GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 81. Aku Papi Kandungmu


__ADS_3

"Sayang … aku tidak percaya dengan semua ini, bagaimana mungkin bisa semua ini terjadi? Apa … apa yang harus aku lakukan?" Suara Karen begitu kecil di dekat telinga Rico. Dia menyembunyikan wajahnya di leher suaminya, tangisnya belum kunjung berhenti.


Arion masih setia menunggu Karen sedikit lebih tenang, tidak mau terlalu tergesa-gesa. Akan berdampak buruk, malah nanti Karen takut dengan kehadirannya. Juga ada Rico yang siap membujuk, membuat nyaman istrinya. Rico sendiri juga berusaha semampunya untuk bisa membuat Karen menjadi lebih tenang dan tidak meneteskan air matanya kembali.


Hatinya Arion sendiri juga merasa seperti diiris-iris menatap Karen seperti tidak menerima kenyataan selama ini. Dirinya pun merasa berdosa kala mengingat pernah menjalin cinta dengan Karen, sampai sekarang pun masih canggung suasananya. Tapi, untuk kali ini sangat tidak menguntungkan. Status mereka berubah menjadi anak kandung.


"Sayang, udah ya nangisnya. Nanti jadi luntur semua," bisik dan bujuk Rico. Berusaha sekuat tenaganya agar Karen berubah menjadi lebih baik. Sebenarnya dia sendiri pun tak ingin air mata istrinya jatuh seperti sekarang, hatinya merasa sedih sekali.


"Semua juga merasa syok, Sayang. Awalnya aku pun merasakan hal yang sama dengan kamu, syok berat. Papi juga sudah menjelaskan semuanya dengan detail, Sayang. Jangan menangis seperti ini dulu. Papi Arion pun punya penjelasannya, Sayang. Nanti kita beli sesuatu pulang dari sini, aku kasih hadiah kalau kamu mau berhenti menangis." Rico terus berusaha untuk membujuk istrinya agar kembali tersenyum, tidak ada air mata yang leleh di pipinya.


Karen mengusap air matanya, merasa siap menerima semua penjelasan Arion yang lebih detail. Pasti setelah ini ada banyak hal yang dijelaskan untuk menopang sebuah fakta bila dirinya adalah anak Arion. Padahal jelas dulu dirinya pernah ke jenjang pernikahan. Kini malah ada sebuah fakta yang memukul hatinya, Arion adalah ayah kandungnya. Entah mengapa dunia ini begitu cukup mengejutkan, semua dibuat begitu cepat.

__ADS_1


Belum selesai masalah satu, kembali muncul yang lain. Belum selesai dirinya bahagia selepas pulang dari bulan madu, malah ada semua fakta yang berhasil menampar pipinya. Begini bila tidak tahu asal dan usul diri sendiri, setahunya ayah kandungnya adalah ayah Rusdi. Malah di tengah jalan, Arion muncul mengaku sebagai ayah kandungnya. Lantas, selama ini Ayah Rusdi siapa? Bukankah Rusdi yang menjadi suami dari ibunya, lantas bagaimana bisa malah orang lain yang menjadi ayah kandungnya?


Semesta terlalu lucu membolak-balikkan kehidupanku. Tapi, kenapa sampai selucu ini? Aku sendiri sampai bingung harus bagaimana menyikapi semuanya. Kenapa bisa sampai semuanya menjadi rumit? Aku malu sekali, ayah kandungku adalah mantan suamiku? Mengapa cukup konyol? Batin Karen dengan menghela napas panjang.


Karen akhirnya memilih duduk dengan tenang di samping Rico, wajahnya tak lagi terlihat sedih ataupun menangis. Lebih ikhlas dan menerima semuanya dengan hati terbuka. Mau bagaimanapun, darah Arion mengalir di tubuhnya. Tak lagi bisa disangkal sebuah fakta hebat tersebut. Dan anehnya yang seharusnya menjadi mertuanya, malah menjadi ayah kandungnya. Setelah menikah ini adalah kejutan menantang setelah kejadian bulan madu di Bali. Banyak hal tak terduga yang terjadi akhir-akhir ini, membuat hati Karen sedikit was-was.


