
Arion tampak merubah duduknya. Sebelum melanjutkan ucapannya kembali pria itu menarik napas dalam dan panjang. Dia takut Rico tidak bisa menerima semua ini.
Arion meraih tangan Rico yang berada di atas meja. Dia menggenggam tangan putra angkatnya itu. Rasa ingin meminta kekuatan untuk dia berterus terang.
Arion melepaskan genggaman tangannya dan menyandarkan tubuhnya. Manarik napas panjang. Mungkin inilah saatnya dia berkata jujur. Apapun resiko yang akan dia terima setelah mengatakan kebenaran, akan dijalani. Sudah saatnya dia melihat kebahagiaan untuk kedua anaknya.
"Rico, sebenarnya Karen itu anak kandungnya Papi. Makanya Papi mengajukan pembatalan pernikahan. Papi baru tahu semua kebenaran ini," ucap Arion terbata.
Ayah angkat Rico itu lalu mengatakan semua yang terjadi. Berawal dari kepergian dirinya untuk melanjutkan pendidikan. Dia yang tidak tahu jika Novi sedang mengandung anaknya, yaitu Karen.
"Apa yang mau Papi lakukan saat ini?" tanya Rico setelah Arion selesai bercerita.
"Papi ingin menebus semua kesalahan Papi. Apapun yang akan membuat Karen dapat memaafkan kesalahan Papi," ujar Arion lagi.
Arion merasa dadanya sesak, mengingat perlakuan dirinya pada Karen dulu. Jika saja waktu dapat berputar kembali, dia tidak ingin melewati saat itu.
__ADS_1
"Apa Papi mau melakukan apa saja asal Karen bisa dan mau memaafkan, Papi?" tanya Rico.
Arion menganggukkan kepala tanda setuju. Dia memang telah berniat akan melakukan apa saja untuk dapat memperbaiki hubungan dengan Karen.
"Sebaiknya Papi sering bertemu dan bicara dari hati dengan Karen. Semua itu untuk menghilangkan rasa trauma pada diri Karen. Dan juga untuk menghilangkan ketakutan pada dirinya setiap melihat kehadiran Papi," ucap Rico.
"Papi bersedia saja melakukan semua itu. Tapi apa kamu dan Karen tidak akan terganggu dengan kedatangan Papi?" tanya Arion.
"Aku rasa tidak. Papi bisa datang kapan waktu senggang dan mendekatkan diri pas Karen."
"Papi sangat takut Karen akan tambah membenci dan menjauh jika tahu Papi adalah ayah kandungnya. Ayah yang tega menyakiti putrinya sendiri."
"Itu maunya Papi. Tapi semua tidak semudah dan segampang ucapan. Yang merasakan semua itu Karen."
"Ikatan darah antara Papi dan Karen, itu tidak akan bisa dipungkiri begitu saja. Pasti awalnya saja yang sulit. Tapi aku yakin Karen akan memaafkan. Mungkin hanya butuh waktu sedikit agar Karen dapat menerimanya. Aku akan bantu meyakinkan Karen. Papi tenang saja."
__ADS_1
"Terima kasih atas semua pengertian darimu. Walaupun Papi pernah melakukan kesalahan dan sering menyakiti kamu tapi kamu masih bisa menerima dan memaafkan semua kesalahan yang Papi lakukan."
Mata Arion tampak berkaca saat menuturkan semua itu. Sebenarnya Rico bersyukur juga mengetahui kebenaran ini. Papi jadi bisa mengikhlaskaan dan melepaskan Karen tanpa dendam.
Rico juga bisa menjalankan hari dengan tenang tanpa ada perasaan kuatir, Papi akan membuat masalah.
"Sebagai rasa terima kasih Papi karena kamu mau memaafkan dan membantu Papi untuk meyakinkan Karen nantinya, biarkan Papi yang mengurus semua pesta pernikahan kamu."
"Aku juga mengucapkan terima kasih atas niat baik Papi. Tapi semua telah aku urus di hanya tinggal pelaksanaannya saja."
"Kalau begitu biar Papi yang membayarnya," ujar Arion lagi.
"Semua juga telah aku bayar lunas," ujar Rico lagi.
"Jadi apa yang bisa Papi lakukan untuk membantu persiapan pernikahan kalian?" tanya Papi. Sebagai orang tuanya Karen dan Rico, Arion ingin sekali terlibat dalam pernikahan putra dan putrinya itu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin Papi mendoakan semoga pernikahan kami lancar dan kami bahagia selamanya," ucap Rico dengan tersenyu manis.
...****************...