
Rico membuka pintu apartemen dan melihat Karen yang tertidur di sofa depan televisi. Pria itu menunduk dan mengecup dahi wanita yang dia cintai.
Karen membuka matanya dan tersenyum menyadari jika Rico yang telah mengecupnya. Dia langsung bangun dan duduk.
"Mandi dan berdandanlah yang cantik, kita akan makan malam di luar," ucap Rico.
Karen mengerjapkan matanya, menghilangkan rasa kantuk yang masih tersisa. Melihat itu, Rico langsung mengacak rambut wanita itu.
"Mandilah segera! Biar kantuknya hilang."
Karen cemberut menanggapi ucapan pria itu. Dia berdiri dari duduknya dan masuk ke kamar. Begitu juga Rico. Dia juga akan bersiap-siap.
Satu jam kemudian Karen telah siap dengan dandanannya. Dilihatnya Rico telah menunggu sambil bermain ponsel.
"Aku sudah siap. Apakah kita akan pergi sekarang?" tanya Karen mengagetkan lamunan Rico.
Pria itu tampak kaget saat melihat Karen. Wanita itu tampak sangat cantik dengan dress selututnya.
"Kamu kapan jeleknya?" tanya Rico.
"Dihh pertanyaan macam apa itu?" Bukannya menjawab pertanyaan Rico, Karen malah balik bertanya.
Rico berdiri dan memeluk lengan wanita itu. Dia mengecup pipi Karen.
"Kamu itu selalu tampak cantik. Tidak pernah sekalipun jelek. Walau baru bangun tidur sekalipun," ucap Rico.
__ADS_1
Rico mengajak Karen segera berangkat ke tempat yang telah dia siapkan.
***
Malam ini sangat menbahagiakan bagi Rico. Pasalnya, mereka akan menghabiskan malam romantis saat menikmati makan malam berdua nanti.
Berada di bilangan Sudirman, di lantai 36 sebuah gedung tinggi yang ada rooftopnya. Menikmati makan malam sekaligus pemandangan indahnya kota yang tidak pernah tidur.
Meletakkan kain kecil di atas pahanya, Rico memberikan sepotong daging yang Karen sendiri tidak memesannya. Ingin Karen mencicipi apa yang Rico makan adalah satu dari kebahagiaannya.
Apa yang dipakai atau dimakan Karen, Rico juga ingin memakai atau memakannya. Mungkin terdengar sangat bucin, tapi itulah kenyataannya. Cintanya pada Karen sudah melebihi batas kewajaran normal mungkin bagi orang lain yang memandangnya, namun tidak bagi Rico.
"Enak, tidak dagingnya?" tanya Rico pada Karen yang telah mengunyah dagingnya.
"Ini baru masuk mulut, lho. Belum masuk ke perut," tunjuk Karen pada mulutnya sendiri.
"Tenderloin steak nama gampangnya. Ini medium, bukan welldone. Kalau welldone nanti rasanya seperti daging dimasak teriyaki," jelas Rico dengan memakan dagingnya satu potong. "Apapun yang aku makan, aku ingin kamu juga harus mencobanya, Sayang. Kita akan hidup bersama nantinya. Aku tidak ingin membuat diriku bahagia sendirian, harus ada kamu di sampingku yang merasakan kebahagiaan itu juga." Diusapnya pipi kiri Karen, menandakan rasa sayangnya yang amat dalam.
Karen memejamkan kedua matanya sejenak, untuk merasakan usapan lembut pada pipi kirinya. Dipegangnya tangan kanan Rico menggunakan tangan kirinya. "Jangan pernah berubah, ya, rasa sayang dan cinta kamu buat aku? Aku hanya memiliki kamu di hidupku."
Anggukan dari Rico sebagai jawabannya cukup membuat Karen merasakan rasa sayang dan cinta itu.
