
Di tempat berbeda, Rico sedang gelisah menantikan kabar dari anak buahnya. Dia ingin tahu pasti tentang asal usul dirinya.
"Semoga ada titik terang dari semua hal yang membuat kepalaku menjadi pusing,” ucap Rico, helaan napas kasar keluar dari bibirnya.
Anak buahnya belum kunjung memberikan kabar, padahal sudah dia nantikan. Terlebih ada sebuah keyakinan dan pemikiran tentang dirinya yang bukan garis keturunan dari Arion dan Mira, kedua orang tuanya. Rico merasa tak tenang bila belum mendapatkan jawaban yang sesungguhnya. Terlebih ini masalah tentang dirinya, jati diri.
“Aku sudah siap bila memang bukan anak mama dan papa. Setidaknya aku mengetahui jati diriku yang sebenarnya,” lanjut Rico.
Terlihat wajah Rico cukup kusut, isi kepalanya terus berkecamuk. Dia masih terus kepikiran dengan hasil penyelidikan sang anak buah. Mendadak merasa was-was, perasaan tidak tenang.
“Bos,” panggil laki-laki berbadan kekar yang tiba-tiba muncul dihadapan Rico.
“Yang aku tunggu akhirnya datang. Mari mencari tempat yang lebih enak untuk bicara,” ajak Rico.
“Baik, Bos!” ucap Erik.
Rico mengajak Erik keluar dari gedung perusahaan miliknya. Pria itu membawa orang suruhannya menuju taman terdekat.
Bangku sebuah taman, menjadi sasaran utama untuk Rico mengajak anak buahnya berbincang. Dia ingin lebih intens berbicara empat mata dengan si laki-laki kepercayaannya. Banyak informasi penting yang dibawa, tentu akan menguntungkan Rico. Pria itu tengah bertanya-tanya dan memang menantikan si kunci jawaban.
“Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan jawaban semuanya? Aku yakin kamu telah memiliki satu jawaban yang cukup berarti untukku.” Pandangan Rico lurus ke depan.
Laki-laki itu berdehem pelan sambil menjawab, “Betul, Bos. Semua jawaban yang Bos Rico inginkan sudah saya dapatkan. Jangan khawatir.”
“Bagaimana dengan hasilnya?” tanya Rico tidak sabaran.
Jujur saja, Rico tak sabar ingin mengetahui jawaban yang sebenarnya, paling tidak tak ada yang ditutupi. Sebab tak mungkin dirinya bertanya langsung kepada Arion dan apa lagi Mira yang telah tiada, jalan satu-satunya adalah mencari tahu sendiri. Kondisi yang tak memungkinkan membuat dirinya harus memakai anak buahnya, semua beres di tangan orang kepercayaannya.
__ADS_1
“Menurut informasi yang saya dapatkan, Pak Arion dan Bu Mira mengadopsi Bos Rico dari panti asuhan itu. Mereka adalah donatur tetap dan paling terbesar di panti asuhan tempat Bos Rico berada. Akhirnya memutuskan untuk mengangkat satu anak dari panti asuhan tersebut dan yang terpilih adalah Bos Rico. Kurang lebih seperti itu informasi yang saya dapatkan, Bos.”
Sejenak Rico terdiam, dia menghembuskan napas kasar. Jawaban yang paling mengerikan dan dia nantikan terjawab sudah, telinganya seperti berdenging. Tak menyangka, meski hatinya sudah setengah menerima. Ikhlas bila kenyataannya memang dirinya bukan anak dari Arion dan Mira.
“Jadi …, aku bukan anak kandung mama dan papa? Jawabannya sama seperti dugaanku selama ini,” lirih Rico dengan mengacak-acak rambutnya.
Mau seikhlas apapun hatinya, tetap saja ada perasaan tak rela. Terlebih Arion dan Mira seperti orang tua kandungnya sendiri, terlalu dekat dan baik sekali. Seperti tak ada jeda, malah Mira dan Arion begitu sayang kepada dirinya di waktu dia kecil. Menatap wajah Rico yang begitu mengenaskan, membuat sang anak buah menjadi ikut sedih, seperti merasa bersalah telah membicarakan jawaban yang sebenarnya.
“Baiklah, tidak masalah. Aku sudah siap,” ucap Rico kembali.
“Maaf.” Anak buah Rico memilih menundukkan kepalanya, merasa ikut iba.
Rico menoleh, menatap lekat ke arah anak buahnya. “Untuk apa? Kamu tak salah, tidak ada yang salah di sini. Bahkan, aku sama sekali tidak menyesal. Sangat berterima kasih kepada mama dan papa sudah mengangkat aku menjadi anak. Aku merasa berhutang budi. Mereka membuat hidupku menjadi lebih berbeda.”