"Bagaimana bisa aku adalah anak kandungmu? Sedangkan yang aku lihat dari kecil sampai sekarang hanyalah ayah Rusdi. Ke mana kamu, Pi, bila benar ayah kandungku? Bahkan dari aku belajar bicara pun, Ayah Rusdi yang harus aku sebut ayah, bukan orang lain. Kenapa setelah aku sudah sebesar ini, baru berkata demikian? Mengapa bisa?" tanya Karen dengan berusaha menguatkan dirinya, tidak mau sampai air mata meleleh di pipinya.


"Karen, maafkan papi. Sebelum menikah dengan Rusdi, ibumu telah hamil anak papi. Sayangnya papa tidak tahu. Ibumu memilih menikah dengan Rusdi, dengan kondisi sudah hamil. Jadi, kamu lahir hingga sebesar ini berada di dekat Rusdi tentu akan beranggapan bila anak Rusdi, bukan anakku. Papi pun baru tahu bila kamu anakku, Nak." Arion paham bila Karen kecewa dengan sebuah fakta yang ada terjadi pada mereka.


Hati Karen belum seutuhnya menerima semua hal yang terjadi, terlebih harus menerima sebuah fakta bila dia bukan anak dari Rusdi. Tentunya merasa cukup terpukul, terlebih Karen begitu sayang teramat besar untuk sang ayah. Sekarang baru tahu bila dirinya bukan anak dari orang tersebut, tentunya menimbulkan rasa yang cukup kesal dan jengkel. Semua orang di sekitarnya hanya diam dan membiarkan dirinya terus terperosok ke dalam hal yang tidak benar, malah faktanya membuat dirinya benar-benar terjun ke jurang.

__ADS_1


"Sayang …, jangan menangis lagi." Rico memilih mengusap bahu Karen yang masih saja belum bisa menerima kenyataan tersebut. Wanita itu terus saja menangis tersedu-sedu. Membuat hati Rico juga seperti terasa tertusuk.


"Karen, jangan benci papi ya. Papi ini adalah ayah kandung kamu. Ayah Rusdi adalah ayah yang merawat, menjaga dan memberikan semua kebutuhan kamu dari kecil. Kamu … punya dua ayah sekaligus, Nak. Jangan menangis. Papi ikut bersedih," ucap Arion dengan mengusap air matanya.


Ingin mencoba menenangkan, sayangnya dirinya tak memiliki keberanian sebesar itu. Takut malah membuat Karen menjadi kurang nyaman berada di dekatnya, hanya bisa menatap dari jauh saja. Membiarkan yang lebih pantas untuk membuat Karen lebih tenang.


"Maafkan papi, Karen, yang penting kamu sudah tahu semuanya. Hati papi lebih tenang dan lega. Yang paling penting kamu tahu kebenaran tentang dirimu, siapa ayahmu dan ibumu. Aku adalah ayah kandungmu, bukan yang lain. Kamu perlu mengingat hal itu ya, Nak. Papi sangat bahagia kamu sudah mengetahui satu fakta ini." Arion mencoba untuk terus tersenyum kecil, meski hatinya sangat begitu menangis.


Anak sendiri kecewa mendengar fakta yang benar. Membuat hatinya cukup terpukul, artinya dirinya tidak terlalu diinginkan menjadi orang tua yang baik. Terlebih lagi, Karen seperti tak terima bila bukan anak dari Rusdi. Satu hal lagi yang membuat dirinya tidak berhenti terpukul sampai detik ini. Arion merasa malu sekali, tidak pernah becus menjadi orang tua baik itu untuk Karen ataupun Rico. Semua menjadi salah jalan.


"Sudah jangan menangis lagi, Sayang." Rico mengecup puncak kepala Karen dengan lembut, terus memberikan stimulasi agar wanita itu merasa nyaman dan tenang.

__ADS_1


Tak ingin membuat hati Arion merasa bersedih, Rico pun berusaha membuat Karen menjadi lebih membaik. Takutnya Arion nanti malah kepikiran hal-hal yang negatif. Menimbulkan masalah yang cukup serius. Setidaknya kali ini bila mereka berpisah pulang, Arion telah mengetahui kondisi Karen cukup membaik dan bisa menerima keadaan.


...****************...


__ADS_2