
Sesuai rencana kemarin, pagi ini Rico mendatangi perusahaan Arion. Tempat di mana papi-nya bekerja. Tentu saja dia menginginkan penjelasan yang lebih akurat dari orang bersangkutan, meski hubungan mereka belum membaik. Ada hal yang lebih penting dari itu semua yaitu rasa penasarannya, menyampingkan rasa benci demi mengetahui penjelasan sang papi. Rico masih setengah percaya dengan apa yang didengar dari anak buahnya. Masih harus mendengarkan penjelasan dari Arion, bisa saja ada alasan lain yang belum Rico dengarkan.
“Ada apa? Kenapa kemari?” Arion menyambut penuh masam, sama seperti biasanya, tak ada yang berubah sama sekali. Hubungan keduanya belum kunjung membaik, Arion tak terima dengan perlakuan anak laki-lakinya tersebut.
Rico tak ingin kalah, wajahnya pun datar tak ada senyuman. Meski membutuhkan bantuan dan penjelasan dari Arion, Rico tetap jual mahal. Harga dirinya begitu tinggi, tak mau sampai jatuh di hadapan sang papia. Jangan sampai aku mengemis di hadapan papi, aku butuh dia tapi aku tak mau sampai mengemis. Aku tidak akan baik dengan dia.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Arion.
“Aku sudah jauh lebih baik. Jangan risaukan keadaanku.” Rico memalingkan wajahnya, tak sudi bertatapan langsung dengan Arion.
Padahal bila benar ucapan anak buahnya, banyak bakti yang harus dia berikan kembali pada Arion. Terlebih selama ini perilaku Rico kepada Arion begitu jahat, hingga melupakan jasa Arion yang sudah membesarkan Rico dari kecil. Kedua tangan Arion terlipat di hadapan dada, tetap angkuh meski perbuatannya salah dan membuat hati Arion benci.
Arion menoleh, tatapannya cukup tajam. “Siapa yang mengkhawatirkan kamu, Rico? Jangan mimpi dan berharap terlalu tinggi. Anak sepertimu tak sepantasnya …, memiliki hidup yang panjang. Tapi, masih banyak dosa yang harus kamu tebus.”
Rico mengangkat alisnya sebelah, masih merasa ingin bertengkar dengan sang papi. Merasa wajar bila belum ada pembicaraan yang cukup hangat seperti sebelum kejadian perselingkuhan terjadi. Namun, apa mau dikata, salah sepenuhnya berada di pihak Rico. Pria muda itu tak dapat mengelak kembali, hanya bisa menghela napas panjang. Perang masih tersulut, bahkan emosi Arion naik turun tak beraturan.
“Ada apa? Mengapa masih bisa menampakkan wajahmu di depanku? Apa yang sedang kamu incar? Bagaimana mungkin …, masih memiliki keberanian untuk menginjakkan kaki di perusahaanku? Memang pada dasarnya tidak punya malu,” cecar Arion kembali.
“Apa yang masih kamu incar? Belum puaskah mengkhianatiku? Bila tak ada urusan denganku, silakan pergi. Jangan membuat waktuku yang berharga menjadi sia-sia, aku tak suka membuang-buang waktu. Cepat katakan dan pergilah!” Lagi dan lagi, Arion terus ingin membuat Rico yang bungkam untuk buka suara. Pria paruh baya itu merasa muak dan ingin Rico segera enyah dari hadapannya.
__ADS_1
“Kenapa diam? Malu? Bukankah sudah terlambat? Lagi pula aku tak bisa menerima permintaan maaf dari anak yang durhaka dan tidak tahu diri. Sudah kuberikan hati, tapi kamu malah minta jantung. Tidak pernah puas dengan apa yang kamu punyai,” tambah Arion.
Rico kembali memutar matanya malas. Merasa sama sekali tidak dianggap, lagi pula dia pun merasa jijik untuk bertemu dengan seorang Arion. “Ada yang ingin aku bicarakan, aku tidak akan lama. Dan bukan kamu saja yang muak di ruangan ini …, aku pun merasakan hal yang sama! Jangan merasa sok suci, kamu dan aku pun memiliki dosa hanya beda perbuatan.”
“Hanya saja aku tidak seburuk kamu. Hina sekali dirimu, Rico! Bahkan berani mengambil istri orang lain dan itu milik papimu sendiri.” Arion tertawa keras.
