GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI

GAIRAH TERLARANG ANAK TIRI
Bab 84. Rumah Kita


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, Rusdi sudah menjelaskan semuanya. Ayahnya itu meminta Karen bisa memafkan Arion secara perlahan. Mencoba menerima kenyataan.


Hari ini Rico sengaja meliburkan diri. Mengajak Karen ke suatu tempat. Dia ingin memberikan kejutan untuk sang istri.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Karen dalam perjalanan.


Rico yang meminta Karen merubah panggilannya. Tidak mungkin memanggil namanya saja setelah mereka resmi menikah.


"Udah Mas katakan, lihat saja. Ini kejutan. Jika dikatakan bukan lagi kejutan namanya!" ucap Rico yang menyetir hanya dengan satu tangan kanan dan tangan kirinya terus menggenggam tangan Karen.


"Sayang, kita sebenarnya kemana. Aku nggak suka rahasia-rahasiaan?" tanya Karen lagi dengan manja sambil menyandarkan kepalanya ke pundak Rico. Tangannya tak lepas menggamit tangan suaminya itu.


Rico mengerling lalu menoleh ke arah wanita yang sangat dia cintai. Lelaki itu tersenyum lebar tanpa mengatakan apa-apa kepada Karen. Membuat wanita itu gemas dibuatnya, lalu cubitan kecil di hidung mancung Rico membuat keduanya tertawa bahagia.


"Kita akan menuju ke suatu tempat, Sayang," ucap Rico pada akhirnya.


"Tempat? Tempat apa?" tanya Karen makin penasaran. Perutnya sudah makin membuncit. Wanita itu semakin manja dengan suaminya.


"Ya tempat nyaman untuk kita dan anak-anak," sahut Rico.


"Maksudmu rumah?" Kali ini Karen menatap Rico dengan sorot mata berbinar. Dengan gemas pria itu mencubit kecil pipi wanita terkasihnya.


"Heem, nanti kamu juga akan tahu," ucap Rico sengaja menggoda istrinya. Karen mengerling manja dan kembali merebahkan kepalanya di bahu Rico.


Mobil yang Rico kendarai berhenti di depan sebuah rumah yang tampak megah. Karen menatap bangunan rumah itu dengan takjub. Kemudian pria itu membukakan pintu mobil dan mengajak istrinya keluar. Dengan wajah senang bercampur bingung Karen mengikuti langkah suaminya memasuki halaman rumah dan menuju teras.

__ADS_1


Mereka melewati taman bunga yang sangat indah. Karen masih mengekor pada Rico saat pria itu mengetuk pintu rumah.


Tidak berapa lama, terdengar langkah kaki mendekat dan membukakan pintu. Wanita paruh baya itu tersenyum dengan Rico dan Karen.


Bibi menyapa Rico dan Karen. Setelah sedikit berbasa basi, Rico masuk ke rumah itu. Wanita itu langsung menuju dapur.


Di dalam ruang tamu rumah itu Rico mencoba menggoda istrinya. Wajah Karen semakin bersemu merah dengan detak di dada yang menguat, saat Rico mulai mendekatkan wajahnya ke arah wanita itu. Deru napas suaminya yang hangat dapat dirasakan oleh Karen, mengempas wajahnya. Tatapan mereka bertemu, saat Rico akan mendekatkan bibirnya ke bibir Karen wanita itu mendorong lelaki yang kini berstatus suaminya itu.


Tubuh Rico mundur satu langkah dengan sebelah alisnya terangkat. Kemudian tawa menyembur dari mulut pria itu, membuat mata Karen hanya berkedip cepat karena bingung. Lantas memukul dada Rico beberapa kali karena baru sadar jika ia dikerjai oleh suaminya.


"Kamu apa-apaan, sih, Sayang," ucap Karen sambil memukul mukul lengan suaminya.


"Maaf, abis kamu ngegemesin," ucap Rico terkekeh.


Tiba di ruang yang dituju, Rico membuka pintunya. Rico menggandeng Karen. Dengan lembut lelaki itu menarik istrinya memasuki sebuah ruangan mewah yang sangat menakjubkan di mata Karen.


Karen membekap mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Rico tahu istrinya berhati lembut, dia lekas mendekap Karen dalam pelukannya.


"Kita akan memulainya dari sini. Keluarga kecil kita, impian kita akan tercipta di sini," bisik Rico.


"Aku sangat bahagia." Karen menatap suaminya penuh cinta. Pertemuan yang tak terduga kembali membawa cinta lama mereka menuju pernikahan yang selama ini mereka impikan. Karen sangat bersyukur akhirnya bisa bersatu dengan Rico , lelaki yang pernah dia sakiti dan akhirnya kini meyakinkan Karen jika pria itu yang pantas mendampingi dirinya.


"Kamu suka?" tanya Rico sambil menangkup wajah cantik istrinya.


"Suka sekali, Sayang. Semua ini kamu yang mendesainnya?" tanya Karen.

__ADS_1


"Heem, kamu suka tatanan rumah kita?"


"Suka sekali. Warna sofa dan interiornya kamu banget, sangat berkelas." Dikata terakhir sengaja Karen berbisik di telinga Rico dan membuat lelaki itu menggeliat geli. Tangan kekar suaminya dengan cepat menggamit pinggul Karen dan mendekapnya dalam pelukan.


"Mau menggodaku?" ucap Rico jahil. Karen lekas mendorong dada suaminya dengan terkekeh.


"Ah, iya. Akan kutunjukan di mana letak kamar anak kita," ujar Rico yang ditanggapi anggukan oleh Karen.


Rico yang melihat itu langsung membawa Karen menuju sebuah kamar. Tubuh Karen dituntun oleh pria itu dengan dorongan lembut menuju daun pintu berwarna biru dengan garis putih di setiap sisinya. Bara membuka pintu itu dan seketika mata Karen membola melihat isi kamar itu.


"Wow, ini sungguh nyata?" Karen berucap lirih sambil membekap mulutnya sendiri. Kristal bening meluncur dari kelopak mata wanita itu, dia sangat terharu dengan perlakuan Rico.


"Kamu sedang tidak bermimpi, Sayang. Ini kamar yang akan anak kita tempati nanti. Kamu suka?" tanya Rico.


"Sangat suka, Sayang.Terima kasih."


"Ah, jangan ucapkan terima kasih. Tapi ucapkan i love you," ujar Rico.


Pipi Karen kembali merona, ia mengusap air matanya yang tadi sempat jatuh dengan punggung tangan. Kemudian Rico mengajak Karen untuk melihat kamar yang lainnya. Tak kalah menakjubkan, Karen dibuatnya tak bisa berkata-kata hanya bibirnya terus mengulas senyum bahagia.


Tanpa aba-aba Rico menggendong Karen dan membawanya ke tempat tidur. Mereka saling pandang sejenak lalu memagut kebahagiaan yang sah dan diridhoi Sang Pencipta.


***


Sejak pulang dari berbulan madu waktu itu antara Karen dan Rico semakin tampak hangat. Panggilan sayang selalu menjadi kata wajib untuk saling menyapa.

__ADS_1


Dari kamarnya, Karen bisa melihat kerlip bintang yang seakan cemburu pada wanita itu yang tengah bahagia.


...****************...


__ADS_2