
Selama hampir dua hari di dalam sini, membuat Karen merasa gila. Benar-benar gila, karena dia tidak bisa melakukan apapun sesuka hati.
Walau dia tidak hanya di kurung dalam kamar saja, tapi geraknya tetap saja terbatas. Karen tidak suka keadaan ini.
“Maaf, anda mau ke mana?”
Matanya terpejam erat saat pertanyaan tersebut di layangkan kepadanya. Dia berbalik badan, menatap laki-laki tinggi besar dan berorot itu dengan pandangan tajam.
“Bukankah terserah saya, kalau saya jalan ke manapun yang saya suka!”
ucap Karen dengan penuh penekanan.
Laki-laki berseragam hitam itu sama sekali tidak merasa takut pada wanita yang saat ini memelototinya. “Tuan Arion tidak membiarkan Nona Karen pergi ke manapun. Harap anda kembali ke dalam kamar dan jangan membuat tuan Arion marah terhadap hal ini.” Pria itu tampak menahan emosinya.
Karen membuka mulutnya gerah. Dia berbalik memunggungi pengawal tersebut, kemudian berjalan cepat meninggalkan halaman rumah menuju teras. Di depan pintu Karen kembali berbalik badan, matanya mengerling ke kanan dan kiri, di setiap sudut hanya ada laki-laki yang tingginya mencapai dua meter dengan perawakan yang gagah dan berotot yang terlihat sangat menakutkan.
__ADS_1
Karen berdecih, Arion benar-benar menjauhkannya dari segala sesuatu yang berhubungan dengan masa lalunya. Mangurungnya di dalam rumah kecil, menyita ponsel, tidak ada barang elektronik selain televisi. Dia gila dan akan benar-benar gila jika dia hanya akan duduk di sini selamanya, tanpa sorang pun yang dia ajak berbicara.
Pintu rumah dia buka dan dia tutup dengan kasar. Helaan napas kasar dia keluarkan, melepas mantel satu-satunya yang dia punya di rumah ini. Membuangnya ke atas sofa sedangkan dirinya malah memilih duduk di lantai dingin tepat di depan pintu.
Karen sebenarnya takut. Dia frustasi. Wanita mana yang akan baik-baik saja ketika dia dikurung di dalam rumah terpencil yang di jaga ketat oleh banyak laki-laki di luaran sana.
Ada dua orang wanita yang bertugas memasak dan membersihkan rumah, tapi dia selalu saja menghindar saat Karen dekati. Mungkin diancam suaminya Arion.
Siapa juga yang akan berpikir positif bahwa semuanya akan baik-baik saja. Okay, jika itu orang lain mungkin bisa. Tapi, ini dia, Karen, dia tidak bisa berpikir positif saat semuanya tampak begitu menghawatirkan di depan mata.
Siapa juga yang menjamin jika para laki-laki yang bekerja sebagai pengawal Arion akan tetap diam di tempat selama berhari-hari. Meskipun jatah makan tetap ada, dan Karen juga tidak tahu dari mana bahan makanan itu dibeli. Karena dia tidak peduli dan nafsu makannya dari kemarin telah hilang. Satu suapun nasi belum masuk ke dalam perutnya. Dia strees.
Sudah dua hari dia dikurung di sini, sudah selama itu pula dia tidak bertemu dengan Arion atau yang saat ini sudah menjadi suami sahnya. Ah, memikirkannya membuat kepala Karen serasa ingin pecah. Kenapa nasib buruknya begitu suram. Dia mencintai Rico, bukan ayahnya.
“Kalau seandainya aku menikah dengan Rico, semuanya pasti terasa manis, sepahit apapun kehidupan kita. Namun, sepertinya Tuhan merencakan yang lain. Yang sangat bertolak belakang dengan apa yang hambanya inginkan. Tuhan, aku masih mengingatmu, dan tolong jangan sia-siakan hal ini. Aku tahu maksudmu baik dengan memberikan ujian di awal sebelum kebahagiaan.”
__ADS_1
Karen menyelonjorkan kakinya, dia menjeda kalimatnya dengan helaan napas kasar dan usapan kasar pada rambutnya, “Tapi, aku mohon Tuhan. Jangan biarkan Rico mengambil jalan yang salah dan membuat semuanya menjadi kacau, aku tidak ingin hubungan ayah dan anak itu semakin rusak, karena seorang wanita, yaitu aku.”
Tanpa bisa di hentikan air mata Karen menetes, membasahi pipi hingga dagunya. Dia kuat, dia tertekan. Saat matanya mengelilingi ruang tamu ini, yang ada hanyalah rasa hening yang mencekam dan gelam yang seakan ingin menenggelamkan dirinya.
Karen menangis tanpa suara. Menangisi kehidupannya yang rusak, dan rasa muak yang ada di dalam hatinya.
Dia ingin pergi dari sini, dia ingin menghirup udara segar. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju kamarnya yang selama dua hari ini dia tempatu. Membuka pintu dengan lemas dengan air mata yang tidak berhanti meluruh. Wanita itu menjatuhkan dirinya di atas ranjang sebelum mengunci pintu agar tidak ada yang masuk seenaknya ke dalam kamar.
“Rico, tolong selamatkan aku,” lirihnya denga suara serak. Ia terus menangis, hingga bantal putihnya basah ternoda dengan tangisannya.
“Bawa aku pergi Rico, aku tidak suka di sini.”
Wanita itu bangkit dari tidurnya, membanting semua yang ada di sekitarnya dengan perasaan marah, kesal dan takut menjadi satu. Satu detik kemudian dia berhenti, berhenti membanting barang-barang dan berhenti menangis.
Dia terpaku di sana setelah mendengar ketukan pintu kamarnya. Sedetik lagi, dia kembali menaris keras, membuka pintu dan melihat wajah seram dari pengawal Arion. Berdiri tegak dengan satu bungkus nasi di tangannya.
__ADS_1
Sejak dia bicara dan bertanya dengan wanita paruh baya yang bekerja di rumah ini, wanita itu tidak pernah datang lagi ke kamarnya. Mungkin dimarahi karena menjawab semua pertanyaannya.
...****************...