“Siapa papiku? Kamu? Bukankah kamu dan Mami hanya orang tua angkatku saja?” tanya Rico dengan tatapan tajam dan tangan yang masih bersedekap dada.
Arion ikut membalas tatapan Rico, wajahnya memerah padam. “Apa yang kamu bicarakan, Rico! Jadi ini yang ingin kamu katakan kepadaku? Apa yang telah kamu ketahui? Sampai mana kamu mencari informasi? Apa mungkin sudah sedetail itu?”
tanya Arion dengan senyum sinis.
Rico sengaja mengatakan semua ucapan kasar, agar Arion mau mengakui kebenaran jika memang dia bukan anak kandung Arion.
Gemuruh tawa terdengar nyaring dari bibir Arion, bahkan ruangan kedap suara tersebut terpenuhi dengan tawa Arion. Membuat dahi Rico terlipat bertumpuk-tumpuk. Tentu kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Arion, pria yang terkadang terkesan aneh di mata Rico. Penjelasan yang diharapkan oleh Rico tak kunjung didapatkannya.
“Aku tak ingin mengemis, tapi ini jalan satu-satunya untuk pembuktian. Jelaskan semuanya kepadaku. Aku ingin tahu siapa sebenarnya aku, jelaskan dari awal! Lagi pula aku dan kamu tidak akan memiliki hubungan orang tua dan anak kembali. Jangan membuatku merasa digantung tanpa kejelasan,” ucap Rico dengan menyipitkan kedua matanya.
“Uangmu banyak, anak buah tidak hanya satu. Kenapa tidak cari tahu sendiri? Bahkan kamu bisa melakukannya tanpa harus bertanya. Aku …, menyesal memiliki anak tidak tahu berterima kasih sepertimu, Rico. Anak tidak tahu diuntungkan. Bagaimana bisa tega mengambil istriku? Aku …, malas sekali untuk menjelaskan padamu,” jawab Arion.
__ADS_1
Sejenak berhenti, dia menatap Rico seperti mengejek. Arion tersenyum miring ke arah Rico, berusaha membuat amarah lelaki muda itu kembali tersulut. Rasa amarahnya membuat perasaan benci seketika muncul kala menatap wajah Rico, bahkan hanya sekedar mendengarkan nama dan suaranya. Arion belum memaafkan seluruh kesalahan dari Rico, terlalu besar dan hatinya pun belum sembuh keseluruhan.
“Kamu memang anak pungut, Rico. Aku dan Mira memungutmu dari panti asuhan itu. Kenapa? Kamu bukan darah dagingku …, anak pungut!” Arion tertawa dengan mengusap air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.
“Dasar anak pungut …, tidak tahu diuntung! Harusnya kamu berterima kasih kepada aku dan Mira, Rico, kami telah membuat hidupmu berubah. Air susu dibalas air tuba,” lanjut Arion.
Rico berdehem. “Syukurlah, aku bukan anak kandungmu, Pi. Jadi aku tidak begitu merasa bersalah karena telah merebut Karen dari tanganmu. Namun, aku tetap berterima kasih karena kamu terutama mami telah membesarkan aku," ucap Rico.
“Memang anak pungut, tetaplah anak pungut. Aku tidak menyangka harus salah memungut anak, hingga kamu pun liar dan tidak tahu arah.” Arion kembali menatap nyalang, seperti elang.
“Aku tahu semua ini salah. Tapi apa Papi tidak bercermin sebekum mengatakan diriku. Apa Papi sudah baik sebagai seorang suami. Papi lupa apa yang dilakukan hingga mami meninggal? Papi tidak pantas mendapatkan wanita baik. Jadi aku mau lepaskan Karen. Aku akan datang kembali dengan pengacara, membawa gugatan cerai dari Karen."
Arion mengepalkan tangannya kuat. Merasa tersindir, hatinya kembali panas dan tersulut emosi. Berani sekali bocah tengik ini! Aku tidak menyangka dia menyindirku seperti ini, sial! Dasar anak pungut!
"Satu lagi, jangan pernah mengancam Karen atau ayahnya. Aku tidak akan tinggal diam!" ucap Rico sebelum melangkah pergi.
Dalam hati sebenarnya Rico tidak mau berkata kasar, tapi itu sengaja dilakukan agar Arion membencinya dan melepaskan Karen segera.
...****************...
__ADS_1