Malam yang mengesankan ini adalah malam yang membahagiakan untuk Karen. Soalnya, saat ini, Rico berdiri untuk berjongkok menggunakan satu kakinya di sebelah kursi yang Karen duduki. Menggunakan cincin yang dibelinya lagi kemarin, Rico menundukkan kepala dengan tangan terbuka membawa kotak cincin yang terbuka menampilkan cincin bermata zamrud tadi.
"Karen, untuk kedua kalinya aku bertanya, maukah kamu menjadi satu-satunya wanita yang mengisi hatiku di sisa hidupku ini? Menjadi ibu dari anak-anakku kelak? Serta menjadi wanita yang setia mendampingiku hingga akhir hayat nanti?" Kepala Rico menatap manik mata Karen. Seperti memohon untuk menerima pernyataan ajakan menikahnya. Meskipun Rico sudah mengetahui isi hati Karen, namun Rico ingin melakukan ini untuk orang spesialnya.
__ADS_1
Dia tidak tahu harus bagaimana untuk melakukan makan malam romantis. Itulah sebabnya Rico kembali mengulang melamar Karen. Walau dia dan Karen telah mempersiapkan acara pernikahan mereka.
Karen tidak tahu harus bagaimana, dia tahu ini Rico lakukan hanya untuk menyenangkan hatinya. Rico sudah tahu jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan. Bukankah satu minggu lagi mereka akan menikah.
Walaupun demikian, tetap saja apa yang Rico lakukan ini sangat mengharukan bagi Karen.
Kedua netranya terasa panas. Ada tumpukan air yang menggenang di pelupuk matanya. Karen tidak bisa untuk tidak menangis terharu mendapat perlakuan seperti ini. Rasanya seperti dalam cerita dongeng yang selalu ia impikan. Karen pun berdiri, dan menarik kedua tangan Rico untuk berdiri.
"Dijawab dulu, Sayang!" ucap Rico meminta jawaban dari Karen.
"Kamu sudah tahu jawabannya. Bahkan kita telah persiapkan pernikahan itu," ucap Karen.
"Sayang, ini hanya untuk acara formalitas saja. Agar kamu nanti dapat mengenang saat aku melamarmu sebelum kita menikah," ucap Rico.
Menangis tersedu, namun dirinya malah tersenyum bahagia. Perasaan ini, perasaan yang baru saja Karen rasakan adalah yang pertama kalinya wanita itu rasakan selama hidupnya.
Karen belum pernah merasakan perasaan ini dan perlakuan yang Rico lakukan untuknya saat ini sangat istimewa. "Kamu terlalu sempurna untuk aku yang banyak memiliki kekurangan ini. Aku menerimamu dengan segala kekuranganmu yang anehnya, kamu tidak memiliki kekurangan itu. Kamu terlalu baik dan sempurna. And I said yes," jujurnya yang membuat Rico langsung memeluk erat tubuh Karen setelah memakaikan cincin itu jari manisnya.
Pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua memberikan buket bunga pada Rico yang telah dipesan untuk Karen. Pria itu pun melepas pelukannya sejenak untuk menerima buket bunga tersebut lalu diberikan pada Karen. "Bunganya harum," tutur Karen sembari menciumi bunga yang dia genggam. Karen lalu memeluk Rico sekali, dan menangis haru tak percaya dengan semua ini.
Ternyata tanpa setahu Karen, Rico memang merencanakan semua ini. Itulah alasan kenapa Rico memaksa Karen tadi.
Baru kali ini Rico sebagai pria bisa menangis bahagia. Seumur hidupnya, Rico tidak pernah menangis untuk orang lain. "Terima kasih, ya. Sudah mau menerimaku," bisiknya di telinga Karen. Sunggingan senyum itu terus merekah di bibir Rico . Dipeluknya semakin erat tubuh wanita mungil yang berdiri di hadapannya.
Rico dan Karen memghabiskan menu makan malam dengan sangat romantis. Nanti Rico akan memberikan surat pembatalan pernikahan sebagai hadiah kedua darinya.
__ADS_1
...****************...