
Arion benar-benar dibuat kesal dengan kedatangan Rico, putranya. Dia sangat geram karena Rico masih berani datang ke hadapannya dan dengan terang-terangan mengatakan kalau mengkhawatirkan Karen. Padahal saat ini Karen sudah menjadi istri Arion, yang di mana Rico menjadi anak sambung Karen. Tapi mereka tetap main di belakang, hal itu sama sekali tidak bisa dilupakan oleh Arion.
"Antarkan aku ke desa," perintah Arion saat sudah berada di halaman rumah. Dia masuk ke dalam mobil dan menaruh kepalanya ke punggung kursi, rasanya kepalanya sangat berat menghadapi masalah ini.
Usianya tak lagi muda, tapi dia tetap harus menghadapi masalah. Padahal dia ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan tenang dan senang, tapi pernikahannya dengan Karen malah berakhir seperti ini. Arion merasa sangat dikhianati.
Mobil yang ditumpangi Arion mulai meninggalkan halaman rumah. Perjalanan menuju ke desa terbilang cukup memakan waktu, jadi Arion memutuskan untuk tidur selama perjalanan karena di sana nanti dirinya pasti akan berdebat atau memarahi Karen. Arion tidak tahu pasti, tapi salah satunya pasti akan terjadi karena setiap kali menatap wajah Karen, pria paruh baya itu mengingat kesalahan yang pernah dilakukan wanita itu bersama dengan Rico.
Sementara di sisi lain, Rico berusaha mencari tahu sendiri di mana Papinya menyembunyikan Karen. Dia bertanya kepada beberapa pembantu dan pwgawai Papi-nya, mungkin saja salah satu dari mereka ada yang tahu. Tapi, usaha Rico tidak ada hasil, semua menjawab tidak tahu.
Entah itu jawaban sebenarnya atau memang mereka semua sangat setia kepada Arion dan benar-benar menutup mulut untuk pria paruh baya itu. Tetapi, Rico masih tidak menyerah begitu saja. Pemuda itu mencari-cari sesuatu di ruang kerja dan kamar Papi-nya, siapa tahu ada jejak yang ditinggalkan Arion.
Namun, cara kerja Arion sangat rapi. Pria paruh baya itu tidak meninggalkam jejak apa pun, tidak ada yang bisa dicurigai di rumah. Hal itu membuat Rico semakin marah, dia sangat memgkhawatirkan Karen, dia takut setelah ini Papi-nya akan semakin memperlakukan Karen semakin buruk. Entah bagaimana pun caranya, Rico harus bisa bertemu dengan Karen.
Sementara itu, mobil yang membawa Arion sudah sampai di desa, tepatnya di tempat di mana dia menyembunyikan Karen.
"Pak, kita sudah sampai," tegur supir Arion saat sudah menghentikan mobilnya di tempat itu.
__ADS_1
Arion yang masih memejam itu perlahan membuka matanya, dia melirik ke samping dengan penuh hati-hati. Dia tidak ingin kalau ada yang mengetahui tempat yang menjadi rahasianya, jika ada yang tahu Arion pasti akan langsung marah besar.
"Tidak ada yang mengikuti kita, kan?" tanya Arion memastikan. Dia takut kalau Rico diam-dia mengikutinya.
"Tidak ada, Pak. Sejauh tadi tidak ada yang mencurigakan," jawab supir itu apa adanya.
"Baiklah." Setelah itu, Arion keluar dari mobilnya dan buru-buru masuk ke dalam tempat itu. Beberapa penjaga yang ia tugaska di sana langsung hormat kepadanya dan membukakan pintu untuk dirinya.
Saat sudah berada di dalam, Arion menatap tubuh Karen yang terduduk di kursi sambil tertidur. Pria paruh baya itu menatap Karen cukup lama, sampai akhirnya wanita itu bangun. Sepertinya Karen bisa merasakan hawa tidak enak karena kedatangan Arion, wanita itu langsung membulatkan matanya saar melihat Arion berada tepat di depannya sambil memperlihatkan senyuman tengilnya.
