditelinganya saat melihat wanita yang dia cintai itu memandangi Arion dengan tatapan ketakutan.
"Sayang, tenang. Kamu nggak usah takut. Ada aku di sini. Papi tidak akan bisa melakukan apapun padamu. Aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu. Tidak akan ada yang bisa menyakiti kamu," ucap Rico dengan berbisik.
Setelah itu, Rico mendekati Papinya. Dia harus mengusir Papinya dari ruangan. Pria itu takut jika kehadiran Arion akan membuat kesehatan Karen kembali menurun.
__ADS_1
"Aku harap Papi bisa keluar! Karen sepertinya takut melihat kehadiran Papi. Aku tidak mau Karen kembali koma," ucap Rico.
"Siapa sebenarnya yang lebih berhak mendampingi Karen?" tanya Arion.
"Ini bukan siapa yang lebih berhak mendampingi. Tapi siapa yang lebih nyaman bagi Karen, semua untuk pemulihan kesehatannya."
"Kamu semakin hari Papi lihat semakin keterlaluan. Tidak ada rasa sopan. Apa kamu lebih memilih membela Karen dari aku, Papimu? Padahal wanita itu bukan siapa-siapa bagimu. Dia hanyalah orang asing. Hanya ibu tirimu," ucap Arion.
"Pi, aku mohon maaf jika semua sikapku membuat Papi tersinggung. Jangan juga meminta aku memilih antara Karen dan Papi. Kalian berdua memiliki tempat yang berbeda dihatiku. Karen, wanita yang aku cintai, sedangkan Papi, orang tuaku. Yang sampai hari ini tetap aku hormati. Aku ingin kita saling menghargai!" ucap Rico.
...****************...
__ADS_1