GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 83. Masih Di Apartemen


__ADS_3

Karen mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipi. Dia berharap Papi Arion menggeleng atas pertanyaannya tadi. Namun, ternyata pria itu membenarkan ssmua ucapan dan pertanyaannya.


Walau Karen telah mengetahui kebenaran ini, tapi tetap saja dia kaget saat Arion menganggukkan kepalanya. Karen tidak menyangka jika pria yang telah membuat dia hadir ke muka bumi ini tega membohongi dirinya dan yang lebih menyakitkan dia pernah dendam dengan dirinya.


"Katakan dengan jelas, Pi. Aku ingin dengar, kenapa Papi begitu dendamnya denganku sehingga ingin menikahi hanya untuk menyakiti aku."


Arion menarik napas dalam. Semua memang salahnya. Jika saja dia mau bertanya dan mencari tahu kebenaran, tentu saja tidak akan terjadi seperti ini.


Selain tidak bertanggung jawab pada anaknya, Arion merasa dirinya adalah pembawa penderitaan bagi putrinya. Dia memang tidak pantas di sebut dan dipanggil Papi.


"Maafkan, Papi," ucap Arion. Entah sudah berapa kali kata maaf keluar dari bibir pria itu.


"Bukan kata maaf yang ingin aku dengar. Papi cukup menjawab pertanyaan yang aku ajukan agar semua jelas." Karen ingin sekali mendengar alasan Papinya itu.


Karen tampak mulai terbawa emosi. Rico mengelus lengan wanita itu untuk menenangkan.


Arion merubah duduknya. Untuk menghilangkan kegugupan. Dia tampak menarik napas lagi. Dalam hati pria itu berkata, aku harus jujur. Mungkin ini saatnya menebus semua kesalahan pada diri ini.


"Baiklah, Papi akan mengatakan yang sebenarnya. Papi memang sengaja meminjamkan uang dengan ayah Rusdi dan memberikan bunga besar agar dia tidak bisa membayar. Papi berharap ibumu nanti menyesal karena lebih memilih Rusdi dan meninggalkan Papi," ucap Arion dengan terbata.

__ADS_1


Karen tampak sedikit syok mendengar ucapan Papinya. Walau dia ingin mendengar langsung jawaban dari Papinya, tetap saja kaget mengetahui kenyataan pahit ini.


Karen merapatkan tubuhnya ke meja agar lebih dekat dengan Arion ayah biologisnya itu. Ditatapnya wajah pria itu tanpa kedip.


"Kenapa Papa tega melakukan ini? Apa tidak terpikir sakit hati dan kecewanya nanti ibu jika dia masih hidup?" tanya Karen dengan suara sedikit tinggi.


Air mata Karen kembali tumpah. Ingat bagaimana hancurnya dia saat ibunya meninggal dan setelah itu memutuskan kekasihnya karena harus menikah dengan Arion.


Yang makin membuat Karen lebih sedih, ibunya meninggal saat memikirkan jika dia menjadi beban keluarga karena harus menanggung hutang untuk pengobatan dirinya.


"Maafkan, Papi. Semua Papi lakukan karena berpikir ibumu telah mengkhianati Papi. Padahal Papi memilih kuliah ke luar negeri juga untuk kebahagiaan kami nantinya. Papi ingin sekolah tinggi untuk persiapan berumah tangga dengan ibumu. Biar bisa mendapatkan pekerjaan layak untuk masa depan kami nantinya."


"Saat Papi kembali lagi, Papi mendapat kabar jika ibumu telah menikah. Papi mencoba mencari keberadaan ibumu, mau meminta penjelasan. Tapi saat itu Papi tidak bisa bertemu. Papi kembali ke luar negeri dengan membawa dendam. Hati siapa yang tidak sakit, setelah janji akan menunggu Papi, tapi nyatanya dia menikah dengan pria lain. Itu juga salah satu alasan Papi suka main wanita, karena dendam dengan ibumu," ucap Papi dengan lirih.


Mendengar nama ibunya dibawa dan disalahkan membuat Karen makin marah. Apa tidak cukup penderitaan ibunya. Hingga menutup mata, ibunya masih berpikir menjadi beban keluarga sehingga makin memperparah keadaan penyakitnya. Pada alhirnya ibu juga menyerah.


Karen tidak bisa menahan emosinya. Dipukulnya meja dengan keras. Tidak peduli tangannya yang sakit.


"Jadi semua salah ibuku. Semua yang terjadi karena salahnya. Apa Papi pernah berpikir ibuku meninggal karena memikirkan hutangnya. Di saat dia harus berjuang melawan penyakitnya, dia mendengar tentang hutang ayah yang begitu besar sehingga ibu akhirnya menyerah. Dia tidak mau berjuang. Karena ibu pikir, selama dia masih hidup itu akan memjadi beban bagi ayah, yang harus mencari uang untuk membayar hutang dan beli obatnya," ucap Karen.

__ADS_1


Karen berdiri dari duduknya. Wanita itu tidak bisa terima Arion menyalahkan ibunya. Bagi Karen semua salah pria itu. Bukankah dia yang telah meninggalkan ibunya, sehingga ibu memilih menikah dengan Ayah Rusdi.


"Maaf, aku belum bisa terima penjelasan Papi. Aku tidak bisa menerima jika ibuku disalahkan. Mungkin kalian pikir ini egois. Tapi hanya akulah yang tahu bagaimana menderitanya ibuku karena merasa bersalah, dia merasa menjadi beban bagi ayah dan aku. Cukup sudah penderitaannya. Jangan pernah menyalahkan ibuku lagi. Biar dia tenang," ucap Karen.


Karen berdiri dari duduknya. Berjalan meninggalkan Rico dan Papi Arion. Dadanya sesak ketika mendengar Papinya masih terus menyalahkan ibunya yang memilih menikah dengan Ayah Rusdi.


Karen masuk ke kamar dan menutup pintunya. Rico ikutan berdiri.


"Maaf, Pi. Aku ingin menyusul Karen. Aku harus membujuk dan menenangkan Karen. Dia sedang hamil, tak baik baginya jika terlalu banyak pikiran," ucap Rico.


"Maafkan Papi karena hanya menjadi beban bagi Karen. Papi menyesal atas semua yang pernah terjadi," ucap Papi sendu.


"Aku mengerti, Pi."


"Kalau begitu sebaiknya Papi pamit. Bujuk dan rayulah Karen. Jika terjadi sesuatu dengannya Papi yang akan merasa sangat bersalah," ucap Arion.


Dia berdiri dari duduknya dan pamit pulang dengan Rico.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2