
Karen menghapus darah yang mengucur dari sudut bibirnya. Menatap Arion dengan mata melotot.
"Kenapa kau tidak membunuhku saja? Kau masih ada rasa takut rupanya. Ingat Arion, kau akan menyesali semua yang pernah kau lakukan padamu terutama anakmu Rico. Apa kau pikir akan bisa hidup tanpa bantuan keluarga. Di saat kau sakit-sakitan dan tidak berdaya, kau juga pasti akan dicampakkan anakmu. Aku sumpahi kau hidup dalam kubangan penyesalan," ucap Karen dengan penuh emosi.
Rasa sakit di tubuhnya tidak lagi dia rasakan. Keren takut Arion melakukan sesuatu dengan kekasihnya Rico.
"Kau yang akan menyesal karena bermain denganku," ucap Arion.
Arion menepuk tangannya. Dua orang suruhannya yang berbadan kekar masuk. Entah isyarat apa yang Arion berikan. Dengan mengangkat tangannya dia meminta kedua orang itu membawa Karen.
"Lepaskan aku. Dasar psikopat," teriak Karen.
Hanya itu yang sempat dia katakan sebelum akhirnya pingsan karena diberi obat bius. Tubuh wanita itu dibawa masuk ke mobil. Arion juga ikut di dalam mobil itu.
Perlahan mobil berjalan meninggalkan halaman rumah. Karen tidak sadar jika dia dibawa ke luar kota. Bahkan dia akan di bawa ke desa yang cukup terpencil.
__ADS_1
Lima jam perjalanan, barulah mereka sampai. Tadi Karen sempat sadar, tapi kembali Arion meminta bawahannya untuk memberi bius kembali.
Tubuh Karen tampak sangat lemah. Dia digendong masuk ke dalam kamar. Arion memandangi Karen dengan mata tajam seolah ingin memakannya.
"Kenapa aku tidak bisa melakukan hubungan dengannya. Bisa saja aku memaksanya. Namun, setiap aku ingin mencoba melecehkannya, hatiku melarang. Ada apa dengan Karen?" gumam Arion.
Arion memperhatikan kembali wajah Karen. Terbayang wanita yang sangat dia cintai.
Ibunya Karen, adalah mantan kekasihnya yang lebih memilih menikah dengan Ayah Karen, saat Arion melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Mengetahui wanita yang dia cintai telah menikah, membuat Arion marah. Dia dendam dengan Rusdi dan Novi. Kedua orang tua Karen. Sejak hari itu Arion selalu saja melakukan apapun untuk mengganggu rumah tangga mantan kekasihnya itu.
"Aku di mana? Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Karen dalam hatinya.
Karen memegang kepalanya yang sedikit pusing. Tenggorokannya terasa kering. Mual dan ingin muntah dia rasakan. Mungkin efek di bius.
__ADS_1
Karen berjalan menuju pintu kamar. Mencoba membukanya namun terkunci. Dia kembali ke tempat tidur. Wanita itu melihat ada air mineral di atas nakas. Mengambilnya. Ternyata masih bersegel. Dia langsung meneguknya hingga kandas.
Beberapa menit kemudian pintu kamar terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya masuk dengan membawa napan berisi makanan.
"Silakan makan, Nona!" ucap wanita itu. Meletakkan makanan di atas nakas samping tempat tidur.
"Dari mana bibi tahu aku telah sadar?" tanya Karen. Dia heran kenapa bisa tahu kalau dirinya telah sadar. Padahal Keren tidak ada mengeluarkan suara.
"Kamar ini dilengkapi CCTV, Nona!" ucap wanita itu lagi.
Karen menarik napas dalam. Bersyukur dia bertanya sehingga tahu keadaan kamar ini. Jadi dirinya bisa berhati-hati.
"Terima kasih, Bi," ucap Karen. "Saya boleh tahu ini di mana?" tanya Karen lagi.
"Di desa B, Nona. Maaf Nona, saya pamit." Wanita itu langsung pergi dengan tergesa. Mungkin dia takut salah menjawab. Karen juga tidak bisa mendesaknya.
__ADS_1
...****************...
"