
Hari ini sidang perceraian antara Karen dan Arion kembali berlangsung. Sekitar dua jam sidang berlangsung. Karen keluar dari sidang dengan wajah lelah dan tiada senyum.
"Bagaimana?" tanya Rico dengan lembut. Pemuda itu sangat menunggu jawaban dari Karen yang tampak lemas, mungkin di dalam ruangan tadi dia terlalu menahan emosinya.
Karen sendiri masih diam, dia menatap Rico dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Tapi, Rico juga bisa melihat kalau tatapan Karen memancarkan kalau dirinya senang telah melakukan sidang kali ini.
"Sial! Kenapa kau tidak becus sama sekali!" Umpatan itu terdengar dari belakang. Arion terlihat sangat uring-uringan, langkahnya juga sangat cepat mendekat ke Rico dan Karen.
Melihat hal itu membuat Rico sedikit tersenyum, dia yakin kalau sidang kali ini berjalan sesuai dengan rencana. Jika tidak, Arion tidak akan uring-uringan seperti itu saat keluar.
Arion sempat berhenti beberapa detik saat posisinya bersebelahan dengan Rico dan Karen, pria itu menatap dengan intens. Wajahnya juga tampak sangat merah, tatapannya juga sangat tajam, pria itu sangat emosi.
"Apa kau puas dengan semuanya?" tanya Arion dengan penuh penekanan. Pria itu menatap Karen yang setengah tertunduk karena merasa ketakutan.
"Sudah, Pi. Aku mohon jangan marah seperti ini, seharusnya Papi menerima semua ini. Karena memang inilah kebenarannya," sela Rico. Dia berusaha untuk tenang, sebisa mungkin dia tidak menunjukkan raut wajah kekesalan. Bagaimana pun Rico sangat ingin semua ini selesai dan hubungannya dengan Arion bisa kembali membaik.
"Kamu puas mempermalukan Papimu di dalam sana, hah? Kalian berdua sama saja!" bentak Arion sambil membuang muka. Kemudian dia kembali melangkah meninggalkan Rico dan Karen yang masih terdiam melihat tingkah Arion, tidak ada perubaham sama sekali dalam diri pria paruh baya itu.
"Kamu yang tenang, ya. Semuanya akan baik-baik saja, kamu akan menang dengan membawa semua bukti tadi," ucap Rico lembut, pemuda itu mengusap pipi Karen untuk meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.
Karen mengangguk sebagai respon, wanita itu sangat beruntung memiliki Rico yang selalu ada untuknya. Jika tidak ada Rico, entah apa yang bisa dia perbuat, itu sebabnya Karen sangat mencintai pemuda itu.
__ADS_1
Sementara itu, Arion terus berjalan dengan cepat menuju parkiran. Di belakangnya ada pengacara yang setia mengikutinya, raut wajah pengacara itu sedikit pucat. Dia sangat yakin kalau setelah ini dirinya akan dimarahi habis-habisan oleh Arion.
Saat sudah sampai di parkiran, tepatnya di depan mobil Arion, pria itu berbalik dan langsung berkacak pinggang. "Apa ini cara kerjamu?" bentak Arion.
"Maafkan saya, tapi se--" ucap Sariman.
"Cukup!" Arion mengangkat tangannya. Dia memejamkan mata untuk menahan diri tidak menonjok wajah pengacaranya. "Aku nggak mau denger penjelasan apa pun. Rasanya sia-sia aku membayarmu dengan mahal, tapi cara kerjamu sangat tidak becus!" umpat Arion.
Pengacara itu hanya bisa tertunduk, dia juga ingin meluapkan emosinya karena merasa harga dirinya telah sangat direndahkan. Tapi dia sadar kalau saat ini reputasinya lebih penting, jika ada yang tahu dia berani membentak kliennya itu akan memperburuk citranya. Bisa-bisa tidak akan ada yang percaya dengannya.
"Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau mereka akan membawa semua bukti itu," bela pengacara itu sebisanya.
