
Waktu terus berjalan, tidak terasa kandungan Karen telah sembilan bulan. Hanya menunggu hari kelahiran saja.
Dua bulan berlalu, pagi ini Karen merasakan pinggang dan perutnya kram. Dia lalu membangunkan Rico yang masih tidur. Dokter telah menjelaskan tanda-tanda akan lahiran, sehingga Karen bisa sedikit mengerti.
"Mas, bangun." Karen mengguncang tubuh Rico dengan pelan.
"Kenapa, Sayang. Aku masih ngantuk," ucap Rico masih dengan mata yang tertutup.
"Sepertinya aku mau melahirkan, Mas." Mendengar ucapan istrinya itu, Rico langsung membuka mata dan bangun.
"Apa, Sayang. Mau lahiran. Di mana?"
"Di rumah sakitlah, Mas."
"Maksud aku bukan itu. Aduh ... aku mau ngomong apa sih tadi," ucap Rico gugup.
Baik Karen maupun Rico belum berpengalaman mengenai lahiran. Ini anak pertama mereka. Tentu saja kepanikan jelas tergambar di wajah mereka.
Rico turun dari tempat tidur dengan tergesa menuju pintu. Langkahnya terhenti saat mendengar teriakan Karen.
"Mas ...," teriak Karen. Rico dengan cepat membalikkan badannya dan menghampiri Karen.
"Kenapa, Sayang. Udah mau keluar anaknya. Jadi aku harus bagaimana?" tanya Rico gugup.
"Mas ngomong, apa?" tanya Karen.
"Terus aku harus bagaimana? Aku nggak ngerti, Sayang."
"Iya, Mas. Aku cuma mau bilang, apa Mas mau keluar dengan keadaan begitu," ucap Karen dengan menunjuk ke tubuh suaminya itu.
Rico lalu memandangi tubuhnya. Ternyata dia hanya memakai pakaian dalam aja. Pria itu baru ingat jika subuh tadi sempat bermain kudaan dengan Karen. Setelah mandi, ia hanya memakai pakaian dalam dan langsung tidur.
"Aku lupa," ucap Rico cengengesan. Dia lalu berjalan menuju lemari dan menambil pakaiannya. Setelah memakai baju barulah Rico keluar lagi.
Rico yang tadi panik telah selesai memakai semua pakaiannya dan berlari memanggil salah seorang bibi yang berada di dapur.
"Bi, tolong Karen. Sepeetinya akan lahiran. Bantu ganti pakaian dan apa saja yang dibutuhkan untuk lahiran. Aku siapkan mobil dulu," ucap Rico dengan suara tergesa.
__ADS_1
"Baik, Tuan," ucap Bibi.
Wanita paruh baya itu segera berjalan menuju kamar Karen. Rico juga berjalan meninggalkan dapur.
Rico segera menyiapkan mobilnya, setelah itu dia kembali ke kamar. Melihat Karen yang telah berganti pakaian.Rico lalu menggendong tubuh istrinya itu ke mobil, disusul oleh bibi yang membawa tas berisi pakaian Karen dan calon baby mereka.
Rico langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Bibi tadi ikut dengan mereka.
"Mas, sakit," keluh Karen sedikit mengeluarkan air matanya karena dia merasakan sakit di daerah jalur lahirnya.
Rico sendiri sedikit bingung, bukankah tadi subuh mereka sempat melakukan adegan kuda-kudaan yang menggairahkan, kenapa sekarang tiba-tiba Karen mengalami kontraksi.
"Sabar, sayang," jawab Rico mempercepat laju kendaraannya.
"Bisa sedikit dipercepat jalan mobilnya, Mas," ucap Karen.
"Ini juga sudah cepat, Sayang. Jika dinaikkan kecepatannya, aku takut kecelakaan," ucap Rico.
"Maaf, Bu. Coba Ibu tenang. Tarik napas dan buang perlahan. Nanti akan lebih enakan jika ibunya santai," ucap Bibi yang tadi ikut dengan mereka.
Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah sakit. Rico lalu memarkirkan mobilnya asal, dan kembali menggendong Karen dengan keadaan panik masuk ke rumah sakit.
"Dokter! Suster! Istri saya mau melahirkan!" teriak Rico yang membuat semua orang disana gempar menatap ke arahnya.
