GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 28. Bertanya Dengan Papi


__ADS_3

Rico yang berada di apartemannya berniat untuk datang ke rumah Papi-nya untuk meminta maaf, dia ingin mencoba mencari tahu keberadaan Karen. Mungkin dengan dia meminta maaf, Papi Arion akan memberi tahu di mana keberadaan Karen. Rico khawatir kalau ayahnya melakukan hal yang buruk kepada Karen, karena Papinya saat ini sedang marah.


"Aku harus menurunkan ego untuk bisa mengetahi keberadaan Karen. Aku harus menemui Papi sekarang juga," ucap Rico menyakinka dirinya sendiri. Meskipun ini sangat sulit, tapi demi Karen dia bisa melakukan apa pun.


Setelah berpikir panjang dan meyakinkan diri, akhirnya Rico berangkat ke rumah Arion. Rico tahu pasti saat berada di sana sambutan Papi kepada dirinya akan seperti apa, tapi dia tetap akan menghadapinya dengan tenang dan sebisa mungkin tidak melibatkan emosinya.


Dengan penuh percaya diri, pemuda itu mulai melajukam mobilnya menuju kediaman Arion. Rico tahu betul kalau saat ini ayahnya sedang berada di rumah, jika tidak mungkin saja Arion sedang menengok di mana Karen berada. Selama perjalanan menuju rumah Arion, Rico berharap kalau dia akan berhasil membujuk Papi-nya untuk mengatakan di mana keberadaan Karen.


Sejak menghilangnya Karen, Rico sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang, dia terus memikirkan bagaimana kondisi Karen. Dia berharap Arion tidak melakukan hal yang buruk kepada Karen, bagaimana pun Karen juga istrinya.


Sesampainya di rumah Arion, Rico langsung nasuk begitu saja ke dalam. Tidak sulit menemukan keberadaan Papi-nya, karena pria itu pasti berada di ruang kerjanya. Saat berada di depan pintu ruangan kerja Arion, ada sedikit rasa takut dalam diri Rico untuk masuk ke dalam, dia masih belum siap ada perdebatan lagi antara dirinya dan Papi Arion.


Namun, Rico harus tetep masuk ke dalam jika ingin mengetahui keberadaan Karen. Dia tidak ingin membuang waktu terlalu banyak dan membiarkan Karen memghilang begitu saja, bagaimana pun ini juga kesalahannya. Tapi, Karen yang harus menanggung semuanya sendiri.


Setelah cukup lama berdiri di depan pintu, akhirnya Rico mulai memutar knop pintu itu dan masuk ke dalam. Dia langsung bisa melihat Arion yang duduk di kursi kerjanya, pria itu menatap tajam Rico.


"Ada apa kamu datang ke sini?" tanya Arion dengan suara tegasnya. Pria paruh baya itu menaruh dokumen yang sedang ia pegang, kemudian melipat tangannya didada.

__ADS_1


"A-aku datang untuk meminta maaf kepada Papi," jawab Rico dengan suara yang sedikit bergetar.


Arion yang mendengar itu hanya merespon dengan senyuman meremehkan, meskipun Rico adalah putranya. Tapi bagi Arion kesalahannya tidak bisa dimaafkan, karena terlalu fatal.


"Apa kamu tau alasan permintaan maafmu?" Arion sedikit mempermainkan putranya.


Rico mengangguk. "Iya, Pi. Aku tau, kesalahanku adalah tetap menjalin hubungan dengan wanita yang sekarang ini sudah menjadi istrinya Papi."


Jika Rico bisa bicara jujur, rasanya saat mengatakan kalimat itu sangat menyakitkan. Dia masih belum rela membiarkan Karen menjadi ibu sambungnya dan melihatnya bersama dengan ayahnya sendiri. Mungkin jika dia tidak mengkhawatirkan Karen, Rico sudah tidak ingin melihat wajah Arion. Tapi, dia tetap bertahan demi Karen.


Arion yang mendengar itu tertawa, kemudian kembali berkata, "Baguslah jika kamu sudah menyadari kesalahanmu itu, tapi untuk saat ini Papi masih belum bisa menerima perminta maafmu itu."


"Terserah Papi! Mau memaafkanku atau tidak, tapi aku datang dan mengatakan hal ini dengan sungguh-sungguh," ucap Rico dengan suara tertahan.


"Kalau begitu itu sangat bagus," respon Arion. Pria itu memberikan tepuk tangan sebanyak tiga kali. "Sekarang kamu sudah selesai, kan? Kalau begitu silahkan keluar dari ruangan ini, karena Papi masih banyak pekerjaan."


"Belum, Pi. Masih ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan." Rico memberanikan diri. Pemuda itu maju satu langkah lebih dekat ke meja kerja Arion.

__ADS_1


Pria paruh baya itu sedikit memiringkan kepalanya. "Ada lagi? Apa itu?" tanyanya dengan nada bicara yang tidak serius.


"Tolong katakan kepadaku di mana Papi menyembunyikan Karen?" tanya Riko akhirnya.


Arion yang mendengar itu semakin menatap tajam kepada Rico, pria paruh baya itu tidak suka jika putranya masih mengkhawatirkan Karen. "Oh, jadi ini alasan sebenarnya kamu minta maaf?"


Arion memandangi putranya dengan sinis. Bagaimanapun dia memohon, tidak akan pernah Arion mengatakan kebenarannya.


...****************...


Bonus visual


Karen



Rico

__ADS_1



__ADS_2