
Rico langsung turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit, begitu sampai di halaman. Dia menghubungi Antoni. Pria itu menunggu Rico di lobi rumah sakit.
"Di mana Karen di rawat?" tanya Rico tanpa basa basi.
"Tadi masih di ruang UGD. Coba saja Bapak ke sana. Papinya Bapak Rico juga ada menunggu di tempat itu," ucap Antoni.
Rico berjalan tergesa menuju ruang UGD. Dari kejauhan dia melihat Arion yang terduduk sambil menunduk. Entah takut atau lelah.
Rico mengepalkan tangannya menahan emosi begitu melihat wajah Papinya. Dia menarik napas panjang mengingat saat ini berada di rumah sakit.
Teringat Karen yang sedang di rawat, Rico kembali berjalan. Dia harus tahu apa yang terjadi dengan wanita yang sangat dia cintai itu. Rico berdiri tepat dihadapan Arion. Pria paruh baya itu belum menyadari kehadiran dari putranya.
"Katakan padaku, apa yang terjadi dengan Karen?" tanya Rico dengan nada penuh penekanan.
Arion mengangkat wajahnya. Memandangi Rico dengan bibir yang tersenyum miring. Tidak menyangka jika putranya itu bisa tahu keberadaan dirinya dan Karen. Padahal Arion telah berusaha menyembunyikan ini dari siapapun.
Pria paruh baya itu menatap putranya dengan tatapan mematikan. Tidak ada tampak cinta di mata Arion buat Rico. Hanya seperti tatapan permusuhan.
__ADS_1
"Apa kabarmu? Sampai juga kau di kota kecil ini!" ucap Arion dengan suara datar.
Rico kembali mengepalkan tangannya menatap pria paruh baya yang selama ini dipanggilnya Papi. Jika saja Rico tidak mengingat statusnya sebagai seorang putra, bisa dipastikan saat ini Arion telah babak belur dibuatnya.
"Jangan mengalihkan pertanyaanku. Di mana Karen? Apa yang telah Papi lakukan padanya? Aku tidak akan memaafkan Papi jika terjadi sesuatu dengannya!" ucap Rico.
Kembali Arion hanya tersenyum menanggapi ucapan Rico. Diakui tingkat ketenangan pria itu begitu besar. Dia tidak mudah terbawa emosi seperti Rico. Mungkin karena faktor usia yang telah matang.
Rico menjadi geram melihat Papi-nya yang hanya tersenyum. Tidak dapat menahan emosinya, Rico menarik kerah baju Papinya itu.
Arion menepis tangan putranya itu. Dia akhirnya berdiri, berhadapan dengan Rico. Kembali pria paruh baya itu memberikan senyuman sinisnya.
Rico mengepalkan tangannya dan mencengkeram kerah baju Arion, lalu mengacungkan ke wajah Arion. Namun, dia tersadar dan menghentikan semua itu.
"Kenapa kau urungkan niatmu untuk meninjuku? Aku baru sadar sekarang, jika aku telah memelihara anak ular selama ini. Akhirnya dia memangsa orang yang memberinya makan. Tidak ada rasa Terima kasih sama sekali," ucap Arion datar.
Rico melepaskan cengkeramannya di kerah baju Arion. Menatap tajam pada pria paruh baya Itu. Mencoba memahami ucapan darinya.
__ADS_1
"Apa maksud Papi?" tanya Rico.
"Aku menyesal membesarkan kamu. Lebih baik memelihara seekor anjing. Masih ada rasa terima kasihnya. Dia akan menjaga tuannya dengan setia."
Rico makin tidak mengerti ucapan Papinya. Dahinya tampak berkerut memikirkan perkataan dari pria itu.
"Katakan saja yang sebenarnya, Pi. Apa maksud dari ucapan Papi itu?" tanya Rico.
Bukannya menjawab pertanyaan Rico, pria paruh baya itu berjalan meninggalkan putranya itu. Ternyata Arion melihat seorang dokter keluar dari ruangan tempat Karen berada.
Rico juga ikutan mendekati dokter itu. Dia ingin tahu keadaan Karen yang sebenarnya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Arion. Rico tampak kurang suka mendengar pria paruh baya itu menyebut kata istri. Namun, dia tidak bisa membantah karena kenyataannya Karen memang istri Arion.
"Saat ini keadaannya masih kritis. Dia membutuhkan banyak darah. Kami akan memindahkan ke ruang ICU. Beruntung darah yang dia butuhkan ada stoknya di sini," ucap Dokter.
Rico kaget saat mendengar Karen membutuhkan banyak darah. Apa yang terjadi dengan wanita yang dia cintai itu? tanya Rico dalam hatinya.
__ADS_1
...****************...