
Arion menjalankan mobilnya dengan perasaan tidak menentu. Rasanya ingin segera sampai ke kampung halaman Rusdi. Dari orang kepercayaan dia memperoleh alamat pria itu.
Pria paruh baya itu baru mengetahui jika Novi sedang hamil saat dia pergi melanjutkan kuliah ke luar negeri. Dia ingin tahu, apakah Rusdi mengetahui ini.
Dengan perasaan tak menentu Arion mengendarai mobilnya. Dia takut apa yang ada dipikirannya itu benar adanya.
Empat jam perjalanan akhirnya Arion sampai ke kampung halaman Rusdi. Setelah bertanya dengan beberapa orang, akhirnya dia sampai ke alamat yang di tuju.
Saat itu Rusdi sedang duduk di bangku kayu yang ada di depan rumahnya sambil merokok. Arion langsung turun begitu melihat pria itu.
Rusdi yang sedang bersantai tentu saja kaget melihat kedatangan seseorang yang tidak pernah dia harapkan. Pria itu langsung berdiri dari duduknya. Memandangi Arion tanpa kedip.
Arion berjalan pasti dengan langkah tegap. Dari tatapan matanya tampak masih ada dendam di hatinya.
"Selamat sore," ucap Arion kaku. Dia tidak tahu harus memulai dari mana ucapannya.
__ADS_1
Arion dan Rusdi hanya pernah bertemu sebanyak dua kali. Itu juga ditemani asistennya. Pertama saat menyerahkan uang pinjaman, dan kedua saat pemakaman Novi.
Namun, dari asistennya, Rusdi sering mendapat ancaman atau intimidasi. Dia jadi berkesimpulan jika Arion seorang yang kejam.
"Selamat sore. Satu kejutan seorang Pak Arion yang terhormat bisa sampai digubukku yang reot ini."
Dalam hatinya Rusdi sedikit takut. Kenapa pria seperti Arion mencari dirinya. Dan yang lebih menakutkan, dia bisa sampai di kampung yang letaknya cukup terpencil. Pasti ada hal penting hingga pria paruh baya seperti Arion mencari dan mendatangi dirinya.
Biasanya pria itu hanya menyuruh asistennya. Saat ini, jangankan membawa asistennya. Supir pribadipun tidak ada. Hal penting apakah yang membuat dia hingga mau menemui Rusdi seorang diri.
"Sepertinya ini hal yang sangat serius. Masuklah! Kita bicara di dalam. Namun, rumahku memang tidak layak dikatakan sebagai sebuah rumah, tepatnya hanya gubuk. Jadi mohon maaf jika kamu merasa tidak nyaman dan tidak betah," ucap Rusdi.
Pria itu mempersilakan Arion masuk. Matanya memandangi rumah Rusdi tanpa kedip. Setiap sudut tidak luput dari pandangannya. Rusdi ke dapur dan membuat dua gelas kopi. Duduk di lantai di ikuti Arion.
"Silakan minum. Hanya ada kopi. Maaf tidak bisa menjamu tamu dengan baik. Beginilah kehidupan di desa terpencil seperti ini," ucap Rusdi.
__ADS_1
Arion hanya menjawab dengan tersenyum simpul. Arion membayangkan bagaimana kehidupan Novi saat bersama pria itu. Apa yang Novi suka dari pria seperti ini. Mau meninggalkan dirinya untuk pria miskin seperti Rusdi.
"Apa yang ingin Bapak bicarakan?" tanya Rusdi membuka percakapan.
"Aku ingin kamu menjawab pertanyaan aku dengan jujur tanpa menutupi apapun itu," ucap Arion.
"Jika aku bisa menjawabnya. Apa yang ingin kamu ketahui dariku yang miskin ini?" tanya Rusdi.
Arion menarik napas dalam. Mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tidak tahu harus bertanya apa untuk pertama kalinya.
"Apakah saat kamu menikah dengan Novi, dia sedang hamil?" tanya Arion. Setelah mengucapkan itu kembali Arion tampak menarik napas kembali. Terlihat kegugupan di wajahnya.
Begitu juga dengan Rusdi. Tampak dia menarik napas dalam. Dia tidak ingin bicara sesuatu yang telah berlalu dan ingin di kubur dalam.
"Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Rusdi.
__ADS_1
...****************...