“Jangan merasa bersalah. Sama sekali kamu tidak bersalah di sini, lagi pula kamu tak ada salah. Memang kenyataannya sudah seperti itu,” lanjut Rico dengan tersenyum.
“Aku cukup berat untuk mengatakannya, Bos. Sebenarnya aku pun tidak ingin membuat hatimu terluka, tapi mau bagaimana lagi? Memang itu jawaban yang ada, Bos. Maafkan aku,” ucap anak buah Rico.
Rico menggelengkan kepalanya perlahan. Wajahnya menampilkan senyuman paling manis, berusaha menghibur dan membuat hati sang anak buah lebih membaik. Pria itu tak mau membuat siapa saja didekatnya merasa kecewa ataupun sedih. Lebih baik hatinya saja yang terluka.
“Hei, tidak masalah! Sungguh aku tidak mempermasalahkan apa yang kamu katakan. Aku malah merasa lega sekarang, akhirnya aku mengetahui titik terangnya. Terima kasih sudah membantuku. Kamu selalu berhasil aku andalkan dalam setiap kondisi. Bila bukan kamu, mungkin aku tak akan tahu apa yang terjadi di masa lalu.” Rico kembali menghela napas panjang.
Harusnya aku ikhlas seperti ucapanku. Tetap saja hatiku merasa sedih. Padahal keluarga mama dan papa begitu menerima aku dengan baik, tidak membedakan aku anak angkatnya. Aku semakin tidak kuat menahan air mataku. Bagaimana mungkin ada orang sebaik mereka? batin Rico.
Walau setelah aku dewasa, pertengkaran antara Papa dan mama juga berdampak padaku. Papa mulai membenciku karena selalu membela Mama, ucap Rico lagi dalam hatinya.
Sang anak buah ikut menepuk bahu Rico, menyalurkan rasa semangat. Setidaknya bosnya itu tak terlalu larut dan terpuruk dengan keadaan, harus bangkit. Sebenarnya anak buah Rico merasa canggung terlalu dekat dengan bosnya, tetapi tidak mau sampai menatap Rico bersedih.
__ADS_1
“Sudah pada jalan yang benar, Bos. Saya yakin mereka pun bangga memiliki anak seperti Bos Rico. Bisa diandalkan.”
“Terima kasih, kamu terlalu memujiku. Sebenarnya aku pun tak sebaik itu,” jawab Rico dengan menyusap air matanya yang tak sadar terjatuh dari pelupuk matanya itu.
“Baiklah, saya pergi kembali, Bos. Bila ada hal yang harus saya kerjakan, langsung hubungi saya, Bos. Saya akan kembali," ucap Erik.
“Istirahatlah! Kamu pasti lelah. Terima kasih sudah cukup membantu. Aku akan transfer bonus untuk kamu,” ucap Rico.
“Terima kasih, Bos.”
Rico mengangguk. Kemudian, dia memilih berdiam diri di sana. Memikirkan langkah selanjutnya yang harus dia ambil. Pusing, tentu saja. Kepalanya terasa pecah. Tangannya dengan cekatan memijat keningnya, mengurangi rasa peningnya yang semakin menjadi.
“Apa yang harus aku perbuat setelah ini? Haruskah aku datang ke tempat papa? Bingung sekali,” lirih Rico, matanya terpejam.
Helaan napas panjang terdengar cukup berat. Rico menyandarkan tubuhnya ke penyangga bangku tersebut, sedikit meredakan rasa terpukulnya yang teramat dalam. Padahal pria itu sebisa mungkin menanamkan rasa ikhlas, sayangnya sedikit gagal.
“Bisakah kamu diam? Kenapa selalu berisik?”
Rico memarahi isi kepalanya sendiri yang terus bergerilya berpikiran terlalu jauh. Jujur, dia tidak suka dengan otaknya, seperti provokasi untuk dirinya merasa minder dan rendah diri. Hati dan pikiran yang semula tenang, malah terombang-ambing layaknya ombak di laut lepas.
“Tenang dahulu, Rico. Temui papa terlebih dahulu. Aku tak mungkin berdiam diri saja di sini dengan meratapi nasibku,” ucap Rico dengan menghela napas panjang.
“Aku harus bertemu dengan papa. Bukannya aku tidak tahu terima kasih jika aku tetap akan berhubungan dengan Karen,” pungkas Rico.
"Maafkan aku, Pa. Untuk masalah Karen, aku mungkin tidak akan mengalah. Tapi yang lainnya aku akan ikuti maunya Papa sebagai balas budiku," gumam Rico dengan dirinya sendiri.
...****************...
__ADS_1