
Setelah sarapan bersama Arion pulang. Dia berharap Karen bisa menerimanya nanti. Bukannya pria paruh baya itu ingin berbohong. Tapi dia takut, jika langsung mengatakan kebenarannya Karen akan menganggap semua itu hanya rekayasa Arion.
Setelah yakin Arion telah pergi jauh dari apartemen, barulah Karen bersuara . Tadi dia hanya diam karena tidak tahu harus berbuat dan berkata apa.
Perubahan sikap dan tutur kata Arion yang mendadak, membuat dirinya kaget dan tidak percaya. Karen masih belum yakin jika pria paruh baya itu memang telah sadar akan perbuatannya.
"Kenapa kamu hanya diam saja dari tadi?" tanya Rico.
Dia memeluk bahu wanita itu. Merapatkan tubuhnya. Bukan hanya Karen yang kaget dengan kenyataan saat ini.
"Aku masih tidak percaya jika Papi secepat ini berubah. Aku takut ada niat lain dari dirinya. Aku nggak mau kalau semua itu akan membahayakan anak dalam kandunganku saat ini," ucap Karen.
Walau Karen belum pernah melihat wajah anak dalam kandungannya, tapi rasa cintanya sudah begitu besar. Telah lama dia ingin memiliki adik sebagai teman bermain.
__ADS_1
"Jangan takut, Karen. Aku akan menjaga kamu. Aku melihat tidak ada kebohongan di mata papi. Semoga semua benar adanya, Papi telah menyadari kesalahannya. Semoga Papi juga benar mencabut dan membatalkan pernikahannya denganmu," ucap Rico.
"Semoga saja. Aku mau mandi," ucap Karen.
Rico mengecup pucuk kepala wanita itu sebelum melepaskan pelukannya. Setelah Karen masuk, Rico menghubungi salah seorang bawahannya dan meminta pria itu menyelidiki serta mengawasi apa yang Arion lakukan.
Rico tidak ingin Karen menjadi cemas jika tahu sebenarnya dia juga masih ragu dengan ketulusan hati Papinya. Pria itu tidak akan membiarkan siapapun menyentuh dia dan calon bayinya.
Setelah selesai mandi, Karen menemani Rico bekerja. Hingga pukul dua belas siang. Perutnya Karen mulai terasa lapar. Dia lalu berdiri menuju dapur.
Tanpa diduga Rico memegang bahu Karen dengan kedua tangannya, lalu mengarahkan wanita itu dan mendorongnya untuk memutari untuk meninggalkan pantry tempat tadi Karen berdiri.
"Aku harus memasak makan siang kita," ucap Karen.
__ADS_1
Wanita itu protes ketika Rico menekan tubuhnya supaya duduk di dekat meja makan. Karen berusaha bangun dari duduknya, tetapi Rico menahan tubuhnya.
"Duduk saja di sini. Hari ini aku yang akan memasak untukmu. Kalau soal memasak, kamu jangan pernah ragukan aku. Aku bisa memasak apa saja," ucap Rico dengan bangganya.
"Duduk dan jangan melakukan apapun. Tetap di sini. Jangan membantah." Pria itu mengeluarkan nada suara yang dengan penuh penekanan.
Tanpa memberikan kesempatan pada Karen, pria itu lalu memutari kembali pantry dan mulai memasak.Akhirnya Karen memutuskan untuk diam dan melihat Rico memasak.
Perutnya juga sudah terasa lapar. Jika dia memaksakan keinginannya untuk memasak, itu akan menghabiskan waktu. Bisa-bisa nanti dia kalaparan dan tidak jadi memasak.
Salah satu dari mereka memang harus mengalah. Karen juga tidak keberatan melakukan semua ituLagi pula, bukankah lebih enak duduk bertopeng dagu ditempatnya sekarang sambil melihat dan mengamati Rico yang sedang memasak.
Karen tidak menduga jika pria itu cukup mahir dalam keterampilan memasak. Bahkan tampaknya lebih mahir Rico dibanding dirinya.
__ADS_1
Satu jam berlalu, akhirnya masakan siap dihidangkan. Karen kaget melihat menu yang tertata di meja makan itu. Semua makanan kesukaan dirinya.
...****************...