
Setelah mereka bertiga selesai makan, tiba-tiba Rico berdiri. Diacaknya rambut Karen dengan lembut.
"Aku ke toilet sebentar. Kamu nggak apa aku tinggalin dengan Papi?" tanya Rico.
Mendengar ucapan Rico, Arion langsung menatap Karen. Dia sangat menanti jawaban dari wanita itu. Arion berharap Karen mau ditinggal berdua dengannnya saja.
Karen dalam diam ternyata juga menatap Arion. Mencoba menarik napas. Sebenarnya masih ada rasa takut jika berdua saja dengan pria itu. Namun, Karen juga tidak mungkin bisa menghilangkan rasa takut dan traumanya jika dia masih terus menghindari Arion.
Akhirnya Karen menganggukkan kepalanya tanda setuju. Arion langsung menarik napas lega. Dia harap Karen secepatnya bisa melupakan rasa traumanya.
Setelah Rico pergi dan menghilang dari pandangan mereka, Arion langsung memberikan senyuman. Diambilnya puding yang ada dihadapan dirinya.
"Cobalah ini. Enak banget. Ini juga bagus buat kandungan kamu. Terbuat dari buahan," ucap Papi Arion memulai percakapan diantara mereka.
Karen hanya tersenyum menanggapi semua ucapan dari Arion. Tanpa pria paruh baya itu tahu, Karen mencoba menghilangkan rasa sakit dan takutnya. Jari jemari bertautan di bawah meja, saling meremas. Dia berusaha samampunya untuk menghilangkan rasa takut.
Karen mengambil puding yang disodorkan Arion dan menyuap ke mulutnya dengan perlahan. Pria paruh baya itu terus tersenyum.
"Apa kamu sangat menyayangi ayahmu?" tanya Arion.
__ADS_1
Karen menghentikan suapannya. Dia lalu memandangi wajah Arion dengan intens.
"Kenapa Papi tanyakan itu? Sebagai seorang anak, tentu saja aku sangat menyayangi ayah," jawab Karen.
"Iya, tentu saja itu benar. Seorang anak pasti menyayangi ayahnya!" ucap Arion.
Arion berharap Karen juga akan memiliki perasaan yang sama. Menyayangi dirinya seperti dia menyayangi Rusdi.
"Bagaimana jika ternyata suatu saat kamu mengetahui jika ternyata ayah kamu itu bukan ayah kandung, apakah kamu akan tetap menyayangi dirinya?" tanya Arion lagi.
Kembali Karen memandangi Arion. Dalam hatinya bertanya, kenapa pria paruh baya itu menanyakan hal ini.
"Aku rasa Rico masih menyayangi Papi, walau saat ini dia telah tahu kebenarannya jika dia bukanlah anak kandung Papi. Jika ada sedikit rasa kecewa bagiku itu wajar karena dia merasa telah dibohongi selama ini," jawab Karen.
Karen berpikir pertanyaan yang Arion ajukan itu mengenai hubungannya dengan Rico. Selama ini Karen juga melihat kekasih hatinya itu tidak pernah mengatakan rasa kecewanya pada Arion.
Karen bahkan pernah mendengar dari mulut pria itu jika dia sangat berterima kasih karena Arion telah mengangkatnya sebagai anak.
"Papi bukan bicara tentang Rico tapi kamu. Jika seandainya kamu juga mengalami hal yang sama. Ternyata ayah Rusdi itu bukan ayah kandungmu, apa yang kamu lakukan?" tanya Arion lagi.
__ADS_1
"Aku akan tetap menyayangi ayah Rusdi. Karena dia yang telah membesarkan aku."
"Bagaimana dengan ayah kandungmu? Apakah kamu akan menerima dan memaafkan kesalahannya?" tanya Arion lagi.
"Aku tidak bisa menjawabnya. Aku akan lihat dulu kesalahannya. Mengapa dia meninggalkan aku dan tidak pernah menemui aku," ucap Karen.
Arion menarik napasnya. Dia tahu semua itu pasti yang akan terjadi. Tidak mungkin Karen akan menerima dirinya langsung.
Rico yang telah selesai dari toilet muncul, sehingga borokan antara Arion dan Karen terhenti. Pria itu kembali duduk di samping kekasihnya itu.
Bertiga mereka menyantap hidangan penutup sebelum akhirnya pulang.
***
Hari ini Rusdi akan datang dari kampung untuk menghadiri pesta pernikahan putrinya Karen. Selama di kota Rusdi akan tinggal di apartemen Rico bersama Karen.
Sedangkan Rico akan menempati apartemennya yang lain. Dia tidak mungkin satu atap dengan calon mertuanya itu. Takut merasa canggung.
...****************...
__ADS_1