"Kamu terbangun, Sayang? Tidurlah lagi, aku tidak bermaksud untuk membangunkanmu tadi," ucap Arion sambil berjalan mendekat pada Karen.
"Kenapa kamu terlihat ketakutan seperti itu? Seharusnya kamu senang karena suamimu berkunjung." Arion mengusap lembut pucuk kepala Karen, kemudian dia menyentuh dagu wanita itu agar wajahnya bisa menatapnya. "Ada apa? Apa kamu merasa malu bertemu denganku?"
Mata Karen semakin berdenyut, rasanya air matanya ingin keluar dengan deras tapi dia mencoba memahannya karena dia tahu kalau Arion akan marah jika melihatnya menangis.
"Kamu ingin menangis?" tanya Arion dengan nada bicara yang terdengar sangat tidak enak.
__ADS_1
"M-maaf, Pi. Tolong maafkan aku, biarkan aku kembali ke kota, aku tidak suka tinggal di desa," pinta Karen dengan suara bergetar. Wanita itu juga sengaja menangkupkam kedua tangannya dihadapan Arion agar permintaannya itu bisa dipenuhi oleh pria paruh baya itu.
Arion sedikit mendekatkan wajahnya pada Karen, kemudian perlahan mulai mengusap lembut pipi istrinya yang sudah basah karena dilalui oleh air mata. "Rupanya kamu sangat ingin kembali ke kota. Apa di sini sangat membosankan? Aku kira kamu sangat menyukai tinggal di desa, itu sebabnya aku menaruhmu di sini," respon Arion. Pria paruh baya itu seolah tidak peduli sama sekali dengan permintaan Karen.
Karen sendiri terus menangis, air matanya semakin deras keluar. Dia sebenarnya tidak ingin disentuh oleh Arion, tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi resiko bagi dirinya.
"Aku benar-benar tidak menyukai tempat ini, tolong bawa aku kembali ke kota. Aku mohon, Pi." Karen meminta sekali lagi, kali ini dia terlihat sangat sungguh-sungguh. "Aku berjanji kepada kamu kalau aku akan menuruti apa pun kemauan kamu, asal aku bisa kembali ke kota."
"Apa-apaan ini, tadi Rico meminta untuk bisa bertemu dengamu dan sekarang di sini kamu meminta untuk kembali ke kota. Apa kalian sudah merencakan hal ini?" Arion sedikit menjauh dari Karen. Pria paruh baya itu memicingkan matanya, dia sangat kesal melihat ini semua. "Aku tidak akan pernah membawamu ke kota, bahkan sampai air matamu itu kering, kamu akan tetap berada di tempat ini. Karena tempat ini memang sudah pantas untuku, Sayang."
Karen yang mendengar itu langsung menggeleng dengan cepat, dia tidak ingin terus tinggal di temoat terpencil seperti ini. Dirinya menjadi stres karena terus saja berada di dalam rumah, bahkan dia juga tidak diberi makan secara teratur.
"Aku tau kesalahanku memang fatal, tapi aku yakin kamu masih bisa memaafkannya. Aku mohon tolong bawa aku pergi dari sini, aku akan melakukan apa pun jika kamu membawaku ke kota lagi," pinta Karen sekali lagi. Dia berharap kali ini Arion bisa merubah pikirannya dan menuruti apa kemauannya, Karen sudah tidak tahan lagi berada di tempat seperti ini.
"Benarkah? Kamu akan melakukan apa pun?" tanya Arion sambil menatap wanita itu dengan remeh.
"Iya. Aku berjanji akan melakukan apa pun yang kamu perintahkan. Aku juga berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan Rico, aku akan menghindar darinya. Sekarang aku sadar, apa yang aku lakukan dengan Rico adalah kesalahan besar," jawab Karen dengan air mata yang terus keluar deras.
__ADS_1
Tanpa Arion sadar, ada seseorang yang mengikutinya. Saat ini pria itu sedang menghubungi seseorang.
...****************...