GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 79. Bulan Madu


__ADS_3

Pernikahan Rico dan Karen berjalan lancar. Sebagai wali nikah diwakili pak penghulu. Tamu yang hadir hanya teman terdekat mereka.


Saat ijab kabul, Karen berada dalam kamar sehingga tidak begitu mendengar apa yang diucapkan Rico. Keduanya tampak sangat bahagia di pelaminan.


Ayah Rusdi dan Arion juga tampak bahagia menyaksikan kedua anak mereka bersanding. Raut wajah Karen tampak bahagia dan berseri, berbeda saat menikah dengan Arion dulu.


***


"Bagaimana perasaanmu, Sayang?" bisik pria yang kini masih melingkarkan tangannya di pinggang wanita pujaan hatinya.


"Masih terlalu pagi untuk membicarakan perasaan, kembalilah tidur. Aku ingin menikmati dunia mimpiku, terlalu indah untuk aku lewatkan. Kembalilah bermimpi, Sayang. Nanti saja kita bangun," jawab si wanita dengan mata yang masih tertutup. Tangannya mengusap lembut tangan pria yang berada di atas perutnya.


Karen dan Rico tengah menikmati masa bulan madunya di Bali. Tanpa menunggu waktu lama, selesai acara mereka langsung terbang ke Bali. Rico ingin istrinya memiliki kenangan tak dapat terlupakan di malam pertama mereka. Hingga akhirnya destinasi yang dituju pun jatuh pada Bali, tidak lama berada di sana sebab pekerjaan pun telah melambai-lambai menunggu.


Pasangan baru tersebut, memejamkan mata kembali dengan bibir menyunggingkan senyuman tipis. Karen berbalik badan, dia menatap wajah Rico. Tangannya menyentuh lembut pipi pria tersebut, hingga jatuh kepada hidung mancungnya. Suaminya tersebut tidak gagal sama sekali, malah begitu tampan di matanya. Membuat hati berhasil berbunga-bunga. Malah Karen tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah milik Rico.


"Kenapa, Sayang? Kamu mengagumi wajahku? Aku tampan bukan? Bayangkan saja bagaimana nanti wajah anak kita. Kamu cantik dan aku tampan, perpaduan yang komplit sekali. Aku sudah tidak sabar menanti kehadirannya di tengah kita. Pasti akan lengkap sekali kehangatan keluarga kecil ini," ucap Rico dengan mengecup dahi Karen.


"Kamu tidak tidur?" Karen terkejut, sedangkan Rico membuka matanya sambil tersenyum kecil.


"Siapa bilang aku tidur? Aku di sini hanya menunggu kamu, Sayang. Aku sudah bangun sejak dua jam yang lalu. Pandanganku tidak lepas dari kamu, wajahmu sangat damai sekali saat tidur. Tidak mungkin aku meninggalkan kamu sendirian di kamar ini. Malah aku bingung bila sendirian. Lebih baik mencari kehangatan saja," jawab Rico dengan mengedipkan matanya ke arah Karen.


Wanita itu pun ikut tersenyum malu-malu, pipinya bersemu merah padam. "Sayang … kamu apaan sih? Aku jadi malu. Ayo bangun, kita harus keliling melihat semua hal yang ada di sini. Aku tidak mau melewatkan sedikit saja waktu liburan kita, Sayang."

__ADS_1


"Siapa bilang kita liburan? Aku dan kamu sedang bulan madu, Sayang. Mauku hanya di dalam kamar sepanjang hari, melakukan hal-hal menarik lainnya. Belum banyak hal yang kita lakukan. Memangnya kamu tidak ingin melakukan hal-hal menarik dan indah lainnya dengan aku, Sayang? Padahal aku siap mengeksplorasi banyak hal dengan kamu," bisik Rico dengan mengecup bibir Karen.


Tangan Karen memukul lembut dada Rico, dengan kekehan kecil. Rico semakin menarik tubuh Karen untuk semakin dekat dengan dirinya, lebih leluasa memberikan kecupan manis di seluruh wajah wanita tersebut. Mana mungkin Rico bisa mendiamkan istrinya begitu saja. Dia tak mau Karen hanya menganggur saja, malah ingin mengajak Rico pergi jalan-jalan. Tentu itu bukan tujuan utama Rico datang ke Bali.


Di sini Rico berharap bisa berduaan sepanjang hari dengan sang istri, memadu kasih tiada henti. Masih ada hari esok untuk mereka menikmati suasana Bali, hanya saja dia meminta untuk seharian ini sampai nanti malam berduaan saja di kamar. Ingin melepaskan rasa cinta dan rindunya, terpisah sebentar saja dengan Karen membuat hatinya rindu. Maklum saja masih pengantin baru.


