GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 49. Jangan Takut


__ADS_3

Setelah bicara dengan Erick, Rico memutuskan kembali ke rumah sakit mengingat jam sudah menunjukan pukul delapan malam. Dia merasa telah lama meninggalkan Karen.


Dengan membawa makanan kesukaan Karen, dia berjalan menuju lorong rumah sakit. Tadi pagi Karen meminta dibelikan martabak mesir kubang.



Rico mengetuk pintu kamar perawatan Karen sebelum masuk. Mendengar suara pintu di ketuk, wanita itu menjadi cemas. Kembali jantungnya berdetak lebih cepat. Takut jika Arion yang kembali. Dia menepi dan menjauh dari pintu.


Walau pintu kamar telah dia kunci, tapi Karen tetap takut. Dia tahu, Arion bisa melakukan apa saja.


Rico mencoba membuka pintu, tapi tidak bisa karena terkunci. Pria itu menjadi sedikit heran. Tidak biasanya pintu kamar rawat inap ini di kunci.


"Karen ...," panggil Rico. Dia menjadi sangat kuatir. Mendengar suara Rico yang memanggil namanya Karen menjadi senang.


Diputarnya kursi roda menuju pintu. Dengan cepat wanita itu membukanya.


"Rico ...," ucap Karen dengan gemetar. Tangganya pecah membasahi pipi.


Melihat itu, Rico makin kuatir. Dikatakannya makanan ke lantai dan berlutut dihadapkan Karen.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis? Wajahnya pucat, Sayang. Apa ada yang datang mengganggu atau menyakiti kamu?" tanya Rico beruntun.


Karen memeluk leher Rico yang berlutut di depan dirinya. Tangisnya pecah dalam pelukan Rico.

__ADS_1


"Sayang, katakan apa yang terjadi? Jangan buat aku jadi kuatir begini!" ucap Rico.


"Papi Arion," ucap Karen terbata.


Rico merenggangkan pelukannya. Menatap wajah wanita yang dia cintai itu dengan intens.


"Katakan apa yang terjadi? Apa yang Papi lakukan padamu?" tanya Rico dengan kuatir.


"Sepertinya Papi Arion tidak akan mau melepaskan aku begitu saja. Dia mengancam agar aku segera kembali ke rumah setelah pulih. Aku takut jika dia juga mengancam ayah," ucap Karen dengan suara masih gemetar.


Rasanya Karen ingin menghubungi ayahnya. Namun, takut ayahnya jadi makin kuatir. Apa lagi saat ini ayah Rusdi belum tahu jika Karen sakit.


"Kamu jangan takut, aku telah mendaftarkan gugatan cerai kamu dan disertakan bukti-bukti yang memberatkan Papi. Dia tidak akan bisa mengelak lagi."


Rico menggendong tubuh mungil Karen dan mendudukan di sofa. Pria itu mengambil piring dan menyalin martabak yang dibelinya ke piring.


Dengan telaten pria itu menyuapi Karen hingga martabak itu hampir habis.


"Sudah, Rico. Aku sudah kenyang," ujar Karen.


"Saat ini kamu makan untuk dua orang. Seharusnya kamu makan lebih banyak dari biasanya," ujar Rico.


"Tapi aku memang sudah kenyang. Kalau dipaksakan nanti aku bisa muntah."

__ADS_1


"Kalau gitu aku aja yang habiskan."


Rico lalu menghabiskan sisa martabak yang ada di piring hingga habis tak tersisa. Karen melihatnya sambil tersenyum karena Rico yang mau menghabiskan sisa makanannya.


Rico berpindah duduk ke sebelah Karen dan memeluk bahu wanita yang dia cintai itu. Mengecup pipinya sekilas.


"Kamu jangan banyak pikiran. Itu bisa mempengaruhi perkembangan janin kita. Aku sudah katakan jika urusan Papi Arion biar aku yang atasi. Aku pasti bisa menanganinya."


"Aku hanya takut Ayah yang menjadi sasaran kemarahan Papi Arion," ucap Karen sendu.


"Aku sudah meminta seseorang menjaga ayah kamu."


"Maksudnya?"


"Aku minta satu orang bawahanku untuk menjaga dan mengawasi ayah. Tidak ada yang bisa menyakiti Ayah."


"Rico, aku nggak tahu harus memberi apa untukmu. Ucapan terima kasih saja pasti tidak akan cukup. Kamu begitu baik dan perhatian bukan hanya padaku, tapi juga ayahku," ucap Karen terharu. Air matanya jatuh tanpa bisa dia tahan.


Rico menghapus air mata Karen. Mengecup mata wanita itu.


"Tidak perlu berterima kasih, atau memberi aku sesuatu. Cukup berikan cintamu hanya untukku seorang."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2