
Setelah pemeriksaan kandungan dan mengajak Karen duduk di taman, Rico membawanya kembali masuk.
"Sayang, aku ada sedikit urusan. Kamu ditinggal sebentar tak apa'kan?" tanya Rico.
"Tak apa, Rico."
Rico mengecup dahi Karen dengan lembut sebelum pergi meninggalkan wanita itu. Dia menemui seorang anak buahnya.
"Aku rasa kamu pun sudah paham akan tugasmu, tanpa aku menjelaskannya kembali.” Rico bersedekap dada.
“Saya paham, Bos.”
Rico mengangguk. Dia memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Rahangnya tampak mengeras, ada perasaan tidak ikhlas bercampur aduk menjadi satu. Semua terasa membingungkan, pikirannya berkecamuk. Rico sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada dirinya di masa lalu.
“Kamu cari informasi harus detail. Aku tidak mau sampai harus terlewat satu pun informasi penting,” suruh Rico.
Anak buahnya mengangguk perlahan. “Tentu, Bos. Saya akan mengusahakan semua untuk Bos Rico. Jangan khawatir, Bos.”
“Aku percaya dengan kamu. Tolong korek hingga dalam. Kamu akan menjadi orang suruhanku, aku menjadi donatur di sana menggantikan Mama dan Papa.” Rico menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya.
“Saya berangkat, Bos.”
Rico mengangguk kembali. “Hati-hati di jalan.”
Rico meminta seseorang anak buahnya yang lain. Jika Antoni dan Andi yang diminta, dan Papi melihat, pasti dia akan curiga.
***
“Selamat pagi, Bu.”
“Oh pagi. Dari pihak Pak Rico?” Perempuan paruh baya menyambut begitu hangat, sudah hafal sekali dengan orang kepercayaan Rico yang bergantian.
“Betul, saya dari pihak Pak Rico. Seperti biasa ya, Bu.”
__ADS_1
Anak buah Rico menatap sekitar. Banyak anak kecil yang berlarian ke sana kemari. Mereka tampak bahagia dengan kegiatannya, sama sekali belum memikirkan beban pikiran seperti orang dewasa. Bibir laki-laki itu menyunggingkan senyuman tipis, ingatannya kembali terputar pada masa kecilnya. Hampir sama dengan dirinya dulu, tak seperti sekarang.
“Mereka begitu ceria,” ucap anak buah Rico dengan tersenyum kecil.
“Anak-anak itu belum tahu apa-apa. Mereka masih polos dengan pikiran masa kecilnya. Hidupnya masih tenang, indah sekali masa kecil," ucap Ibu Mawar pengurus panti.
Anak buah Rico itu ikut membenarkan. Dia ingin membangun topik pembicaraan menyerempet masa kecil dari bosnya, tak mungkin langsung pada intinya bertanya apa yang dia inginkan. Mencurigakan dan terlalu agresif. Perempuan paruh baya itu pasti akan malah bertanya-tanya.
“Saya mendengar bila Bos Rico berada di panti asuhan ini, Bu. Apa benar?”
tanya Erik.
Wanita itu menoleh dan mengangguk perlahan. “Benar, Pak. Rico adalah anak angkat dari donatur terbesar di panti asuhan ini. Pak Arion dan Bu Mira, orang baik yang mengangkat Rico menjadi anaknya. Saya merasa bahagia sekali, si ceria mendapatkan kedua orang tua angkat yang tepat. Tugas saya telah purna.”
“Benarkah? Sejak usia berapa, Bu?”
“Em …, mungkin seusia dua tahun. Pak Arion dan Bu Mira terlihat begitu sayang dengan Rico. Saya pun ikhlas melepasnya. Kemungkinan Rico akan bahagia. Dan benar saja, sekarang Rico bisa berkembang cukup pesat. Ibu merasa cukup bahagia melihat dia sekarang sukses,” jawab wanita itu dengan tersenyum.
Air mata menetes tak sadar. Merasa berhasil dan bangga dengan dirinya sendiri, berhasil menyalurkan anak pada tangan yang tepat. Anak buah Rico menundukkan kepalanya, ingat dengan ibunya sendiri. Wanita memiliki hati cukup lembut, hingga hal apapun pasti akan membuat dirinya menangis.
Wanita itu mengangguk. Tangannya terulur mengambil sebuah foto usang, anak kecil yang belum memiliki gigi tengah tersenyum ke arah kamera. Bibir wanita itu tersenyum sambil mengusap permukaan kaca bingkai dari foto tersebut. Tiba-tiba air matanya kembali turun, mengingat bagaimana anak asuhnya saat ini telah berada di puncak kesuksesan. Hatinya merasa bangga.