"Jika kau memang pengacara yang sangat pintar, saat di ruang sidang tadi kau bisa membantah semua bukti-bukti yang ada. Itu memang bukti yag benar, tapi setidaknya kau bisa menyangkalnya," lanjut Arion.
"Memangnya sebelum sidang apa saja yang kau lakukan, hah? Apa kau tidak mencari tahu sesuatu? Setidaknya kau tahu apa rencana lawan kita! Dan bagaimana bisa mereka semua mendapatkan bukti foto mengenai perselingkuhanku? Seharusnya kau bisa megendus rencana mereka sebelumnya, jika saja kau melakukan hal itu. Aku tidak akan dipermalukam di dalam sana tadi."
Emosi Arion benar-benar ada dipuncak, pria itu tidak memperdulikan apa pun lagi. Dia akan merasa impas setelah memarahi pengacaranya, menurut Arion, pengacara itu sangat pantas menerima amarahnya di depan umum seperti saat ini.
Tangan pengacara itu mengepal kuat, rasanya dia sudah tidak tahan lagi mendengar hinaan yang diberikan oleh Arion. Menurutnya ini sudah sangat keterlaluan, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun selain menerima dan menahan diri.
"Sebelumnya saya memang sudah berusaha untuk mencari tahu, tapi mereka menunjukkan pergerakan yang tidak mencurigakan. Dan informan saya juga mengatakan kalau mereka tidak mempersiapkan apa pun, tapi ternyata semua itu salah, mereka sudah sangat siap dengan bukti-bukti. Maafkan saya karena terlambat menanggapi tadi, mereka menjabarkan semuanya dengan sangat jelas dan akurat. Sangat sulit untuk membantah semua itu."
__ADS_1
Pengacara itu berusaha untuk membela dirinya lagi. Setidaknya dia ingin Arion mendengarkan penjelasanya terlebih dahulu sebelum memarahinya habis-habisan, apalagi dalam kasus seperti ini memang sangat sulit untuk membela Arion. Dari awal dirinya menerima kasus ini juga sudah ragu akan menang.
"Alah, itu hanya alasanmu! Sekarang pergi dari hadapanku, pergi sejauh mungkin!" teriak Arion.
"Kalau begitu saya permisi," pamit pengacara itu. Sebelum akhirnya pergi dari hadapan Arion, dia juga sudah tidak tahan lagi mendengar omelan pria paruh baya itu.
Sepeninggal pengacaranya, Arion hanya bisa menghembuskan napas jengah, kemudian megacak rambutnya frustasi. "Aaiisshh! Sial sekali hari ini, aku tidak terima karena dipermalukan di ruangan sidang tadi," gumam Arion sambil menendang ban mobilnya sendiri.
Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan mulai meninggalkan parkiran gedung persidangan. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, sepertinya amarahnya akan lama untuk hilang. Entah ke mana dia akan pergi sekarang ini.
Di sisi lain, Rico dan Karen sejak tadi diam-diam melihat Arion yang memarahi pengacaranya. Mereka merasa sangat puas karena bisa membuat Arion merasa malu, Rico juga berharap kalau papinya bisa sadar setelah merasa malu.
"Apa semua akan baik-baik saja?" tanya Karen sambil menatap Rico dalam.
Rico tersenyum, mengusap tangan Karen yang menggelayut dilengannya. "Kamu tenang saja. Semua akan berjalan dengan baik, aku juga sangat berharap kalau kemarahan Papi itu hanya sesaat saja, setelah itu dia akan melupakannya," jawab Rico dengan tenang.
"Aku juga berharap hal itu. Tapi dia terlihat sangat marah tadi, dia juga pergi membawa mobil dengan kecepatan penuh. Apa tidak akan terjadi sesuatu kepadanya?"
"Semoga saja tidak, Papi sering melakukan hal itu saat marah. Dan ke mana dia pergi aku juga tidak tahu, mungkin saat ini dia sangat mebutuhkan tempat untuk meluapkan semua emosinya." Setelah mengatakan itu, Rico mengusap lembut rambut Karen agar wanita itu tenang dan tidak terlalu memikirkan kemarahan Arion.
...****************...
__ADS_1