
Mata Karen tampak memerah menahan air mata. Bagaimana cara agar dia dapat bertemu lagi dengan ayahnya. Arion pasti tidak akan mengizinkan dia mencari.
Rico mengerti jika saat ini pastilah hati Karen sedang sedih. Di dalam mobil, pria itu langsung memeluk wanita yang sangat dia cintai itu.
"Jangan sedih, aku janji akan mencari ayah kamu hingga bertemu," ucap Rico.
"Bagaimana caranya. Aku nggak tahu di mana kampung ayah," ucap Karen dengan terisak.
"Tenang saja. Aku akan meminta seseorang menyelidikinya," ucap Rico lagi.
Rico janji akan mencari tahu keberadaan ayah wanita yang dicintainya itu. Tidak akan dia biarkan Karen bersedih.
"Terima kasih, Rico."
"Jangan berterima kasih dulu. Aku belum melakukan apa pun saat ini."
"Niat baikmu mau menolong mencari di mana ayahku sudah sangat aku hargai," ucap Karen.
"Sekarang kita kembali dulu ke rumah. Papi pasti akan curiga jika kita pergi lama. Aku akan mencari tahu keberadaan ayahmu. Jika ada waktu dan kesempatan kita akan menemuinya."
__ADS_1
Karen menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju atas ucapan Rico. Pria itu lalu melepaskan pelukannya. Menghidupkan mesin mobil, menjalankan menuju jalan pulang.
Setelah beristirahat dan makan, perjalanan kembali dilanjutkan. Saat makan tadi, Rico telah menghubungi orang kepercayaannya untuk mencari keberadaan ayah Karen.
Sampai di rumah hari telah menjelang malam. Rico dan Karen tidak menyadari kehadiran Papinya. Dengan menggenggam tangan Karen, mereka berjalan masuk ke rumah.
"Sudah pulang kalian," ucap Arion mengagetkan Rico dan Karen. Pria itu langsung melepaskan genggaman tangannya.
"Jalanan macet, sehingga kami telat sampai," ujar Rico memberikan alasan.
Karen yang sangat gugup langsung pamit menuju kamar. Membersihkan diri sebelum makan malam. Begitu juga Rico, segera pamit untuk mandi juga.
Arion berjalan menuju kamar. Saat masuk, Karen sedang memakai bajunya. Arion memandangi tubuh wanita itu tanpa kedip. Dia menyadari betapa cantiknya wanita itu.
Arion memeluk tubuh Karen dan mengecup pipinya. Wanita itu membalikan tubuhnya dan menatap Arion. Karen gugup menyadari pandangan Arion padanya yang sangat mematikan.
Rico yang baru selesai mandi, melihat pintu kamar Papi-nya sedikit terbuka, pria itu mengintip. Alangkah kagetnya Rico melihat Karen berada dalam pelukan Papi Arion.
Melihat itu, Rico menjadi cemburu. Dia tidak rela jika Karen jatuh ke dalam pelukan ayahnya. Dengan cepat Rico mengetuk pintu kamar itu.
__ADS_1
Karen langsung melepas pelukan Arion. Dia tersenyum agar pria paruh baya itu tidak marah.
"Maaf, Pi. Ada yang mengetuk pintu. Mungkin bibi memanggil untuk makan malam," ucap Karen hati-hati takut Arion marah.
"Aku lupa jika kita akan makan malam. Setelah itu baru kita bisa lanjutkan yang tadi. Kamu sudah tidak lagi berhalangankan?" tanya Arion.
Karen hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Tidak mungkin lagi dia beralasan lagi datang bulan. Pasti Arion akan curiga.
Rico yang mendengar ucapan Papinya, mengepalkan tangannya. Tidak terima jika Papinya akan berhubungan badan dengan Karen.
"Akan aku cari cara agar Papi tidak bisa berhubungan dengan Karen," ucap Rico dalam hatinya.
Karen dan Arion berjalan menuju pintu kamar. Kaget melihat ternyata Rico yang berdiri di balik pintu kamar.
"Papi kira bibi yang memanggil," ucap nya penuh penekanan.
"Aku sudah lapar, Pi. Ingin cepat makan malam," ucap Rico.
Arion berjalan menuruni anak tangga tanpa menanggapi ucapan putranya itu. Dibelakang Arion, berjalan Rico dan Karen.
__ADS_1
...****************...