"Besok ya, Sayang. Hari ini, seharian penuh harus aku sama kamu aja. Nggak boleh keluar dari kamar, masalah jalan-jalan bisa di lain hari. Aku nggak mau sampai bulan madu kita kurang berkesan. Semua kebutuhan kita akan diantar ke kamar semua, aku sudah memesan dan menjadwalkan sesuai jam yang kita biasa lakukan." Rico kembali merengkuh tubuh Karen.


"Sayang …, masa nggak bangun dulu. Aku juga lapar," bisik Karen dengan mengecup pipi Rico.


Rico menatap Karen, lalu menatap perut perempuan tersebut yang terlihat sedikit membuncit. Tangan pria itu buru-buru mengusap lembut, membuat sang empu bergidik merinding. Telapak dingin milik Rico bersentuhan langsung dengan permukaan perutnya yang hangat.


"Di perut ini telah tumbuh benih milikku, Sayang." Rico tersenyum kembali.


Untung saja Karen tanggap dengan cepat, dia pun memukul bahu pria itu sambil tertawa kecil. Semakin tidak-tidak saja. Rico bangun lebih awal dengan sigap menggendong tubuh Karen di depan. Paham betul bila bagian tubuh Karen masih kesakitan, dia pun tak mau menambah rasa sakit itu hanya karena dirinya tidak peka dengan sekitar.


"Kenapa digendong? Aku bisa jalan sendiri, Sayang."


Rico menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak peduli. Yang terpenting kita makan, setelah itu mandi, istirahat, dan kembali tidur. Banyak hal yang harus kita eksplorasi, Sayang. Aku menantikan hal ini datang lebih cepat dan akhirnya sekarang aku bisa merasakannya."


Mulai nasi goreng, roti bakar, nasi kuning dan berbagai macam selai bersama roti tawarnya pun tersedia. Tak hanya itu terdapat susu, kopi dan jus. Mata Karen terbelalak, terlalu banyak makanan untuk mereka berdua. Bahkan satu menu saja cukup untuk mengganjal perut keduanya. Ini sampai satu meja panjang penuh dengan makanan, Rico selalu saja membuat makanan mubazir.


"Ini semua kita makan?" tanya Karen.

__ADS_1


Rico mengangguk. "Iya dong. Kan harus punya tenaga banyak, Sayang. Di dalam perutmu ada benih yang juga membutuhkan asupan makanan. Maka dari itu kamu membutuhkan isi tenaga yang banyak, begitu pula dengan aku. Kamu paham 'kan?"


"Iya butuh isi tenaga. Aku rasa tidak harus sebanyak ini, Sayang. Menurutku ini terlalu banyak, siapa yang akan menghabiskan semuanya? Kenapa tidak beli satu atau dua menu saja? Aku tidak terlalu masalah ingin sarapan dengan menu mana pun." Karen menatap Rico sedikit marah.


"Aku hanya ingin yang terbaik, pilih saja yang kamu inginkan. Lagi pula bisa kita makan nanti saat lapar melanda belum jadwalnya, Sayang. Yang tenang ya," bisik Rico sambil mengedipkan matanya.


Pasrah, hanya itu saja yang bisa dilakukan oleh Karen saat ini. Menghadapi Rico tak semudah yang dibayangkan selama ini. Terlebih pria itu selalu memaksakan pendapatnya kepada siapa saja, termasuk Karen.


***


"Kenapa kamu di sini?" tanya Rico dengan melingkarkan tangannya di pinggang Karen.


Wanita itu sengaja berdiri di atas balkon dengan baju piyama tadi pagi. Entah ke mana perginya semua baju yang telah dia kemas jauh hari, tentu saja kelakuan Rico kali ini.


"Aku hanya menikmati tempat ini saja. Ada apa?" Karen balik bertanya.


"Aku merindukanmu. Jangan jauh dariku," jawab Rico. Kepalanya diletakkan di bahu Karen.


Karen tertawa lantang. "Aneh sekali. Aku hanya berada di sini, Sayang. Mengapa sudah rindu? Lagi pula aku tak jauh darimu. Mudah sekali kamu merasa rindu. Ada apa, Sayang? Kamu butuh sesuatu?"


Rico mengangguk perlahan. "Aku butuh kamu."


Tanpa lama, bibir keduanya tertaut. Hingga berakhir di tempat tidur kembali.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2