Bayangkan saja, ditengah suasana yang damai di pagi hari, tiba-tiba ada seorang pria berstatus suami yang menggendong istrinya dan berteriak kencang memanggil dokter dan suster disana.
Untungnya Dokter Zubaidah yang ada disana segera mengetahui keberadaan Rico dan Karen, sehingga menghampirinya keduanya.
"Dokter! Istri saya mau melahirkan!" ucap Rico panik.
Dokter Zubaidah mengangguk, kemudian memerintahkan beberapa suster membawa brankar [Ranjang Rumah Sakit] dan segera menaikkan Karen disana, setelahnya Rico dan juga bibi menyusul para suster dan Dokter Zubaidah yang membawa Karen ke salah satu ruangan.
Rico hendak masuk ke ruangan tapi diurungkan karena salah satu perawat mengatakan belum saatnya lahiran, hanya pemeriksaan terlebih dahulu. Mendengar penjelasan perawat, Rico memilih tetap menunggu hingga nanti prosesnya lahiran.
Setelahnya Rico memilih duduk di kursi tunggu yang ada dikoridor itu bersama dengan Bibi. Tangannya bergetar, menanti kondisi Karen. Dia tidak hentinya memanjatkan doa, agar kali ini Karen diberi kelancaran pada Proses melahirkan putra mereka.
Hampir cukup lama menunggu, Rico benar-benar gusar dan memilih berjalan mondar-mandir menanti kepastian akan keadaan istri dan anaknya.
__ADS_1
Bibi yang melihat Rico hanya tersenyum. Dia memaklumi karena itu anak pertama bagi Tuannya. Pastinya sangat panik dalam situasi begini.
Rico mengambil ponselnya dan menghubungi ayah Rusdi dan Papinya Arion. Mengabari jika Karen akan melahirkan.
Tak lama kemudian, Dokter Zubaidah keluar dari ruangan bersalin dan menemui Rico yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Istri saya gimana, Dok?" tanya Rico cemas.
"Istri Bapak akan segera melahirkan. Bapak bisa mendampinginya sekarang," ucap Dokter itu.
Mendengar ucapan Dokter, Rico langsung masuk ke ruang itu. Perawat mendorong tempat tidur Karen menuju ruang persalinan.
Sampai di ruang persalinan, Dokter lalu menjelaskan pada Karen cara mengejan yang baik dan benar.
Setelah merasa Karen cukup siap dan juga bukaan telah lengkap, Dokter lalu mengintruksikan Karen buat mengejan.
"Tarik napas panjang, buang dan ibu bisa mengejan tanpa putus. Saya hitung, dalam hitungan ketiga, Ibu Karen bisa mulai mengejan," ujar Dokter.
Karen menatap Rico suaminya itu dengan kesakitan yang luar biasa. Karen terus mengejan, berusaha mendorong keluar bayinya, Dokter Zubaidah segera membantu Karen dengan memberi arahan cara mengejan yang baik.
Sementara itu Rico terus memberi semangat istrinya dari segi moril agar dia bisa semakin bersemangat. Tidak begitu lama suara bayi itu terdengar menggema seisi ruangan.
Bayi perempuan yang sangat cantik tampak keluar dari jalan lahirnya Karen. Hal itu membuat Karen bernapas lega karena telah berhasil melahirkannya secara normal. Begitu juga dengan Rico yang tampak begitu bahagia
Dokter Zubaidah segera menaruh bayi itu di dada Zeya untuk mendapatkan ASI pertama. Rico yang melihat itu hanya tersenyum dan menangis haru atas kelahiran anaknya.
"Aku akan berbagi susu mulai hari ini dengan anakku. Selamat tinggal kuda-kudaan." batin Rico sambil mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.
Setelahnya Dokter Zubaidah kembali mengambil bayi Karen untuk dibersihkan. Ibunya juga akan segera dibersihkan.
Rico kemudian mencium puncak kepala Karen yang membuat istrinya itu mencolek hidungnya pelan. "Jangan nangis, lihat tuh anak kita, semua mirip ke Mas, aku yang ngandung, aku yang ngidam, aku yang ngelahirin, tapi mukanya mirip Mas Rico semua," ucap Karen menggoda suamianya yang tampak mengeluarkan air mata.
Wajah putri mereka memang sangat dominan ke Rico. Bisa dikatakan Rico versi perempuannya.
Rico terkekeh pelan. "Kan Mas yang buat," jawabnya dengan terharu.
...****************...
__ADS_1