
Karen bangun dan duduk melihat yang datang adalah Andi anak buahnya Rico. Wanita itu tersenyum sebagai sapaan.
"Maaf Bu Karen, Pak Rico-nya ada. Saya mau pamit. Nanti satu jam lagi Antoni yang akan datang menggantikan."
"Rico ada di kamar mandi, kamu panggil saja," ucap Karen dengan tersenyum.
"Nggak perlu, Bu. Sampaikan saja pesan saya itu."
"Baiklah," jawab Karen.
Rico yang berada di kamar mandi, sayup-sayup mendengar suara pria. Rasa curiga, membuat pria itu mengintip. Takut yang datang seseorang yang akan menyakiti Karen.
Rico membuka sedikit pintu agar dapat mendengar dengan jelas suara pria itu. Namun, malang bagi Rico, karena tubuhnya yang terlalu bersandar ke pintu, membuat pintu itu terdorong dan terbuka. Sehingga Rico jatuh.
Andi yang mendengar suara sesuatu yang jatuh, langsung berlari menuju kamar mandi. Andi menahan tawanya ketika mengetahui Rico yang jatuh dengan posisi yang lucu.
Anak buahnya Rico segera membantunya untuk berdiri. Pria itu mengusap ekornya yang terasa sakit.
Rico tersenyum simpul dengan menahan rasa malu. Jika saja dia tahu yang mengetuk pintu itu Andi, dia tidak akan berlari dan bersembunyi di kamar mandi.
__ADS_1
"Kenapa, Pak? Apa kamar mandinya licin? Perlu saya minta petugas kebersihan untuk membersihkan ulang?" tanya Andi.
Karen menutup mulutnya menahan tawa. Dia takut suara tawanya akan membuat Rico makin malu.
"Nggak perlu. Ada apa?" tanya Rico mengalihkan pembicaraan.
"Aku pamit pulang. Satu jam lagi Antoni akan menggantikan aku."
"Tak perlu Antoni ke sini. Malam saja. Aku libur. Jadi seharian akan menemani Karen."
"Baiklah, Pak. Saya pamit."
Setelah mengganti pakaiannya dengan rapi, Rico mendekati ranjang Karen.
"Kamu mau mandi sekarang atau sarapan dulu?" tanya Rico.
"Ya, setelah itu baru sarapan."
Karen dibantu Rico turun dari ranjang. Saat ini dia telah bisa berjalan tanpa kursi roda. Hanya dibantu tongkat penyangga.
__ADS_1
Setengah jam, waktu yang Karen butuhkan untuk membersihkan dirinya. Hingga dia kembali berpakaian rapi.
Karen menatap dirinya didepan cermin dan mendesah. Wajah dan sebagian anak rambutnya tampak masih basah dan lembab setelah dia membersihkan diri toilet yang ada di ruang inapnya. Matanya bersinar sendu ketika tangannya bergerak menyentuh bayangannya sendiri di cermin.
"Akan sampai kapan aku begini. Apakah Arion akan mau membebaskan aku," ucap Karen dalam hatinya.
Karen memegang perutnya. Perutnya sudah mulai tampak sedikit membesar karena usia kandungan yang telah memasuki minggu ke dua belas.
Karen melangkah ke pintu, membukanya perlahan dan keluar dari ruang toilet. Berjalan tertatih dengan bantuan tongkat. Begitu pintu terbuka, dirinya langsung berhadapan dengan Rico yang bersidekap, berdiri didekat pintu seolah sudah lama menanti Karen keluar.
"Kenapa mandinya lama banget. Makanan yang aku pesan sudah hampir dingin," ucap Rico.
Karen hanya tersenyum menanggapi ucapan Rico. Dia berjalan menuju sofa yang berada di dekat jendela.
Rico mengambil makanan yang dia pesan. Bubur ayam, sesuai maunya Karen. Pria itu selalu bertanya apa yang Karen inginkan. Sia tidak ingin anak dalam kandungannya menjadi ileran jika tidak mengikuti maunya.
"Hari ini pengacaraku telah mendaftarkan gugatan cerai atas namamu. Aku meminta semua cepat di selesaikan. Karena bukti telah aku berikan."
"Semoga semua bisa berjalan lancar. Perutku akan makin membesar," ucap Karen sendu.
__ADS_1
...****************...