
Setelah sarapan, seperti biasanya Rico berangkat kerja. Karen mengantar hingga ke depan pintu.
"Aku kerja dulu. Malam kita periksa kandungannya. Mungkin aku pulang agak telat. Jam tujuh baru sampai rumah," ucap Rico lalu mengecup dahi Karen.
"Hati-hati. Jangan telat makan dan jangan terlalu capek," ucap Karen sebelum Rico melangkah pergi.
Setelah Rico hilang dari pandangannya, Karen masuk dan menutup pintu apartemen. Wanita itu menghidupkan televisi. Sambil mengemil dia menonton televisi.
Kemarin Karen menghubungi ayahnya dan mengatakan perubahan sikap Arion padanya. Yang mengejutkan bagi wanita itu, ayahnya juga meminta dia memaafkan Arion.
Karen masih memikirkan semua ucapan ayahnya. Jika dulu ayahnya meminta dia berhati-hati dengan Arion, tapi saat ini meminta dia memaafkan semua kesalahan pria paruh baya itu.
Karen menarik napas dalam, dari malam dia memikirkan perubahan sikap ayah dan Arion. Dalam hatinya bertanya, ada apa semua ini?
"Apa yang ayah dan Papi Arion sembunyikan? Kenapa keduanya jadi berubah sikap? Apa aku harus memaafkan kesalahan Arion?"
Banyak pertanyaan yang berputar diisi kepala Karen. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dalam hatinya masih tersimpan rasa takut dan kuatir pada Arion.
Sedang asyik menikmati tontonan, Karen dikagetkan dengan suara bel apartemen yang berbunyi. Rasa ragu menghinggapi dirinya. Apakah akan dibuka atau dibiarkan saja? Dia tidak mengenal satu orangpun di sini. Siapa yang datang bertamu? tanya Karen dalam hatinya.
__ADS_1
Karen mengintip dari celah pintu. Namun, tidak terlihat wajah tamunya. Hanya punggung saja.
"Seperti Pak Arion. Tapi untuk apa dia datang?" tanya Karen dengan diri sendiri.
Dengan ragu Karen membuka pintu. Saat pintu terbuka, pria itu membalikkan tubuhnya. Barulah Karen mengetahui siapa tamunya.
"Selamat Pagi, Karen," ucap Arion ramah.
Karen akan menutup kembali pintu apartemen, tapi secepatnya ditahan Arion. Wanita itu mundur karena takut.
"Karen, Papi mohon ... jangan takut. Papi tidak akan menyakiti kamu lagi, Nak. Percayalah," ucap Papi dengan nada memohon.
"Apa Papi boleh masuk?" tanya Arion membuka kebisuan di antara mereka.
Karen kembali menatap mata Arion. Dengan pelan dia menganggukkan kepalanya.
Arion melangkah masuk dan duduk di sofa. Diletakkan tentengan yang dia bawa.
"Papi bawa sarapan untukmu. Bubur ayam X. Tadi Papi sarapan di sana, teringat kamu lalu Papi bungkus," ujar Arion dengan suara pelan agar Karen tidak takut.
__ADS_1
"Aku sudah sarapan. Papi mau minum apa, biar aku buatkan," ucap Karen dengan suara gugup.
Terus terang, tidak mudah bagi wanita itu untuk menghilangkan trauma atas perlakuan Arion padanya saat di sekap dulu. Walau ayahnya telah meyakinkan jika Arion tidak akan pernah menyakiti lagi, tapi dia tetap waspada dan menjaga jarak.
"Apa saja yang bisa kamu buat. Jangan repot. Kamu sedang hamil muda, takutnya kamu capek," ujar Arion lagi.
"Hanya membuat air minum tidak akan membuat capek. Aku tinggal dulu, Pi."
Setelah mengucapkan itu, Karen pergi menuju dapur dan membuat minum. Wanita itu mengambil ponselnya dan mencari nama Rico. Saat akan menekan panggilan, dia berubah pikiran.
"Jika aku menghubungi Rico, takutnya dia akan cemas. Bukankah hari ini ada rapat dengan perusahaan besar itu. Pasti akan mengganggunya, jika aku menelponnya," gumam Karen dengan diri nya sendiri.
Karen mengurungkan niatnya. Dia membawa baki yang berisi air teh hangat segelas dan sepiring kue.
"Ayah pasti tidak akan bohong. Aku harus yakin jika Papi Arion telah berubah," gumam Karen lagi.
Dia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga, di mana Arion berada.
...****************...
__ADS_1