GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 47. Kedatangan Arion


__ADS_3

Di bantu perawat, Karen duduk di dekat jendela kaca yang tingginya dari langit kamar hingga lantai. Pemandangan di sekitar rumah sakit tampak jelas. Gedung-gedung tinggi menjulang dan juga lalu lintas jalan yang sangat ramai karena jam pulang kerja.


Matahari sudah mulai kembali ke peraduan, pertanda malam akan segera menjelang. Langit senja tampak indah di pandang dari lantai kamar ini. Karen memandangi langit senja sambil termenung.


Aku percaya, setiap senja memiliki cerita unik tersendiri. Aku juga percaya bahwa Tuhan selalu memiliki alasan disetiap kejadian. Begitupun dengan batas senja, yang telah memisahkan antara siang dan malam. Mungkin agar manusia tidak terlalu kecewa dengan apa yang telah mereka lalukan dihari itu atau kemungkinan-kemungkinan lainnya yang telah Tuhan rencanakan untuk Umatnya, aku tak tahu.


Rico yang pamit dari siang, belum juga kembali. Tadi dia menghubungi Karen mengatakan akan telat kembali ke rumah sakit. Banyak berkas yang harus dia kerjakan. Selama merawat Karen semua pekerjaan diserahkan dengan asisitennya saja.


Karen membalikkan tubuhnya saat mendengar pintu kamar diketuk. Berharap yang datang adalah Rico. Dia merasa sunyi karena tidak ada teman berbagi cerita.


Mata Karen melebar ketika memandang pintu kamar perawatannya yang dibuka oleh salah seorang perawat. Jantungnya langsung berdebar, membuat Karen mengepalkan jemarinya di pangkuan tanpa sadar.


Orang yang tidak pernah dia harapkan ternyata datang. Arion tersenyum dengan Karen. Namun, wanita itu hanya diam tidak membalas.

__ADS_1


"Selamat malam, istriku," ujar Arion dengan senyum simpul.


Arion melangkahkan kakinya menuju Karen. Duduk di sofa yang berada di dekat jendela.


"Kelihatannya kesehatan kamu sudah makin membaik. Aku senang melihatnya. Semakin cepat pulih, semakin cepat kita kembali ke rumah!" ucap Arion dengan suara datar.


Ucapan Arion itu mampu membuat tubuh Karen bergetar. Tidak ingin hal itu terjadi. Jika di minta memilih, mungkin dia lebih baik selamanya di rumah sakit dari pada harus kembali ke rumah lagi dengan Arion.


"Aku tidak akan kembali ke rumah itu," ucap Karen. Mencoba berani mengungkapkan pendapatnya. Dia tidak boleh terlihat lemah lagi. Bukankah Rico mengatakan memiliki bukti kuat untuk dirinya mengajukan perceraian.


Mungkin bagi yang melihat mereka berdua, pasti orang-orang akan mengira, Karen adalah istri yang tidak tahu diri karena memiliki suami yang baik, namun masih saja tidak bersyukur.


"Aku yakin jika kamu telah tahu, jika saat ini aku sedang mengandung anak Rico," ucap Karen penuh penekanan. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi, agar Arion bisa marah dan mau melepaskan dirinya.

__ADS_1


Bukannya marah mendengar ucapan Karen, pria paruh baya itu bahkan tersenyum. Hal itu mampu membuat Karen takut. Dia tidak mau Arion menyakiti dirinya apa lagi bayi dalam kandungan saat ini.


Karen mencoba menggerakkan kursi rodanya agar bisa menjauh dari Arion. Pria itu langsung menahannya. Pria paruh baya itu lalu berdiri di belakang Karen. Membantu Karen dengan mendorongnya.


"Kamu mau kemana? Aku akan bantu. Jangan pergi sendiri, jika kamu jatuh akan berbahaya untuk bayi dalam kandunganmu," ucap Arion masih dengan suara tenang.


Ucapan Arion membuat Karen makin takut. Bukankah seharusnya dia marah, pikir Karen.


Arion lalu berdiri dihadapan Karen. Masih dengan senyumannya.


"Sudah waktunya kamu makan malam. Aku mau pamit. Jangan lupa makan yang banyak agar cepat pulih seperti dulu. Biar kita bisa cepat kembali ke rumah," ucap Arion.


Setelah mengucapkan itu, Arion pergi dari kamar itu. Tinggal Karen yang tampak menarik napas lega.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2