
Nyatanya tidak seperti yang direncanakan, Karen sempat marah saat diajak pulang sebelum dirinya puas menjelajahi banyak tempat di Bali. Akhirnya Rico memperpanjang bulan madunya menjadi sepuluh hari, padahal awalnya hanya lima hari saja. Istrinya merengek meminta perpanjangan waktu, belum puas merasakan udara Bali yang sebenarnya sama saja panasnya dengan ibu kota.
Hingga akhirnya waktu kembali pulang pun telah tiba, mereka pulang ke rumahnya. Namun, Arion sebelumnya meminta waktu mereka beberapa jam untuk berbicara. Rico hanya mengiyakan, tidak terlalu banyak tanya. Dirinya sendiri pun yakin bila ayah angkatnya tersebut akan angkat bicara dengan Karen. Memberikan jalan untuk keduanya bertemu dan juga berbincang-bincang.
"Hari ini papi mau ketemu kita, Papi Arion. Mungkin ada yang ingin dibicarakan sama kita. Nanti siang kita ketemu sama papi," ucap Rico dengan menggenggam tangan Karen lembut.
"Papi Arion? Ada apa? Kamu saja ya, aku tidak usah. Em … aku rasa Papi Arion hanya ingin bertemu denganmu, bukan dengan aku." Karen menggelengkan kepalanya perlahan, membuat Rico menghela napas panjang. Lagi dan lagi membutuhkan bujukan yang lebih ekstra.
"Tidak, Sayang. Papi ingin bertemu dengan aku dan kamu, bukan hanya aku saja. Ada hal penting yang ingin dibicarakan. Aku harap kamu tidak menolak pertemuan ini, tidak lama kok. Hanya berbincang-bincang saja," jawab Rico. Tangannya tidak meninggalkan sedikit saja pinggang milik Karen, membuat wanita itu merasa lebih nyaman dan sedikit tenang.
"Baiklah, tapi jangan tinggalkan aku." Karen menatap kedua bola mata Rico, penuh harap.
"Tentu saja, mana mungkin aku mau meninggalkan kamu sesenti saja. Kamu akan selalu berada di dekatku, Sayang." Rico tersenyum sambil mengecup puncak kepala Karen.
***
"Maaf kami terlalu lama, Pi." Rico dan Karen duduk di depan Arion, kemungkinan pria itu pun sudah menunggu terlalu lama menunggu kehadiran pengantin baru tersebut.
__ADS_1
Arion melemparkan senyuman paling simpul. Tidak terlalu mempermasalahkan keterlambatan Rico juga Karen. Malah dia senang masih bisa diizinkan bertemu dengan keduanya. Makanan dan minuman datang setelah mereka datang.
"Maafkan papi yang meminta kalian untuk bertemu di sini. Pulang dari tempat jauh langsung diajak ke sini, bagaimana bulan madu kalian? Papi yakin sangat mengesankan." Arion tertawa kecil, terlebih pipi Karen langsung memerah padam.
Rico menatap Karen. "Tentu saja, Pi. Kami sangat menikmati liburan berdua, tidak ada gangguan dari siapa saja. Untuk pertemuan ini, kami tak terlalu masalah. Lagi pula tidak terlalu lelah perjalan hari ini."
"Terima kasih, syukur saja. Papi memiliki hal penting yang harus segera disampaikan kepada kalian, terutama kamu Karen." Arion menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
"Papi hanya ingin menjelaskan hal yang masih menjadi rahasia. Kamu, Karen, harus mendengarkan semuanya hingga selesai." Arion benar-benar deg-degan sendiri, takut bila Karen tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari bibirnya. Terlebih wajahnya tidak terlalu bisa dipercaya, tetapi masih ada Rico yang mengerti tentang hal tersebut.
Rico menggenggam tangan Karen, hal ini membuat wanita itu semakin kebingungan. Seperti ada yang berbeda dari kedua pria tersebut, hanya saja dia tidak tahu apa penyebabnya. Karen masih diam, usapan lembut Rico membuatnya menjadi jauh lebih baik. Tetap saja ada rasa bingung yang bersarang di dalam hatinya.
