
Hari sudah terang dan sinar matahari telah menggulirkan cahayanya yang menerangi bumi. Panasnya terik matahari, mungkin sama dengan panasnya hati Arion saat ini.
Arion turun dari mobil dengan masih menahan amarah. Dari kejauhan dia melihat Karen yang sedang duduk berdua dengan putranya Rico.
Dengan langkah pasti dia berjalan menuju kedua orang yang sangat dia benci itu. Arion berdiri tegak dihadapan keduanya.
Karen dan Rico yang sedang mengobrol menjadi kaget menyadari kehadiran pria paruh baya itu. Rico berusaha tersenyum dengan manis. Bagaimanapun tidak sukanya Rico pada sikap dan sifat Arion, pria itu tetap yang paling berjasa di hidupnya.
"Selamat siang, Pi," ucap Rico sewajar mungkin.
Arion masih menatap tajam ke arah keduanya terutama Karen. Tidak menjawab sapaan Rico. Merasa diperhatikan, Karen membuang pandangannya.
"Aku nggak tahu, dari mana datang keberanian kamu untuk menggugat cerai padaku. Kamu pasti tahu isi surat perjanjian kita yang pernah kamu dan ayah kamu tanda tangani. Aku tidak akan mempersulit perceraian ini, tapi ingat saja, KAMU AKAN MEMBAYAR MAHAL aja semua ini."
__ADS_1
Arion mengucapkan semua itu dengan penuh penekanan. Karen yang mendengar itu menarik napas berat. Dia telah yakin, tidak akan mudah membuat Arion menyerah dan ikhlas begitu saja.
Tangan Rico bergerak kembali untuk mengusap wajahnya, sambil menarik napas panjang. Mencoba menenangkan diri dalam setiap helaan dan hembusan napas.
Dia tidak ingin ribut yang akan mempermalukan dirinya dan juga Arion. Lagi pula saat ini Rico sedang mengembangkan usahanya. Dia ingin menjaga nama baiknya.
"Sudahlah, Pi. Aku mohon ikhlaskan aku dan Karen menjalin hubungan. Lagi pula pernikahan Papi dan Karen selama ini, tidak bisa dikatakan dengan pernikahan. Lebih baik Papi melepaskan Karen. Dari pada menyakiti diri sendiri. Dengan Papi dendam, masalah tidak akan selesai, bahkan akan menimbulkan penyakit," ucap Rico.
Arion makin marah mendengar ucapan dari Rico. Dia menatap tajam putranya itu.
Kembali Rico menarik napasnya. Tersenyum miring menanggapi ucapan pria paruh baya itu
"Pi, sebenci dan semarah apapun aku dengan Papi, aku tidak akan mendoakan Papi sakit. Aku masih ingat dengan jasa baikmu, Pi. Yang telah membesarkan aku. Aku ingin berdamai dan Papi mengikhlaskan semuanya. Aku juga ingin membalas semua kebaikan Papi dengan menjaga Papi di saat tua nanti. Jadi sekali lagi aku mohon, ikhlskan semua. Kita buka lembaran baru," ucap Rico.
__ADS_1
Setelah Rico merenungi semua, dia sadar jika tanpa Papi Arion dan Mama Mira, mungkin dia tidak akan bisa seperti saat ini.
Belum sempat Arion menjawab ucapan Rico, namanya dan Karen telah di panggil untuk memasuki ruang mediasi.
"Masuklah. Jangan takut. Katakan semua yang ada dipikiranmu. Jika memang ingin pisah, katakan alasan yang tepat, sesuai yang kamu inginlan."
Rico mengusap rambut Karen. Menggenggam tangannya untuk memberikan kekuatan. Dengan tertatih, dia berjalan masuk ke ruang mediasi.
Rico menunggu di luar ruangan dengan gelisah. Takut nanti Karen salah menjawab karena ada Arion.
Satu jam berlalu begitu lamanya. Dia menunggu dengan gelisah. Bolak balik berjalan di ruang tunggu.
Tampak Karen keluar, Rico langsung menyusul. Membantu wanita yang dia cintai itu berjalan.
__ADS_1
"Bagaimana ...?" tanya Rico. Dia sudah tidak sabar untuk menunggu jawaban dari kekasih hatinya itu.
...****************...