“Benar, Pak. Ini adalah buktinya. Rico pernah berada di sini. Dia adalah anak yang ceria. Tidak pernah usil kepada teman-temannya yang lain. Benar-benar baik sekali,” jawab pengurus panti asuhan tersebut.
Jadi benar? Apa yang harus aku katakan kepada Bos Rico nanti? Apa mungkin aku harus berbohong? Tidak mungkin, aku harus jujur. Tapi, aku tidak tega.
“Terima kasih, Bu. Saya juga baru tahu jika ada fakta tersebut.”
Anak buah Rico kembali menimang kunci mobilnya. Ada banyak pikiran yang tiba-tiba memenuhi kepalanya. Bingung harus berbicara mulai dari mana kepada sang bos. Tapi, dia tidak akan mungkin berbohong. Kepercayaan Rico kepada dirinya akan berkurang, hal ini bisa saja akan membuat Rico marah besar kepada dirinya.
“Aku akan jujur?”
Tangannya mengulur mengacak-acak rambutnya. “Aku harus jujur dengan Bos Rico. Tidak mungkin aku akan menyembunyikannya dari dia, akan jadi masalah yang cukup besar.”
__ADS_1
“Bagaimana jika dia tidak percaya dengan ucapanku? Itu adalah masalah kedua, yang jelas aku tak akan bohong. Selama ini yang memberikan aku pekerjaan adalah Pak Bos Rico.” Pria itu menghela napas panjang.
Ponselnya berdering, was-was bila dari Rico. Buru-buru dia pun memeriksa ponselnya. Benar saja, Rico telah menghubungi dirinya. Mendadak panas dingin tubuhnya, takut bila ada pertanyaan yang membuatnya gugup untuk menjawab. Maklum saja tugasnya cukup berat daripada menyelidiki masalah lain.
“Halo. Bagaimana, Bos?”
“Apa kamu sudah menemukan jawabannya? Aku harap kamu memberikan jawaban sudah, jangan membuatku menunggu terlalu lama. Aku tidak suka.”
“Tentu saja, sudah. Bos Rico tenang saja, jangan terlalu khawatir. Semua sudah saya atur sedemikian rupa, tolong jangan berpikiran yang buruk. Saya akan segera kembali.”
“Jangan membuat aku terlalu menunggumu lama. Aku tidak sabar untuk mendengarkan jawabannya. Semoga sesuai dengan harapanku.”
“Maafkan aku, Bos. Saya akan segera kembali.”
Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana, membuat pria itu menjadi semakin was-was. Takut bila Rico marah besar dengan dirinya. Maklum saja, Rico terkadang mengerikan saat marah. Semua tak ada yang berani menatap wajahnya kala sedang marah besar. Hal ini membuat anak buahnya sedikit merinding bila mendapatkan tugas yang sedikit berat.
“Jangan terlalu ngebut. Hati-hati di jalan. Aku akan menunggu kedatanganmu.”
“Baik, Bos!” Pria itu berganti menghela napas panjang setelah sambungan telepon terputus.
“Aku harus berbicara apa dengan Bos Rico? Aku takut sekali bila salah berbicara dengannya.” Tangannya mengusap keringat yang mulai menempel di dahinya. Tentu keringat dingin mulai merambahi seluruh tubuhnya.
Semoga saja hari ini bos tak berada di bawah tekanan. Aku tak ingin mati dalam keadaan masih sadar. Bisa saja nasibku begitu berat kali ini. Oh tidak, aku begitu mengenaskan. Sudah menjadi takdirku yang begitu buruk kali ini.
“Aku tidak masalah asal Bos Rico percaya dengan ucapanku.” Pria itu menghela napas panjang.
“Harus segera kembali, jangan sampai membuatnya menunggu terlalu lama.”
Buru-buru menyaku ponselnya dan kembali fokus ke parkiran. Kali ini jantungnya pun ikut naik turun, menikmati ketakutan yang mulai merambah di dalam hatinya. Bagaimanapun juga, Rico adalah manusia biasa yang mudah tersulut emosi. Meski anak buah, tetap akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Jadi, harus cukup berhati-hati untuk menghadapi Rico.
“Semangat aku. Jangan terlalu berpikiran yang tidak-tidak,” ucapnya dengan menghembuskan napas kasar.
Akhirnya dia pun meninggalkan parkiran.
__ADS_1
...****************...