Bagai disambar petir, Karen langsung menoleh dan menatap Arion. Meminta penjelasan yang lebih pasti, pernyataan itu membuat dirinya merasa syok. Pasalnya yang dia ketahui, dirinya adalah anak dari Rusdi, ayahnya sendiri. Selama ini yang dia ketahui dan dia sayangi adalah Rusdi sebagai ayahnya.
"Anak kandung? Maksudnya apa?" tanya Karen, meminta penjelasan yang lebih.
"Iya, kamu adalah anak aku. Anak kandungku adalah kamu, Karen. Maka dari itu setelah semuanya gamblang, aku memilih untuk tidak menikahimu. Kamu sendiri adalah anakku, mana mungkin ada seorang ayah kandung menikahi putrinya sendiri? Lagi pula ada yang lebih pantas bersanding denganmu, Nak, yaitu Rico. Papi percaya dengan Rico," jawab Arion sambil menahan air matanya.
__ADS_1
"Kenapa … kenapa baru sekarang? Kenapa aku baru tahu sekarang? Lalu siapa ayah Rusdi? Sejak aku kecil, beliau adalah ayahku. Kenapa sekarang mengaku menjadi Papiku?" Air mata Karen telah luruh di pipinya, Rico dengan siaga di sampingnya memberikan tempat bersandar.
Rico mengecup puncak kepala Karen dengan lembut. "Apa yang diucapkan Papi Arion adalah benar, Sayang. Aku sudah mendengarkan semua ceritanya dari ayah Rusdi saat datang ke pesta pernikahan kemarin. Kamu adalah anak … Papi Arion, Sayang. Jangan menangis. Kamu bertemu dengan papi kandungmu."
Bisikan Rico semakin membuat tangis Karen pecah. Tak tahu harus senang ataupun sedih saat ini, yang jelas begitu syok. Karen pun bingung sendiri harus bersikap bagaimana. Blank! Karen memilih memeluk tubuh Rico, mencari kenyamanan terlebih dahulu dengan tubuh suaminya. Rico mengusap lembut punggung milik Karen, berusaha membuat perempuan tersebut merasa cukup nyaman dan tenang dengan semua yang baru saja diucapkan.
"Katakan ini hanya gurauan, Sayang. Aku tidak percaya, aku belum bisa percaya. Sama sekali tidak bisa aku percayai. Kenapa kamu tidak memberitahuku jauh-jauh hari, Sayang?" bisik Karen dengan memukul dada Rico.
"Maafkan aku, Karen. Aku tahu semuanya dari Papi. Sebelum menikah denganmu, Papi Arion sudah membuka rahasia itu kepadaku. Hanya saja … aku tidak mau kamu tahu dariku. Semua rahasia itu harus kamu ketahui dari yang bersangkutan langsung, Sayang. Papi Arion adalah orang yang tepat, sebab beliau adalah ayah kandung kamu. Maka dari itu, aku memilih menunggu Papi Arion yang menjelaskan." Rico memberikan pengertian, agar tidak terjadi salah paham.
"Bila semua rahasia itu aku bongkar terlebih dahulu, kasihan Papi Arion. Kamu pun malah bisa benci atau merasa tidak suka dengan Papi Arion nantinya, lebih baik ayah kandung kamu sendiri yang berbicara. Percaya sama aku semua akan baik-baik saja, Sayang. Jangan menangis. Apa yang membuat kamu menangis, Sayang? Kamu telah bertemu dengan ayah kandungmu," bisik Rico kembali melanjutkan.
Karen menatap Arion yang berharap akan mendapatkan permintaan maaf sebesar mungkin dari sang putri kandung. Dia sendiri pun merasa syok, tak menyangka bila perempuan yang ingin dinikahi adalah anaknya sendiri. Betapa terpukulnya dirinya selama ini, hingga akhirnya memberanikan diri membuka semua rahasia di depan Karen.
"Kenapa tidak membongkar semuanya dari dulu? Kenapa semua orang bungkam? Kenapa ayah Rusdi juga ikut bungkam denganku?" lirih Karen dengan mengusap air matanya.
"Maafkan, Papimu. Jika lebih berhati-hati tak akan seperti ini hasilnya, papi merasa menjadi orang paling b*jing*n sedunia. Anak sendiri saja tidak mengenali papi kandungnya sendiri. Sekali lagi maafkan papi, Nak." Arion mengusap air matanya yang ikut menuruni pipinya.
__ADS_1
...****************...