
Rico berdiri dekat jendela besar yang ada diruangan tempat Karen di rawat. Jendela kaca itu terbentang luas dari atap sampai lantai memampilkan pemandangan kota yang dia saksikan dari lantai ruang rumah sakit tempat kekasihnya terbaring.
Malam gelap sudah menjelang, sehingga yang tampak oleh pandangan Rico saat ini adalah lampu-lampu gedung di sekitar rumah sakit.
Rico masih memikirkan ucapan dari salah seorang anak buahnya. Mereka mengatakan jika Rico pernah tinggal di panti asuhan itu hingga usia dua tahun.
Jika dia anak kandung Papi dan Maminya, kenapa Rico berada di panti asuhan itu hingga berusia dua tahun. Pria itu makin curiga jika dia bukan anak Arion.
Hari ini anak buahnya kembali mendatangi panti asuhan itu. Ingin tahu kemana dia pergi dan dibesarkan di mana setelah usia dua tahun. Rico telah siap menerima kenyataan jika dia bukan putra kandungnya Arion.
Rico tersentak dari lamunannya saat mendengar suara gelas terjatuh. Ternyata itu sentuhan tangan Karen pada gelas yang berada di atas nakas.
Dengan langkah tergesa, Rico berjalan menghampiri Karen yang terus memandangi dirinya. Senyum terus terkembang di bibir pria itu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Rico lembut.
__ADS_1
Karen tersenyum dan itu mampu membuat Rico terharu. Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipinya. Senyuman Karen sudah merupakan kebahagiaan yang tidak terhingga bagi Rico.
Dengan lembut Rico mengecup dahi wanita itu. Duduk di samping Karen dan terus menggenggam tangan wanita itu.
***
Pagi harinya, Rico kembali dikejutkan dengan ucapan dokter yang mengatakan jika kesehatan Karen semakin membaik. Organ vit*l di seluruh tubuhnya telah berfungsi baik.
Saat ini mungkin Karen belum dapat berjalan normal. Terjadi kelumpuhan sementara di tubuh wanita itu. Namun, semua tidak akan lama. Itu hanya efek kekakuan otot karena terbaring lemah selama ini.
Dokter dibantu perawat mencoba membantu Karen untuk duduk. Tubuhnya bersandar dengan kepala ranjang.
"Besok kita mulai terapinya. Saya yakin pemulihan kesehatan Karen tidak akan lama," ucap Dokter meyakinkan.
Setelah dokter menjelaskan semuanya, dan keluar ruangan, Rico mendekati Karen. Memeluk tubuh wanita itu erat.
__ADS_1
"Rico ...," ucap Karen pelan dan masih terbata. Sepertinya dia masih berusaha untuk kembali normal.
Rico merenggangkan pelukannya dan tersenyum manis dengan Karen. Dalam hati pria itu, tidak berhenti mengucapkan syukur atas apa yang terjadi saat ini.
"Sayang, aku nggak tahu harus berkata apa. Yang pasti aku hanya bisa mengucapkan syukur yang tidak terhingga pada Tuhan atas kesembuhan kamu. Aku juga ingin berterima kasih denganmu, karena masih mau bertahan untukku," ujar Rico dengan suara terbata karena terisak.
Karen mengulurkan tangannya perlahan dan mengusap air mata pria yang juga sangat dia cintai. Karen tidak menyangka akan bisa bertemu lagi dengan Rico.
Saat dia dibawa ke desa dan dikurung, Karen mengira dia tidak akan pernah lagi bertemu dengan Rico. Itulah akhirnya dia memutuskan untuk bunuh diri.
"Jangan menangis ...," ucap Karen pelan. Sepertinya masih menyesuaikan diri.
"Aku menangis bahagia, Karen. Aku takut kamu meninggalkanku. Jangan pernah lakukan itu lagi. Apa pun masalah yang dihadapi, yakinlah akan ada jalan keluarnya."
Karen hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Dia mencoba mengingat, apa yang terjadi hingga dia mencoba mengakhiri hidupnya.
__ADS_1
...****************...