
Pagi menjelang, ditandai dengan matahari yang mulai muncul dari peraduannya. Sinar matahari pagi yang cerah, menyinari bumi.
Karen baru saja selesai memasak sarapan pagi. Dari jam lima pagi, wanita itu telah berkutat di dapur mempersiapkan sarapan. Dia juga memasak buat makan siang dan makan malam ayahnya.
Rico dan Karen akan kembali setelah sarapan pagi. Ayah telah mewanti agar mereka segera kembali.
"Setelah sarapan cepatlah kembali. Dari cerita kamu, ayah takut jika Arion sudah mulai curiga dengan hubungan kalian berdua. Ayah tidak yakin jika Arion akan melepaskan Karen dengan rela setelah tahu kamu ada hubungan dengannya," ucap Ayah dengan Rico.
Karen dan Rico saling pandang. Kemarin Karen telah memohon pada ayahnya untuk jujur, apa sebenarnya yang terjadi dengan ayah dan Arion. Sepertinya mereka memiliki dendam masa lalu.
Namun, ayah masih tetap menyimpan rahasia itu. Ayah tetap pada pendiriannya. Hanya ayah berpesan agar aku berhati-hati saat Arion tahu jika dia ada hubungan dengan Rico.
Setelah sarapan Rico dan Karen akhirnya pamit. Tampak ayah melepaskan kepergian putrinya dengan wajah yang sangat kuatir dan sedih.
"Ayah mohon maaf karena membuat kamu harus menikah dengan pria yang tidak kamu cintai. Ayah merasa gagal menjadi orang tua karena tidak bisa melindungi kamu," ucap Ayah dengan wajah sedih.
__ADS_1
"Ayah, aku tetap bangga memiliki orang tua seperti ayah. Apapun nanti yang terjadi dalam hidupku, itu bukan salah ayah. Semua yang aku alami adalah takdir hidupku. Jangan menyalahkan diri sendiri," ucap Karen.
Karen memeluk erat ayahnya. Seperti mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Begitu juga dengan ayah, seolah begitu berat melepaskan kepergian putrinya itu.
"Ayah, hati-hati. Jangan kerja terlalu capek. Hubungi aku jika ayah sakit atau butuh sesuatu," ucap Karen.
Dia meninggalkan ponselnya untuk ayah. Ternyata ponsel ayah telah dia jual saat akan pulang ke kampung. Karen dibelikan Rico ponsel yang baru.
Setelah itu Karen dan Rico pamit. Sepanjang perjalanan, Keren hanya diam. Dia masih memikirkan ayahnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rico melihat Karen yang terus saja termenung. Padahal perjalanan telah ditempuh satu jam.
"Karen, apapun risikonya aku tidak akan mundur. Aku akan tetap menjalin hubungan denganmu. Jika kita memang saling mencintai, kita harus buktikan semua dengan berjuang berdua. Saling menguatkan. Percayalah kita akan disatukan suatu hari nanti."
Rico menggenggam tangan kanan Karen sambil menyetir. Setelah dua jam perjalanan, mereka beristirahat di sebuah restoran tepi pantai.
__ADS_1
Setelah makan, Karen bermain pasir pantai. Telah cukup lama dia tidak bermain di pantai.
Dengan bertelanjang kaki, Karen bermain pasir. Rico senang melihat Karen tersenyum. Dipeluknya pinggang Karen dari belakang.
"Suatu hari aku ingin membeli vila yang berada di dekat pantai. Setiap akhir pekan kita akan menghabiskan waktu di sana bersama anak-anak," ucap Rico.
"Aku juga memiliki impian begitu. Ingin menetap di desa atau dekat tepi pantai. Suasana yang asri," ujar Karen.
Mereka berdua lupa jika ingin pulang segera, seperti janji pada ayah Karen. Menghabiskan waktu di pantai hingga sore hari.
***
Sementara itu, di rumah kediamannya Arion, pria paruh baya itu sedang murka ketika mengetahui dari bibi jika Karen dan Rico pergi dari kemarin.
"Pasti di antara mereka ada hubungan. Tidak mungkin pergi hingga menginap begini jika tidak ada sesuatu?" ucapnya dengan penuh emosi.
__ADS_1
Arion lalu menghubungi orang kepercayaannya untuk menyelidiki hubungan antara Karen dan Rico.
...****************...